
Ekonom mengingatkan bahwa proyek investasi Badan Pengelola Investasi Daya Anugrah Nusantara atau BPI Danantara pada 2026 masih menghadapi risiko yang cukup signifikan. Salah satu risiko utama yang disebutkan adalah crowding out, yaitu fenomena di mana peningkatan belanja pemerintah, terutama yang dibiayai melalui pinjaman, dapat menyebabkan penurunan investasi dan pengeluaran sektor swasta. Hal ini terjadi karena ketersediaan sumber daya keuangan berkurang serta suku bunga cenderung meningkat.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai bahwa hingga saat ini belum ada proyek Danantara yang benar-benar berjalan secara optimal. Meskipun pemerintah telah merealokasi dividen BUMN ke Danantara dan alokasi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), dampaknya belum terlihat signifikan. Menurut David, kebijakan investasi yang diterapkan belum memberikan hasil yang maksimal tahun ini.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
David berharap proyek-proyek Danantara, seperti waste to energy, kilang, dan pertambangan, dapat berjalan lebih baik pada 2026. Proyek tersebut diharapkan mampu memacu pertumbuhan ekonomi. Namun, ia juga menyoroti bahwa fokus Danantara selama tahun ini masih terletak pada konsolidasi internal, termasuk restrukturisasi, pembenahan organisasi, hingga proses rekrutmen sumber daya manusia.
Selain itu, David menilai beberapa program pendanaan, seperti penerbitan Patriot Bond, perlu segera direalisasikan. Instrumen ini, menurutnya, diserap oleh perusahaan-perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jika tidak segera dialokasikan ke proyek riil, hal ini bisa berpotensi memicu risiko crowding out.
Berikut beberapa proyek utama yang akan dikerjakan oleh Danantara:
- Waste-to-energy (WtE)
- Pilot 8 PSEL, total 33 PSEL
-
Estimasi investasi: Rp 66 triliun – Rp 99 triliun
-
Kilang Minyak Tuban (Grass Root Refinery)
- Kapasitas 500 ribu barel/hari (Pertamina)
-
Estimasi investasi: Rp 168 triliun (bagian Danantara)
-
18 Proyek Tambang Hilirisasi
- Nikel, bauksit, tembaga (kerjasama BUMN)
-
Estimasi investasi: US$ 38,6 miliar
-
Konsolidasi Bisnis BUMN
- Termasuk konstruksi, pupuk, RS, hotel, gula, mineral, dll. (termasuk restrukturisasi Krakatau Steel)
-
Estimasi investasi: Rp 50 triliun
-
Digital Infrastructure
- Pengembangan data center dan jaringan 5G
- Estimasi investasi: Rp 15 triliun
David mengingatkan bahwa jika proyek-proyek ini tidak berjalan sesuai harapan, maka akan berdampak negatif. Misalnya, perusahaan-perusahaan terdaftar di BEI yang membeli Patriot Bond mungkin ingin menggunakan dana tersebut untuk ekspansi usaha mereka.
Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WTE) salah satu proyek yang sudah memiliki kepastian untuk berjalan. Namun, David tetap menyoroti risiko crowding out jika dana Patriot Bond terlalu lama ditempatkan pada Surat Utang Negara (SUN) tanpa segera dialokasikan ke proyek riil.
Pemanfaatan Dana Patriot Bond
Patriot Bond Danantara sebelumnya mencatatkan oversubscribed atau kelebihan permintaan hingga Rp 51,75 triliun. Uang ini akan digunakan untuk proyek waste-to-energy atau pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa).
Dengan skema ini, Danantara akan membeli saham perusahaan patungan yang mengoperasikan fasilitas WTE dalam mendanai proyek tersebut. Pemerintah telah menghimpun dana segar lebih dari Rp 50 triliun dari penerbitan surat utang negara kepada konglomerat atau Patriot Bond.
CIO BPI Danantara Pandu Patria Sjahrir belum memastikan seberapa besar kontribusi Patriot Bond dalam skema pembiayaan ekuitas itu. Ia menyatakan bahwa sejauh ini ada perusahaan pengelola WTE yang berencana mempertahankan kepemilikannya 51% atau lebih. Target utama adalah agar proyek ini selesai tepat waktu.
Pandu memberikan sinyal bahwa kepemilikan Danantara dalam setiap WTE setidaknya mencapai 30%. Namun, kepemilikan saham tidak akan menjadi fokus utama selama proyek WTE selesai tepat waktu pada kuartal pertama tahun depan. Pandu menghitung mayoritas pendanaan proyek WTE akan berasal dari utang perbankan atau mencapai 70%.
Ia juga menyampaikan bahwa saat ini telah banyak bank yang tertarik untuk menyediakan pendanaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Dia menilai tingginya minat perusahaan untuk berkontribusi dalam program WTE menunjukkan tingginya tingkat pengembalian investasi secara komersial.
Secara formasi modal, proyek WTE termasuk bagus karena banyak bank swasta nasional, bank asing, maupun bank pelat merah yang berminat. Proyek ini akan menjadi contoh pendanaan proyek dengan skema crowding-in.
Danantara juga tengah meluncurkan Patriot Bond Jilid II dengan nilai Rp 15 triliun bertenor 5 dan 7 tahun dengan kupon 2%.