
Kebijakan Ekonomi yang Berbasis Nasionalisme
Kebijakan ekonomi yang digagas oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dinilai mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional yang mandiri. Dua narasumber dalam podcast Tribun Business Forum menilai bahwa arah kebijakan pemerintahan saat ini sejalan dengan semangat nasionalisme ekonomi dan kemandirian bangsa.
Podcast Tribun Business Forum ini disiarkan melalui kanal YouTube Tribun Timur dengan tema “Purbaya dan Dilema Suku Bunga: Antara Pertumbuhan dan Risiko.” Hadir sebagai narasumber, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel Satriya Madjid dan Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin Prof Marsuki DEA, serta dipandu oleh host Tribun Timur, I Luh Devi Sania.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Semangat Nasionalisme dalam Kebijakan Ekonomi
Prof Marsuki menilai kebijakan ekonomi pemerintahan baru menunjukkan semangat nasionalisme yang kuat. “Yang saya senang dari kebijakan pemerintahan baru ini adalah semangat nasionalismenya. Pemerintah ingin mengembalikan kesadaran bahwa bangsa ini harus mandiri, mandiri pangan, mandiri energi, dan mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Menurutnya, kesadaran untuk berdiri di atas kaki sendiri merupakan modal dasar yang sangat penting. “Kita mulai sadar bahwa selama ini ada hal-hal membuat kita tergantung dan tidak bisa mandiri,” jelasnya.
Peran Pemimpin dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi
Satriya Madjid menyebut dalam kondisi global yang tidak menentu, Indonesia membutuhkan sosok seperti Purbaya di berbagai kementerian strategis. “Arah kebijakan pemerintah saat ini sudah jelas, yaitu nasionalisme dan kemandirian bangsa. Kita ingin membangun kekuatan ekonomi dari dalam, memanfaatkan potensi anak bangsa sendiri,” jelasnya.
Satriya menegaskan, untuk mewujudkan kemandirian ekonomi nasional, dibutuhkan pemimpin di setiap sektor yang memiliki semangat dan keberanian seperti Purbaya. “Pemimpin yang tidak hanya pandai merancang kebijakan, tetapi juga memahami kondisi nyata di lapangan,” katanya.
Pentingnya Dialog Terbuka antara Pemerintah dan Pelaku Usaha
Prof Marsuki menekankan bahwa bagi pengusaha, yang paling dibutuhkan adalah kepastian, baik kepastian regulasi, arah kebijakan, maupun waktu implementasinya. “Saya sangat setuju dengan imbauan dari Kadin agar Kementerian Keuangan membuka dialog terbuka dengan berbagai pihak, tidak hanya pengusaha, tapi juga perbankan,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi pernyataan niat atau wacana besar, tapi detail kebijakan dan waktu implementasi yang jelas.”
Contoh Kebijakan yang Tepat
Satriya Madjid memberikan contoh kebijakan yang tepat, seperti larangan impor pakaian bekas. “Itu langkah tepat, karena kita punya industri tekstil yang besar, dengan bahan baku dan sumber daya manusia yang memadai. Kenapa harus bergantung pada produk luar kalau kemampuan kita sendiri bisa memenuhi kebutuhan nasional?” tanyanya.
Ia juga menyebutkan tentang hilirisasi, seperti contoh keberhasilan di beberapa daerah, misalnya pabrik smelter di Luwuk yang seluruh insinyurnya anak bangsa sendiri. “Itu bukti nyata bahwa kita mampu. Maka seharusnya ke depan, pemerintah memberikan ruang yang lebih besar kepada industri dan tenaga kerja lokal untuk mengelola sentra-sentra produksi strategis,” tambahnya.
Tantangan dalam Ekspor dan Hilirisasi
Prof Marsuki menyampaikan bahwa ekspor kita belum banyak berasal dari produk olahan yang maju. “Sebagian besar masih berupa setengah olahan atau bahkan produk mentah yang sifatnya sangat konvensional,” ujarnya.
Namun, ia menyoroti bahwa ekspor dari sektor tambang sebenarnya masih menjadi tulang punggung utama. “Kita memang harus jujur mengakui bahwa ekspor kita belum banyak berasal dari produk olahan yang maju,” katanya.
Kesadaran Kolektif Kebangsaan
Satrya Madjid menegaskan bahwa semangat nasionalisme itu sudah mulai ditunjukkan oleh Pak Prabowo. “Dalam beberapa kunjungan ke luar negeri, beliau menunjukkan posisi Indonesia yang strategis, ingin menegaskan bahwa kita bukan bangsa yang bisa dianggap kecil,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Sekarang tantangannya, bagaimana kita yang di dalam negeri ini ikut memperkuat semangat itu, dengan bekerja nyata, membangun industri kita sendiri, dan memberi ruang kepada anak-anak bangsa untuk membuktikan kemampuan mereka.”
Harapan untuk Pemerintah, Masyarakat, dan Pelaku Usaha
Prof Marsuki menyampaikan rasa salut dan apresiasi terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah yang saat ini menurutnya berbasis nasionalisme. “Artinya, kebijakan yang ditempuh sudah mengarah pada upaya memberdayakan potensi ekonomi nasional dan daerah,” ujarnya.
Ia menilai bahwa Presiden sudah sangat jelas arah kebijakannya. “Tinggal bagaimana para pelaku ekonomi, terutama pengusaha, bisa berperan lebih aktif,” katanya.
Kesimpulan
Dalam kondisi global yang tidak menentu, kita memang membutuhkan sosok-sosok seperti Pak Purbaya di berbagai kementerian strategis untuk memperkuat dan mensupport pemerintahan Presiden Prabowo. Arah kebijakan pemerintah saat ini sudah jelas, yaitu nasionalisme dan kemandirian bangsa. Kita ingin membangun kekuatan ekonomi dari dalam, memanfaatkan potensi anak bangsa sendiri. Namun, untuk mewujudkan hal itu, kita butuh pemimpin di setiap sektor strategis yang memiliki semangat dan keberanian seperti Pak Purbaya.