Ekonom Prediksi BI Pertahankan Suku Bunga 4,75 Persen

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 13x dilihat
Ekonom Prediksi BI Pertahankan Suku Bunga 4,75 Persen

Prediksi BI Rate pada RDG Desember 2025

Sejumlah ekonom memperkirakan bahwa Bank Indonesia (BI) akan kembali mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025. Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menyatakan bahwa kemungkinan besar BI akan mempertahankan BI rate di level 4,75 persen pada RDG bulan ini.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Namun, ia juga mengakui bahwa peluang penurunan masih terbuka dengan probabilitas yang relatif seimbang. Menurutnya, meskipun peluangnya 50-50, kemungkinan besar BI akan memilih untuk menahan suku bunga tersebut.

Perkiraan ini didasarkan pada kebijakan suku bunga Amerika Serikat (Fed Funds Rate), yang pada 11 Desember 2025 lalu mengalami penurunan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75 persen. Sepanjang tahun 2025, The Fed telah menurunkan Fed Funds Rate sebanyak 75 bps dari semula sebesar 4,25-4,5 persen.

David menjelaskan bahwa meskipun penurunan Fed Funds Rate baru terjadi di Semester II 2025, BI telah lebih dulu melakukan penurunan BI rate sejak Januari 2025. Terhitung sepanjang tahun ini, BI telah menurunkan BI rate sebanyak lima kali dengan total penurunan 125 bps dari 6 persen menjadi 4,75 persen.

"Kita sebenarnya sudah melakukan front loading ya. Kita udah nurunin 5 kali, bahkan sudah 150 basis poin kalau dihitung sejak tahun lalu," ujarnya.

Pandangan dari Teuku Riefky

Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai bahwa BI rate akan tetap bertahan di level 4,75 persen. Ia menegaskan bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakan pada level tersebut dalam Rapat Dewan Gubernur terakhir tahun 2025, sambil tetap waspada dan siap mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pertimbangan ini berdasarkan pelambatan inflasi dari 2,86 persen (yoy) menjadi 2,72 persen (yoy) pada November 2025. Tingkat inflasi ini masih berada di kisaran atas target BI sebesar 1,5-3,5 persen dan relatif tinggi dibandingkan awal tahun.

"Moderasi inflasi pada November terutama didorong oleh berkurangnya tekanan harga pangan seiring dengan upaya stabilisasi pasokan yang mampu mengimbangi kenaikan ringan pada harga yang diatur pemerintah," jelasnya.

Dampak dari Penurunan Fed Funds Rate

Dari sisi eksternal, kombinasi penurunan Fed Funds Rate oleh The Fed dan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada RDG November 2025 telah mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia. Sejak 19 November, Indonesia mencatat arus modal masuk sebesar 0,37 miliar dollar AS di instrumen surat berharga dan 0,38 miliar dollar AS di pasar saham domestik, sehingga secara kumulatif, Indonesia mengalami arus modal asing masuk mencapai 0,75 miliar dollar AS hingga 12 Desember lalu.

Permintaan asing terhadap aset denominasi rupiah relatif terkonsentrasi pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan tenor kurang dari satu tahun ketimbang surat utang pemerintah lainnya dengan tenor yang lebih panjang. Akibatnya, imbal hasil surat utang pemerintah dengan tenor yang lebih panjang cenderung meningkat.

Sejak 17 November hingga 15 Desember, imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun meningkat sebesar 5 bps dari 6,17 persen ke 6,22 persen. Demikian pula dengan imbal hasil surat utang pemerintah tenor 1 tahun yang meningkat dengan skala lebih besar, yaitu sebesar 34 bps dari 4,59 persen menjadi 4,93 persen pada periode yang sama.

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah

Dampaknya, nilai tukar rupiah menguat sebesar 0,11 persen (mtm) dalam 30 hari terakhir dan berada pada level Rp 16.652 per dollar AS pada 15 Desember lalu. Namun, rupiah masih berada pada zona pelemahan terhitung sejak awal tahun ini.

Secara year to date, nilai tukar mata uang Indonesia telah melemah sebesar 3,6 persen dan memiliki performa yang lebih buruk dibandingkan sebagian besar mata uang negara berkembang.

"Mempertimbangkan perkembangan terkini pada inflasi dan nilai tukar, pemotongan suku bunga oleh BI berisiko memicu naiknya tekanan inflasi dan berpotensi mendorong pelemahan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, kami berpandangan bahwa BI perlu menahan suku bunga acuannya," ujar Riefky.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan