
Kepala Ekonom Permata Bank: Risiko Arus Keluar Modal Masih Terkendali
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan bahwa risiko arus keluar modal (outflow) relatif masih terkendali jika terjadi pemangkasan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen pada Oktober ini. Menurutnya, risiko outflow cenderung dapat dikelola untuk pemangkasan kecil asalkan diiringi dengan bauran kebijakan yang agresif.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Pemangkasan BI-Rate sebesar 25 bps perlu diiringi dengan intervensi terukur menggunakan berbagai instrumen, baik di pasar spot maupun melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF),” ujar Josua saat dihubungi di Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Ia menekankan pentingnya intervensi tersebut karena telah terbukti efektif dalam menahan tekanan di pasar valas saat terjadi outflow besar. Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga perlu menjaga daya tarik instrumen berdenominasi rupiah jangka pendek, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), melalui operasi pasar serta pemberian panduan imbal hasil yang jelas agar investor tidak melakukan aksi keluar secara bersamaan.
Upaya Stabilisasi dan Penyempitan Bunga Riil
Untuk memperkuat upaya stabilisasi, Josua menyarankan meningkatkan bantalan cadangan devisa melalui penarikan pinjaman atau penerbitan obligasi valas pemerintah yang telah direncanakan. Hal ini dapat membantu menstabilkan ekspektasi pasar.
Di sisi lain, BI perlu menyampaikan narasi komunikasi yang jelas bahwa penurunan suku bunga ini merupakan langkah “kalibrasi” yang terukur, bukan pelonggaran tanpa batas. Bank sentral juga harus menegaskan bahwa arah kebijakan selanjutnya akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi (data-dependent).
Josua menilai ada peluang untuk penurunan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen yang akan diumumkan dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober ini. Ruang kebijakan tersebut terbuka karena inflasi inti tetap terkendali dan tingkat suku bunga riil (real rate) masih cukup tinggi.
Dengan BI-Rate 4,75 persen dan ekspektasi inflasi inti ke depan yang rendah, ruang untuk mempersempit bunga riil masih ada tanpa mengorbankan stabilitas harga. Permintaan domestik yang belum sepenuhnya pulih juga membuat penurunan suku bunga dapat membantu mendorong konsumsi dan kredit.
Likuiditas Perbankan yang Membaik
Likuiditas perbankan yang membaik membuat transmisi kebijakan moneter semakin efektif, sehingga penurunan bunga lebih cepat tersalurkan ke sektor riil. Di sisi lain, Josua menilai tekanan terhadap rupiah relatif terjaga meskipun terjadi outflow. Hal ini didukung oleh surplus perdagangan komoditas, intervensi BI di pasar spot dan DNDF, serta faktor revaluasi cadangan devisa yang memberikan ruang lebih aman ketika BI memangkas suku bunga.
Namun, jika BI menahan suku bunga di level 4,75 persen, Josua mengatakan langkah itu kemungkinan didasari beberapa pertimbangan. Penundaan dapat menjadi upaya mengelola sinyal ke pasar setelah pemangkasan sebelumnya dibaca sebagai toleransi terhadap pelemahan rupiah yang memicu lonjakan hedging.
BI juga dapat memilih menunggu kejelasan keputusan The Fed, mengingat jadwal FOMC yang berdekatan agar diferensial suku bunga tidak menyempit terlalu jauh. Dari sisi teknis, penahanan suku bunga juga memberi waktu bagi BI untuk mengelola arus portofolio dan likuiditas domestik di tengah meningkatnya jatuh tempo SRBI pada Oktober–November.