
Dampak Kebijakan Purbaya Effect pada Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Pembahasan mengenai dampak kebijakan yang dikenal sebagai “Purbaya Effect” mulai terlihat dalam berbagai indikator pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disampaikan oleh Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip dalam sebuah diskusi ekonomi di Jakarta. Ia menegaskan bahwa kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mulai menggerakkan sektor perbankan, khususnya dalam penyaluran kredit kepada badan usaha milik negara (BUMN).
Dalam paparannya, Sunarsip menunjukkan data pertumbuhan kredit yang berubah drastis dalam waktu singkat. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya pertumbuhan kredit perbankan kepada BUMN berada pada level 1,9 persen pada Agustus 2025. Namun pada September 2025, angka tersebut melonjak hingga 10,04 persen. Lonjakan inilah yang menurutnya menjadi bukti konkret bahwa stimulus fiskal dari pemerintah mulai bekerja.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kenapa saya bilang ini Purbaya efek sudah bekerja? Karena sebagian besar sumber pertumbuhan kredit perbankan itu masih dari kepada debitur BUMN. Dari (pertumbuhan) 1,9 persen (Agustus 2025), menjadi 10,04 persen (September 2025),” kata Sunarsip.
Ia menambahkan bahwa kenaikan kredit tidak hanya terjadi pada BUMN, tetapi juga pada sektor swasta, meski peningkatannya tidak terlalu besar. Pada September 2025, kredit swasta tercatat tumbuh 11,12 persen, sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 11,07 persen. Menurut Sunarsip, arah pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kebijakan fiskal mulai tersalurkan secara lebih merata.
Dana Pemerintah di Himbara Jadi Penyokong Utama
Salah satu faktor pendorong naiknya kredit adalah keputusan Menteri Keuangan Purbaya menempatkan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Langkah tersebut bertujuan memperkuat likuiditas, memperbesar ruang perbankan untuk menyalurkan kredit, sekaligus menjadi stimulus fiskal untuk menggerakkan roda ekonomi.
Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit perbankan pada September 2025 mencapai 7,7 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dari Agustus yang berada pada angka 7,56 persen (yoy). Meski kenaikannya tipis, bagi Sunarsip sinyal ini penting.
“Tapi saya berharapnya bisa lebih. Lebihnya itu tidak hanya pada level korporat BUMN, tapi levelnya ke swasta. Karena Pak Purbaya kan selalu bilang, dia ingin mentransmisikan fiskal menjadi katalis pertumbuhan untuk swasta. Karena bagaimanapun jika kita butuh swasta. Karena kredit terbesar kan dari swasta, bukan dari BUMN,” tambahnya.
Menurutnya, jika tidak ada “Purbaya Effect”, pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 kemungkinan besar tidak akan mencapai 5,04 persen. Ia bahkan memberi gambaran ekstrem.
“Bayangkan, dari 1,9 persen tumbuh menjadi 10,04 persen. Mungkin kalau tanpa ini enggak bisa kita (ekonomi tumbuh) 5,04 persen,” ujar Sunarsip.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Lemah, Pemerintah Diminta Ganti Strategi
Meski sektor kredit menunjukkan perbaikan, Sunarsip menilai konsumsi rumah tangga masih menjadi titik lemah pemulihan ekonomi. Pertumbuhan konsumsi masih tertahan di bawah lima persen, padahal komponen ini merupakan penyumbang terbesar pembentukan PDB nasional.
Ia menyebut beberapa sektor industri belum sepenuhnya pulih pascapandemi COVID-19 sehingga daya beli publik tidak bergerak secara signifikan. Karena itu, ia menyarankan agar pemerintah menggeser fokus kebijakan.
“Kalau saya, lebih baik perbaiki sisi supplynya, bukan demand,” ujarnya.
Menurut analisisnya, memperkuat sisi supply berarti mempercepat pemulihan industri, menambah kapasitas produksi, memperlancar distribusi, serta memperbaiki ekosistem usaha. Dengan suplai yang kuat, ia meyakini permintaan akan ikut terangkat.
DEN: Kunci Utama Ada di Kepercayaan Publik
Pada kesempatan yang sama, Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Lutfi Ridho menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya memperkuat konsumsi rumah tangga. Baginya, persoalan bukan hanya tentang besaran stimulus, tetapi tentang keyakinan masyarakat terhadap pendapatan mereka.
“Mereka harus yakin terutama keyakinan pendapatan di masa yang akan datang,” kata Lutfi.
Ia menegaskan bahwa DEN akan fokus pada peningkatan optimisme publik. Bila masyarakat percaya pendapatan mereka akan stabil atau meningkat, mereka akan lebih berani membelanjakan uangnya. Hal itu akan membantu menggerakkan kembali konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi.
Namun Lutfi mengingatkan bahwa untuk tahun depan, investasi masih akan menjadi pendorong pertumbuhan yang lebih kuat meskipun konsumsi diproyeksikan membaik.