
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kalbar Tahun 2026
Perekonomian Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) pada tahun 2026 diproyeksikan terus tumbuh positif. Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Kalbar berada di kisaran 5,3 persen hingga 6,0 persen, sementara Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menargetkan pertumbuhan antara 5,19 persen sampai 6,17 persen. Prediksi ini menunjukkan optimisme terhadap potensi ekonomi daerah yang kaya akan sumber daya alam.
Salah satu faktor utama yang menjadi dasar prediksi tersebut adalah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Kalbar. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengelola sektor pertambangan dan perkebunan secara berkelanjutan agar memberikan nilai tambah bagi daerah dan masyarakat.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Wakil Sekretaris Jenderal PTK Indonesia sekaligus Kepala Bidang Pendidikan Ikatan Cendekia Tionghoa Indonesia, Dr. Andy Kurniawan Bong, S.E., M.B.A., menyatakan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi tersebut sangat mungkin direalisasikan jika pertumbuhan ekonomi dijaga tetap berkualitas dan berbasis data yang kuat.
“Target pertumbuhan ini cukup menantang, tetapi realistis. Kuncinya adalah menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan setiap kebijakan pembangunan didasarkan pada data yang akurat dan mutakhir,” ujar Andy saat ditemu rekan media di Mercure Pontianak City Center, Jumat 19 Desember 2025.
Peran Sensus Ekonomi 2026
Ia menekankan bahwa Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) akan menjadi instrumen penting dalam memetakan kekuatan dan kelemahan struktur ekonomi daerah.
“SE2026 bukan sekadar pendataan, tetapi fondasi bagi arah pembangunan Kalimantan Barat ke depan. Data yang dihasilkan akan sangat menentukan efektivitas kebijakan fiskal, investasi, hingga pengembangan UMKM,” jelas pria yang juga merupakan dosen senior PTN di Kota Pontianak ini.
Sektor Unggulan Kalbar
Dari sisi sektor unggulan, Andy menyebut pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan masih menjadi sektor dominan dalam perekonomian Kalbar. Selain itu, sektor pertambangan, khususnya mineral strategis seperti bauksit, nikel, emas, dan mineral kritis lainnya, diproyeksikan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
“Kalbar memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar. Tantangannya adalah bagaimana mengelola sektor pertambangan dan perkebunan secara berkelanjutan agar memberikan nilai tambah bagi daerah dan masyarakat,” kata Andy.
Ia juga menyoroti peran penting perkebunan kelapa sawit yang masih menjadi andalan, meskipun produktivitasnya perlu terus ditingkatkan.
“Produktivitas sawit harus ditingkatkan, baik melalui peremajaan, teknologi, maupun peningkatan kualitas SDM. Hilirisasi juga perlu didorong agar nilai tambah tidak keluar dari daerah,” tambahnya.
Dampak Ibu Kota Nusantara
Terkait faktor eksternal, Andy menilai keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi Kalimantan Barat.
“Kedekatan Kalbar dengan IKN membuka peluang besar di sektor perdagangan, logistik, dan investasi. Jika dimanfaatkan dengan baik, IKN bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi kawasan,” ujarnya.
Stabilitas Keuangan Daerah
Dari sisi stabilitas keuangan, kondisi perbankan di Kalbar dinilai masih solid. Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp87,27 triliun, sementara total kredit berada di angka Rp98,4 triliun, dengan pertumbuhan kredit terutama didorong oleh kredit konsumsi dan investasi.
Tingkat kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) sebesar 1,95 persen, jauh di bawah ambang batas 5 persen.
“Rasio NPL yang rendah menunjukkan sistem keuangan daerah relatif sehat. Ke depan, tantangan utama adalah menjaga inflasi tetap sesuai target BI, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, agar pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Andy.
Momentum Strategis Tahun 2026
Ia menutup dengan menyebut tahun 2026 sebagai momentum strategis bagi Kalimantan Barat.
“Tahun 2026 harus menjadi titik akselerasi. Dengan dukungan data SE2026, sinergi pemerintah dan pelaku usaha, serta optimalisasi potensi SDA dan dampak IKN, Kalbar memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih cepat dan berkelanjutan,” pungkasnya.