
Kinerja Ekonomi Indonesia Tahun Ini Dinilai Belum Mencapai Harapan
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, menyampaikan bahwa konsolidasi pemerintah dan realokasi anggaran ke program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta Badan Pengelola Investasi Daya Anak Nusantara atau Danantara belum terlihat dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. Ia menilai pertumbuhan ekonomi pada semester pertama tahun ini tidak sesuai dengan harapan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Pertumbuhan kita relatif tidak sesuai harapan,” ujarnya saat berbicara kepada awak media di Jakarta, Senin, 15 Desember 2025.
David menjelaskan bahwa peran Danantara dalam tahun pertamanya belum menunjukkan hasil optimal karena masih dalam tahap penyesuaian dan perbaikan internal. Lembaga yang dibentuk pada Februari 2025 ini baru saja menyusun rencana investasi. “Kami berharap tahun depan bisa lebih optimal, sehingga mampu menggerakkan ekonomi pada 2026,” katanya.
Rencana investasi tersebut, kata David, terlihat dari berbagai program seperti waste to-energy dengan nilai investasi sebesar Rp 66-99 triliun, kilang minyak Tuban senilai Rp 168 triliun, 18 proyek tambang hilirisasi sebesar US$ 38,6 miliar, konsolidasi BUMN senilai Rp 50 triliun, serta infrastruktur digital sebesar Rp 15 triliun.
Di samping itu, Danantara juga telah menerbitkan Patriot Bonds atau surat utang senilai Rp 51,75 triliun untuk membiayai investasi tersebut. “Danantara akan mendorong investasi pada 2026, tetapi masih dibayangi potensi crowding out,” ujarnya.
Dampak Bencana Alam pada Pertumbuhan Ekonomi
Pada kuartal IV 2025, David mengatakan Indonesia berpotensi kehilangan 0,32 persen atau Rp 18,58 triliun peluang pertumbuhan akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kondisi ini terjadi karena masyarakat terdampak bencana otomatis menurunkan daya beli. “Efek konsumsi pasca-bencana berpotensi menurunkan sebesar 0,31 persen,” katanya.
David merinci, konsumsi wilayah Sumatera Barat diproyeksikan menurun 25,53 persen atau Rp 3,8 triliun, Sumatera Utara turun 22,31 persen atau Rp 11,8 triliun, dan Aceh turun 23,92 persen atau Rp 2,8 triliun. Pada kuartal III 2025, Aceh menyumbang 1,16 persen terhadap PDB, Sumatera Utara 4,85 persen, dan Sumatera Barat 1,49 persen. “Dengan asumsi belanja masyarakat terus terpuruk hingga Desember 2025,” ujarnya.
Proyek-Proyek Strategis yang Diharapkan Menggerakkan Ekonomi
Beberapa proyek strategis yang dicanangkan oleh Danantara diharapkan dapat menjadi penggerak utama bagi perekonomian nasional. Berikut beberapa proyek besar yang sedang dalam proses:
- Waste to Energy: Program ini memiliki nilai investasi sebesar Rp 66-99 triliun.
- Kilang Minyak Tuban: Investasi mencapai Rp 168 triliun.
- Proyek Tambang Hilirisasi: Terdiri dari 18 proyek dengan total investasi sebesar US$ 38,6 miliar.
- Konsolidasi BUMN: Dianggarkan sebesar Rp 50 triliun.
- Infrastruktur Digital: Investasi mencapai Rp 15 triliun.
Selain itu, Danantara juga telah menerbitkan Patriot Bonds senilai Rp 51,75 triliun untuk mendanai berbagai proyek tersebut. Meskipun demikian, David mengingatkan bahwa potensi crowding out masih menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi di masa depan.