
Kepala Ekonom Bank Sentral Asia, David Sumual, menyampaikan bahwa produk domestik bruto (PDB) nasional berpotensi mengalami penurunan akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi di Pulau Sumatera. Berdasarkan data dari tim riset BCA, konsumsi masyarakat di beberapa provinsi di Sumatera akan mengalami penurunan signifikan. Di Sumatera Barat, konsumsi turun sebesar 25,53% atau setara dengan Rp 3,8 triliun. Sementara itu, di Sumatera Utara, penurunan konsumsi mencapai 22,31% atau sekitar Rp 11,8 triliun. Di Aceh, penurunan konsumsi mencapai 23,92% atau sekitar Rp 2,8 triliun.
Dengan asumsi belanja masyarakat terus menurun hingga Desember 2025, dampak dari bencana tersebut diperkirakan dapat menurunkan PDB nasional sebesar 0,31% atau sekitar Rp 18,58 triliun pada kuartal IV-2025. David menjelaskan bahwa penurunan PDB bisa terjadi karena berbagai faktor seperti penurunan konsumsi dan produksi. Hal ini disampaikannya dalam acara Bincang Bareng BCA-Proyeksi Ekonomi 2026 di Jakarta, Senin (15/12).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam perhitungannya, pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera pada kuartal I-2026 masih akan tertekan karena jalur logistik di tiga daerah terdampak bencana masih terganggu. Hal ini menyebabkan produksi tidak optimal. Namun, mulai kuartal II-2026, perekonomian di pulau tersebut diharapkan mulai bangkit melalui upaya rekonstruksi yang dilakukan pemerintah.
Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Pulau Sumatera pada kuartal III-2025 sebesar 4,9%. Dari daerah terdampak bencana, Aceh mencatat pertumbuhan sebesar 4,5%, Sumatera Barat 3,4%, dan Sumatera Utara 4,6%.
Banjir di Sumatera diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap laju pertumbuhan ekonomi. Target pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025 juga terancam. Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berpotensi lebih buruk dibandingkan tahun 2025. Beberapa faktor yang menjadi penyebabnya antara lain ketidakstabilan ekonomi global dan risiko krisis serupa dengan tahun 2008.
David juga melakukan perhitungan terkait biaya rekonstruksi untuk penanganan bencana di Sumatera, yang diperkirakan mencapai kisaran Rp 50 triliun hingga Rp 70 triliun. "Kemungkinan biaya bisa lebih tinggi karena ada tiga provinsi yang terdampak dan hujan deras masih terus terjadi. Ini bisa menyebabkan masalah logistik tambahan," ujarnya.
Pemerintah tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi nasional dapat mencapai target 5,4%. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa meskipun bencana longsor dan banjir memengaruhi pertumbuhan ekonomi di tiga provinsi, target pertumbuhan nasional masih dapat tercapai. "Perekonomian di provinsi lain akan terus didorong agar mencapai rentang target tersebut," kata Airlangga beberapa waktu lalu.
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa jumlah perekonomian di tiga provinsi tersebut mencapai Rp 469,43 triliun pada kuartal ketiga tahun ini. Angka ini setara dengan 7,75% dari total perekonomian nasional pada Juli-September 2025 senilai Rp 6.060 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga yakin bahwa dampak bencana banjir di Sumatera hanya akan memberikan pengaruh terbatas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia menjelang akhir 2025. "Akan berdampak, tapi tidak sampai memperlambat secara signifikan," katanya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (4/12). Ia menjelaskan bahwa ekonomi tetap akan terdongkrak karena perbaikan fasilitas yang terdampak banjir terus dilakukan. Hal ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara perlahan.