
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah seringkali hanya dianggap sebagai inisiatif sosial. Namun, di balik program tersebut terdapat potensi ekonomi yang signifikan dan berdampak langsung pada masyarakat.
Harryadin Mahardika, seorang ekonom sekaligus mantan Direktur Program Magister Manajemen FEB UI, menjelaskan bahwa tujuan utama dari MBG adalah menciptakan dampak tidak langsung atau multiplier effect yang dapat mengubah perekonomian di tingkat daerah. “MBG bukan sekadar memberikan nutrisi. Hal yang lebih penting lagi adalah perputaran ekonomi langsung ke sektor riil, khususnya di desa-desa,” ujarnya.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Menurut Harryadin, alokasi anggaran sekitar Rp 300 triliun setahun untuk MBG memiliki potensi dampak ekonomi yang tiga kali lipatnya, yaitu sebesar Rp 900 triliun. Dampak ini berasal dari berbagai sektor yang terlibat dalam program ini.
Salah satu dampak langsung dari MBG adalah penciptaan lapangan kerja. Dari 22 ribu dapur yang saat ini beroperasi, setiap dapur memiliki minimal 30 pegawai. Dengan demikian, total tenaga kerja yang terserap mencapai lebih dari 600 ribu orang. Di Kota Surakarta, misalnya, 73,7 persen tenaga kerja SPPG didominasi oleh warga lokal, terutama ibu rumah tangga di sekitar lokasi. Selain itu, upah yang diberikan kepada pegawai SPPG sedikit lebih tinggi dari UMR setempat, sehingga menjaga daya beli masyarakat lokal tetap meningkat.
“Pegawai SPPG dibayar harian, tapi jika dikalkulasikan, mereka hampir selalu diupah lebih besar dari UMR daerahnya,” kata Harryadin.
Selain penciptaan lapangan kerja, MBG juga menjadi berkah bagi petani dan peternak lokal. Konsep ideal dari program ini memastikan bahwa SPPG membeli bahan baku langsung dari produsen lokal. Dengan mempersempit rantai distribusi, petani dan peternak yang biasanya menjual murah ke pengepul atau tengkulak kini bisa langsung menjual produknya ke SPPG dengan harga pasar yang lebih baik.
“Satu SPPG yang membelanjakan Rp 10.000 untuk 3.000 porsi per hari menciptakan perputaran ekonomi lokal hingga Rp 30 juta per hari,” tambah Harryadin.
Di Kota Surakarta, Jawa Tengah, terdapat 19 SPPG yang beroperasi. Perputaran ekonomi yang beredar di SPPG Kota Surakarta sendiri mencapai Rp 570 juta setiap harinya.
Tidak hanya itu, dampak ekonomi tidak langsung dari MBG juga dirasakan oleh masyarakat. Dari sisi orang tua siswa, uang jajan anak sekolah kini bisa ditabung atau dialokasikan ke kebutuhan lain. Selain itu, MBG juga memicu tumbuhnya jasa bengkel mobil dan service elektronik lokal karena adanya kebutuhan perawatan rutin peralatan dapur SPPG seperti barang elektronik dan mobil angkutan.
MBG juga berdampak terhadap industri konstruksi. Dengan target pembangunan 30 ribu SPPG, program ini akan menyerap tenaga kerja dan material konstruksi dalam jumlah besar. Terakhir, pemanfaatan limbah dapur SPPG seperti sisa makanan menjadi pakan ternak atau pupuk kompos. Kedua komponen tersebut menciptakan nilai tambah baru bagi petani dan peternak lokal.
Dari dampak langsung dan tidak langsung MBG, secara makroekonomi, Harryadin memperkirakan bahwa program ini mampu menyumbang sebesar 0,15 persen–0,20 persen bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Jika kuartal III kemarin kita tumbuh 5,04 persen, dengan adanya tambahan efek ekonomi dari MBG, harapannya negara bisa tumbuh di angka 5,1 persen–5,2 persen di akhir tahun ini. Program ini revolusioner. Ini kesempatan kita untuk mengawasi dan mengerjakannya bersama-sama. Jangan skeptis, karena pada kenyataannya tidak ada yang dirugikan di sini, semua diuntungkan,” tutupnya.