
Ekonomi Jepang mengalami penurunan yang signifikan pada kuartal ketiga tahun 2025, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) menyusut sebesar 1,8 persen dalam periode Juli-September. Angka ini menunjukkan kontraksi pertama dalam enam kuartal terakhir. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh turunnya ekspor akibat tarif impor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS), yang memberikan dampak besar terhadap sektor industri Jepang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ketidakstabilan ekspor menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan penurunan PDB. Produksi mobil di Jepang mengalami penurunan volume pengiriman, meskipun sebagian besar produsen telah memangkas harga untuk menyesuaikan diri dengan tarif yang lebih tinggi. Ekspor bersih, yang merupakan selisih antara ekspor dan impor, juga berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan pengurangan sebesar 0,2 poin persentase dibandingkan kontribusi positif sebesar 0,2 poin pada bulan April-Juni.
Perjanjian antara AS dan Jepang pada bulan September lalu memperkenalkan tarif dasar sebesar 15 persen untuk hampir semua impor Jepang. Tarif ini lebih rendah dibandingkan tarif awal sebesar 27,5 persen untuk mobil dan 25 persen untuk barang lainnya. Meskipun demikian, dampaknya masih terasa kuat terhadap ekspor Jepang, terutama dari sektor otomotif.
Konsumsi swasta, yang menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Jepang, tumbuh sebesar 0,1 persen pada kuartal ketiga. Angka ini sesuai dengan estimasi pasar, tetapi lebih rendah dibandingkan pertumbuhan sebesar 0,4 persen pada kuartal kedua. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya biaya pangan yang membuat masyarakat enggan berbelanja.
Investasi perumahan juga memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi. Regulasi efisiensi energi yang diperketat sejak April memperlambat komitmen pembangunan properti. Namun, belanja modal, yang merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan, naik sebesar 1,0 persen pada kuartal ketiga, jauh melampaui estimasi pasar sebesar 0,3 persen.
Menurut Menteri Revitalisasi Ekonomi Minoru Kiuchi, konsumsi swasta telah tumbuh selama enam kuartal berturut-turut, sedangkan belanja modal tumbuh selama empat kuartal berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Jepang masih berada pada jalur pemulihan yang moderat.
Estimasi sektor swasta menunjukkan harapan akan pemulihan pertumbuhan pada kuartal keempat tahun 2025. Jajak pendapat terhadap 37 ekonom oleh Pusat Penelitian Ekonomi Jepang memproyeksikan ekspansi sebesar 0,6 persen. Namun, data PDB yang lemah muncul saat pemerintahan Takaichi sedang menyusun paket stimulus untuk membantu rumah tangga menghadapi kenaikan biaya hidup.
Penasihat Takaichi mengatakan bahwa kemungkinan kontraksi PDB yang tajam menjadi alasan untuk tindakan stimulus yang agresif. Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengungkapkan bahwa stimulus ekonomi yang diusulkan akan melebihi 17 triliun yen (USD 109,94 miliar). Langkah-langkah ini ditujukan untuk meningkatkan kondisi pendapatan rumah tangga secara riil dari akhir musim dingin hingga sekitar musim semi.
Uichiro Nozaki dari Nomura Securities menyatakan bahwa stimulus ini akan menjadi faktor positif dalam menopang konsumsi pada paruh pertama tahun depan. Dengan langkah-langkah ini, pemerintah berharap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
