
Pengaruh Purbaya Effect pada Perekonomian Nasional
Dua bulan sejak menjabat sebagai Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mulai menunjukkan dampak yang nyata terhadap arah perekonomian nasional. Istilah “Purbaya Effect” yang digunakan oleh sejumlah ekonom kini mulai terlihat, terutama melalui peningkatan likuiditas di sektor perbankan dan dorongan terhadap pertumbuhan kredit.
Sunarsip, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI), menyebut langkah cepat Purbaya dalam menempatkan dana pemerintah senilai Rp200 triliun di sistem perbankan telah menjadi katalis penting bagi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025. Dana tersebut disalurkan melalui bank-bank milik negara (Himbara) sejak 12 September 2025, dan kini mulai terserap untuk pembiayaan kredit produktif.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Sejak dana itu masuk, kredit tumbuh dari 6,96% pada Agustus menjadi 7,2%. Bahkan pertumbuhan kredit debitur BUMN melonjak signifikan, dari 1,69% menjadi 10,04%. Itu sinyal positif yang jelas,” ujar Sunarsip dalam forum Katadata Policy Dialogue di Jakarta, Kamis (13/11).
Menurutnya, tanpa tambahan dorongan likuiditas dari kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III yang mencapai 5,04% (year on year) kemungkinan besar tidak akan mampu menembus angka 5 persen.
“Saya berani katakan, tanpa Purbaya Effect, ekonomi kita mungkin stagnan di bawah lima persen,” tegasnya.
Kementerian Keuangan mencatat bahwa penempatan dana pemerintah di perbankan tidak hanya meningkatkan likuiditas, tetapi juga memperluas ruang gerak bank dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif. Efek domino ini kemudian menghidupkan kembali aktivitas dunia usaha dan memperkuat stabilitas sistem keuangan di tengah ketidakpastian global.
Namun, Sunarsip menilai pertumbuhan ekonomi yang terjadi masih belum ditopang sepenuhnya oleh konsumsi rumah tangga, yang menjadi komponen terbesar dalam struktur PDB nasional. “Kalau kita lihat, pertumbuhan ekonomi sekarang lebih banyak disokong oleh konsumsi pemerintah yang tumbuh 5,49%. Konsumsi masyarakat masih stagnan di bawah 5%,” jelasnya.
Ia pun mendorong agar pemerintah mengubah fokus kebijakan ekonomi dari pendekatan berbasis permintaan (demand side) menuju penguatan sektor penawaran (supply side).
“Sudah waktunya memperbaiki sisi suplai—dorong industri, hilangkan hambatan pembiayaan, dan perkuat produksi dalam negeri. Dengan begitu, pertumbuhan bisa lebih berkelanjutan,” ujar Sunarsip menegaskan.
Fokus pada Kepuasan Publik dan Stabilitas Pendapatan
Sementara itu, Lutfi Ridho, Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menilai upaya pemerintah tidak berhenti pada stimulus likuiditas semata. Menurutnya, kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ada pada kepercayaan publik terhadap prospek pendapatan.
“Masyarakat harus yakin bahwa pendapatan mereka ke depan akan membaik. Kalau kepercayaan itu tumbuh, konsumsi otomatis bergerak,” tuturnya.
Lutfi menambahkan bahwa DEN akan terus berfokus membangun optimisme dan stabilitas pendapatan di kalangan kelas menengah. Ia percaya, jika keyakinan masyarakat terhadap ekonomi domestik meningkat, maka konsumsi rumah tangga dapat kembali menjadi motor utama pertumbuhan, bersanding dengan investasi yang diperkirakan akan menjadi pendorong besar di tahun 2026.
Tantangan Masa Depan
Dengan munculnya “Purbaya Effect” yang mulai terasa di berbagai sektor, sinyal pemulihan ekonomi Indonesia tampak semakin jelas. Kini tantangannya adalah menjaga momentum itu agar tidak hanya menjadi efek sesaat, tetapi benar-benar menjadi fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan inklusif.