
Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Melambat di Triwulan III 2025
Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Triwulan III tahun 2025 mencatat penurunan yang signifikan. Berdasarkan laporan terbaru Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim, pertumbuhan ekonomi daerah ini hanya mencapai 4,26 persen (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Perlambatan ini menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan pelaku bisnis di wilayah tersebut.
Menurut Kepala Perwakilan BI Kaltim, Budi Widihartanto, perlambatan ekonomi terutama disebabkan oleh sektor pertambangan. Produksi batubara mengalami penurunan akibat beberapa faktor seperti tingginya curah hujan lokal yang mengganggu operasi produksi serta melemahnya permintaan dari negara mitra dagang utama. Selain itu, sektor konstruksi juga mengalami kontraksi karena progres pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang cenderung melambat setelah akselerasi besar-besaran pada Triwulan III 2024.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sektor Konstruksi dan Pertambangan Jadi Faktor Utama
Sektor konstruksi yang sebelumnya diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi melalui proyek IKN justru mencatat kontraksi yang semakin dalam. Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada proyek besar seperti IKN membuat ekonomi Kaltim rentan terhadap fluktuasi. Budi menegaskan bahwa perlambatan ini menjadi alarm untuk segera melakukan diversifikasi ekonomi.
Selain sektor pertambangan dan konstruksi, beberapa sektor lain juga mengalami perlambatan. Industri pengolahan mengalami penurunan kinerja, terutama industri minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan moderasi pertumbuhan industri pengolahan migas. Sementara itu, sektor pertanian melambat karena tertahannya kinerja perkebunan kelapa sawit dan perlambatan subsektor perikanan. Volume ekspor perikanan juga mengalami penurunan.
Di sektor perdagangan, penurunan pelaksanaan event berskala nasional dan regional menyebabkan jumlah kunjungan ke Kaltim tertahan. Dari sisi pengeluaran, ekspor Kaltim tertekan akibat melemahnya permintaan komoditas utama, yaitu batubara dan CPO. Sementara konsumsi rumah tangga juga melambat seiring penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Tahun 2026
Meski pertumbuhan ekonomi Kaltim melambat pada Triwulan III 2025, prediksi untuk tahun 2026 menunjukkan optimisme. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kaltim akan meningkat di kisaran 4,50 hingga 5,30 persen. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan kapasitas industri refinery migas, percepatan pembangunan proyek strategis, serta penguatan investasi secara keseluruhan.
Inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran nasional, yakni 2,5 ± 1 persen. Prediksi ini diyakini semakin solid berkat koordinasi pengendalian inflasi antar-instansi serta inovasi kebijakan yang terus digulirkan di tingkat daerah. Namun, Bank Indonesia mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga mengingat sejumlah risiko yang mungkin mengganggu prospek positif tersebut.
Risiko yang Harus Diwaspadai
Beberapa risiko yang berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi Kaltim antara lain transisi energi global yang menahan permintaan batubara, gejolak harga emas dan minyak dunia, serta risiko iklim yang dapat menekan kinerja sektor pertanian. Bayuadi Hardiyanto, Plh. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi tantangan global sekaligus menjaga ketahanan ekonomi daerah.
Asisten II Setdaprov Kaltim, Ujang Rachmad, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi Kaltim bertumpu pada kolaborasi berkesinambungan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku usaha, hingga akademisi. Sinergi kuat menjadi fondasi utama untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan yang berkelanjutan.