Ekonom Peringatkan Bahaya Proyek Investasi Danantara 2026

admin.aiotrade 16 Des 2025 3 menit 16x dilihat
Ekonom Peringatkan Bahaya Proyek Investasi Danantara 2026


Ekonom menyampaikan perhatian terhadap proyek investasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang direncanakan berjalan pada tahun 2026. Mereka menilai bahwa proyek ini masih dibayangi potensi risiko crowding out, yaitu fenomena di mana peningkatan belanja pemerintah, sering kali dibiayai melalui pinjaman, menyebabkan penurunan signifikan dalam investasi dan pengeluaran sektor swasta. Hal ini terjadi karena penyerapan sumber daya keuangan yang tersedia dan kenaikan suku bunga.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, mencatat bahwa belum ada proyek Danantara yang benar-benar berjalan. Padahal, pemerintah telah merealokasi dividen BUMN ke Danantara serta alokasi anggaran ke program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kebijakan investasi belum memberikan hasil optimal tahun ini. Ia berharap proyek-proyek Danantara dapat berjalan lebih maksimal pada 2026, seperti proyek waste to energy, kilang, dan pertambangan, sehingga diharapkan mampu menggerakkan perekonomian.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Selain itu, David menilai fokus Danantara selama tahun ini masih tertuju pada konsolidasi internal, termasuk restrukturisasi, pembenahan organisasi hingga proses rekrutmen sumber daya manusia. Ia juga menilai sejumlah program pendanaan, seperti penerbitan Patriot Bond, perlu segera direalisasikan. Pasalnya, instrumen ini diserap oleh perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berikut beberapa proyek Danantara yang telah direncanakan:

  • Waste-to-energy (WtE)
    Pilot 8 PSEL, total 33 PSEL
    Estimasi investasi: Rp 66 triliun – Rp 99 triliun

  • Kilang minyak Tuban (Grass Root Refinery)
    Kapasitas 500 ribu barel/hari (Pertamina)
    Estimasi investasi: Rp 168 triliun (bagian Danantara)

  • 18 Proyek Tambang Hilirisasi
    Nikel, bauksit, tembaga (kerjasama BUMN)
    Estimasi investasi: US$ 38,6 miliar

  • Konsolidasi bisnis BUMN
    Konstruksi, pupuk, RS, hotel, gula, mineral, dll. (termasuk restrukturisasi Krakatau Steel)
    Estimasi investasi: Rp 50 triliun

  • Digital infrastructure
    Pengembangan data center dan jaringan 5G
    Estimasi investasi: Rp 15 triliun

David menyampaikan bahwa jika program-program ini tidak berjalan, maka akan berbahaya. Sebab, perusahaan-perusahaan terdaftar di BEI yang menyubscribe ke Patriot Bond mungkin tadinya ingin menggunakan dana ini untuk ekspansi.

David menyebut beberapa proyek telah memiliki kepastian untuk berjalan, salah satunya Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WTE). Namun, ia menyoroti adanya risiko crowding out jika dana Patriot Bond terlalu lama ditempatkan pada Surat Utang Negara (SUN), tanpa segera dialokasikan ke proyek-proyek riil.

Pemanfaatan Dana Patriot Bond
Patriot Bond Danantara sebelumnya mencatatkan oversubscribed atau kelebihan permintaan hingga Rp 51,75 triliun. Nantinya uang ini digunakan untuk proyek waste-to-energy atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Dengan skema itu, Danantara akan membeli saham perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas WTE dalam mendanai proyek tersebut.

Pemerintah telah menghimpun dana segar lebih dari Rp 50 triliun dari penerbitan surat utang negara kepada konglomerat atau Patriot Bond. Meski begitu, CIO BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir belum memastikan seberapa besar kontribusi Patriot Bond dalam skema pembiayaan ekuitas itu.

"Sejauh ini ada perusahaan pengelola WTE yang berencana mempertahankan kepemilikannya 51% atau lebih. Kami akan mendiskusikan hal ini lebih lanjut, namun target kami adalah agar proyek ini selesai tepat waktu," kata Pandu di kantornya, bulan lalu (3/11).

Pandu memberikan sinyal bahwa kepemilikan Danantara dalam setiap WTE setidaknya mencapai 30%. Namun kepemilikan saham tidak akan menjadi fokus utama selama setiap proyek WTE selesai tepat waktu pada kuartal pertama tahun depan. Pandu menghitung mayoritas pendanaan proyek WTE akan berasal dari utang perbankan atau mencapai 70%.

Ia juga menyampaikan, saat ini telah banyak bank yang tertarik untuk menyediakan pendanaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dia menilai tingginya minat perusahaan untuk berkontribusi dalam program WTE menunjukkan tingginya tingkat pengembalian investasi secara komersial. Akan tetapi, Pandu tidak memerinci persentase pengembalian investasi yang dimaksud.

"Secara formasi modal, proyek WTE termasuk bagus karena banyak bank swasta nasional, bank asing, maupun bank pelat merah yang berminat. Proyek ini akan menjadi contoh pendanaan proyek dengan skema crowding-in," katanya.

Kemudian ada sinyal bahwa Danantara tengah meluncurkan Patriot Bond Jilid II dengan nilai Rp 15 triliun bertenor 5 dan 7 tahun dengan kupon 2%.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan