Ekonomi Global Makin Berisiko, Krisis 2008 Bisa Terulang

admin.aiotrade 10 Des 2025 3 menit 16x dilihat
Ekonomi Global Makin Berisiko, Krisis 2008 Bisa Terulang

Potensi Krisis Ekonomi Global yang Mengancam

Bank Indonesia (BI) menyampaikan peringatan mengenai kemungkinan terulangnya krisis ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 2008. Hal ini didasarkan pada adanya lima risiko utama yang bisa memengaruhi prospek ekonomi global dalam beberapa tahun ke depan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Krisis ekonomi 2008 dikenal sebagai krisis keuangan global yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk adanya pinjaman subprime, sekuritisasi, serta lemahnya regulasi di sektor keuangan. Akibatnya, terjadi resesi pengangguran dan keruntuhan aset yang menyebar ke seluruh dunia.

Dalam laporan Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional (PEKKI) Edisi 2025, BI menyebutkan bahwa salah satu risiko utama adalah kerentanan pasar keuangan global. Faktor utama yang menjadi perhatian adalah perilaku agresif dari lembaga keuangan non bank atau Non-Bank Financial Intermediaries (NBFIs).

BI menjelaskan bahwa NBFIs menggunakan utang pemerintah negara maju untuk menciptakan produk derivatif kompleks. Namun, hal ini dilakukan tanpa adanya pengaturan margin dan modal yang memadai. Jika terjadi pembalikan pasar, potensi penjualan besar-besaran dapat memicu krisis sistemik serupa dengan yang terjadi pada 2008.

Peringatan ini muncul karena kondisi utang publik global yang semakin meningkat. Ketidakpastian ekonomi global membuat banyak pemerintah meningkatkan stimulus fiskal, yang berdampak pada peningkatan utang publik. Total utang pemerintah dunia saat ini sudah mencapai US$ 110,9 triliun atau setara dengan 94,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB) global. Lonjakan utang di negara-negara maju ini juga mendorong volatilitas suku bunga global dan memberatkan negara berkembang.

Risiko Mata Uang dan Aset Digital

Dalam laporan PEKKI 2025, BI juga memperingatkan adanya risiko dari mata uang dan aset digital. Maraknya penggunaan kripto, stablecoin, dan tokenisasi aset oleh pihak swasta meningkatkan volatilitas dan risiko di pasar keuangan global.

BI menyatakan bahwa ketiadaan regulasi yang setara dengan lembaga keuangan tradisional menambah potensi penyalahgunaan, seperti pencucian uang dan perlindungan konsumen yang lemah. Hal ini menjadi perhatian serius bagi otoritas keuangan di seluruh dunia.

Di tengah situasi ini, BI juga mengungkapkan bahwa perekonomian global akan tetap diwarnai oleh perang dagang dan ketegangan geopolitik. Meskipun pertumbuhan ekonomi global tidak secepat perkiraan awal tahun 2025 karena tarif efektif yang berlaku tidak sebesar ancaman awal Presiden Donald Trump pada 2 April 2025, pertumbuhan tetap diprediksi melambat.

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global

Bank Indonesia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan melanjutkan perlambatan, dengan pertumbuhan sebesar 3,0% secara tahunan (yoy). Ini merupakan penurunan dari prediksi pertumbuhan 3,1% yoy pada 2025, yang juga lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 3,3% yoy pada 2024.

Perlambatan pertumbuhan ini diperkirakan akan terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. Di negara maju, perlambatan terutama berasal dari pertumbuhan Jepang yang melambat setelah pada 2025 diperkirakan tumbuh sebesar 1,0% yoy.

Sementara itu, di negara berkembang, perlambatan terjadi karena penurunan pertumbuhan di Cina, India, dan ASEAN-5. Namun, Amerika Latin diperkirakan tumbuh membaik.

Kesimpulan

Dengan adanya berbagai risiko yang mengancam, Bank Indonesia menekankan pentingnya kewaspadaan dan pengaturan yang lebih ketat di sektor keuangan. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, stabilitas ekonomi global menjadi prioritas utama bagi semua pemangku kepentingan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan