Ekonomi Hura-hara, Penggerak Ekonomi yang Palsu

admin.aiotrade 16 Des 2025 4 menit 14x dilihat
Ekonomi Hura-hara, Penggerak Ekonomi yang Palsu

Kegelisahan di Tengah Ekonomi yang Terlihat Meriah


Majalah Tempo edisi Minggu, 14 Desember 2025, dengan judul "Bertopang pada Ekonomi Senang-senang" menggambarkan kegelisahan yang sering dirasakan oleh banyak orang. Kolom Surat dari Redaksi yang ditulis oleh Wakil Pemimpin Redaksi Tempo, Bagja Hidayat, seolah memberikan bahasa bagi apa yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada sesuatu yang tidak biasa dalam cara ekonomi kita bergerak.

Dalam teori ekonomi, pertumbuhan biasanya digerakkan oleh kebutuhan dan keinginan. Namun, dalam kapitalisme modern, keinginan sering kali menjadi penggerak utama. Konsumsi tidak lagi berasal dari apa yang diperlukan, melainkan dari apa yang ingin dimiliki agar tidak tertinggal. Di sinilah ekonomi senang-senang mulai memengaruhi masyarakat.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Ironisnya, fenomena ini muncul ketika kondisi ekonomi Indonesia kerap disebut "tidak baik-baik saja." Angka pengangguran masih menjadi perhatian, penyediaan lapangan kerja belum sepenuhnya terealisasi, dan daya beli masyarakat disebut melemah. Namun, dalam lingkaran sosial terdekat, saya justru menyaksikan fenomena yang kontras. Mobil listrik keluaran terbaru dibeli tanpa banyak pertimbangan, seminggu tiga kali bermain padel, iPhone 17 Pro Max langsung dibeli di hari-hari pertama masuk Indonesia. Liburan ke Eropa diceritakan dengan santai. Belum lagi sepatu dan pakaian "ala skena" yang harganya tidak murah. Semua tampak berjalan normal, bahkan meriah.

Media sosial memperkuat ilusi ini. Gaya hidup aktif dan sehat kini juga menjelma menjadi simbol status. Medali half marathon, full marathon, hingga ultra marathon dipamerkan sebagai penanda pencapaian. Tentu olahraga adalah hal baik dan perlu diapresiasi. Namun kita juga ingat fenomena joki Strava. Sebuah ironi kecil di mana aktivitas fisik bisa dipesan, direkayasa, lalu dipamerkan seolah hasil usaha pribadi.

Fenomena joki Strava menunjukkan bahwa yang dicari bukan lagi sehat, melainkan terkesan sehat. Validasi digital menjadi tujuan, sementara prosesnya bisa dinegosiasikan. Aktivitas sederhana seperti lari, yang sejatinya bisa dilakukan siapa saja tanpa biaya besar, berubah menjadi komoditas citra. Yang dicari bukan berlari, tetapi terkesan berlari.

Lari tidak membutuhkan jam tangan pintar mahal, sepatu jutaan rupiah, atau aksesoris lainnya. Semua itu mungkin menambah kenyamanan, tetapi bukan esensi. Yang berubah adalah makna. Dari aktivitas sederhana menjadi simbol kelas sosial dan gaya hidup.

Di titik inilah ekonomi senang-senang bekerja. Pertumbuhan ekonomi lahir bukan dari pemenuhan kebutuhan dasar atau peningkatan produktivitas, melainkan dari dorongan agar tidak ketinggalan tren. Fear of missing out (FOMO), bahasa kekiniannya, menjadi bahan bakar yang sangat efektif.

Konsumsi Menjadi Mesin Utama

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, menyumbang lebih dari separuh produk domestik bruto (PDB). Namun pada saat yang sama, pertumbuhan investasi dan ekspor cenderung stagnan. Artinya, mesin ekonomi bergerak, tetapi fondasinya rapuh.

Ekonomi yang bertumpu pada konsumsi berbasis keinginan juga cenderung tidak inklusif. Ia dinikmati oleh sebagian kecil kelas menengah-atas, sementara kelompok lain hanya menjadi penonton. Celakanya, ada pula yang ikut meniru tanpa kapasitas finansial memadai. Kredit konsumsi meningkat dan pinjaman daring mencapai rekor baru. Pertumbuhan seolah tampak hidup, tetapi perputaran rezekinya tidak merata.

Apa yang lebih mengkhawatirkan? Pola ini tidak berhenti di ranah ekonomi. Ia merembet ke kondisi psikologis dan sosial. Kita menjadi masyarakat yang sibuk mengejar pencapaian personal, citra diri, dan validasi digital. Sibuk, lelah, tetapi sulit merasa cukup. Semua orang terlihat bergerak, tetapi tidak semua benar-benar maju.

Saya tidak sedang menolak konsumsi, apalagi menghakimi pilihan hidup siapa pun. Setiap orang berhak menikmati hasil kerja kerasnya. Namun saya menilai ada perbedaan mendasar antara ekonomi yang tumbuh karena produktivitas dan ekonomi yang tumbuh karena performa. Yang satu membangun daya tahan jangka panjang, yang lain hanya memoles permukaan.

Jika pertumbuhan terus bertumpu pada senang-senang, bahkan sampai harus dijokikan, sementara penciptaan kerja produktif tertinggal, maka cepat atau lambat kita akan berhadapan dengan kenyataan yang tidak nyaman. Mengusik.

Pesta bisa terus berjalan, tetapi tidak semua orang punya kursi di meja yang sama.
Saya curiga akan tiba satu waktu saat kita sadar bahwa selama ini kita bukan merayakan kemakmuran yang kokoh, melainkan ilusi yang mahal. Semoga tidak terjadi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan