Ekonomi Kekerasan: KDRT yang Merusak Perempuan

admin.aiotrade 10 Des 2025 4 menit 24x dilihat
Ekonomi Kekerasan: KDRT yang Merusak Perempuan
Ekonomi Kekerasan: KDRT yang Merusak Perempuan

Kekerasan Ekonomi sebagai Bentuk KDRT yang Mengancam Perempuan

Kekerasan ekonomi menjadi bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tidak selalu terlihat, tetapi sangat merusak. Meski terjadi secara diam-diam, kekerasan ini membatasi akses perempuan terhadap uang, pekerjaan, dan keputusan finansial. Bukan melalui pukulan, tetapi melalui kontrol ekonomi yang membuat korban terus bergantung pada pelaku sekaligus menyempitkan peluang untuk keluar dari relasi yang buruk.

Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016 menemukan bahwa 1 dari 4 perempuan yang sudah menikah pernah mengalami kekerasan ekonomi. Artinya, meskipun semakin banyak perempuan Indonesia yang berpendidikan dan bekerja, kontrol ekonomi terhadap mereka masih mengakar dalam kehidupan rumah tangga akibat kuatnya norma patriarki.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Paradoksnya, peningkatan pendidikan belum sepenuhnya membuat perempuan mandiri secara finansial. Bentuk-bentuk kekerasan ekonomi dapat berupa pelarangan bekerja, pengambilalihan pendapatan, pembatasan akses ke uang rumah tangga, pemaksaan untuk bekerja, hingga sabotase peluang karier. Kekerasan ini bukan hanya terjadi pada kelompok miskin. Data justru menunjukkan peningkatan kekerasan ekonomi dalam keluarga yang lebih sejahtera, meski praktiknya tersembunyi.

Menurut Data BPS, 30% istri yang tidak bekerja mengalami kekerasan ekonomi. Sementara bagi perempuan bekerja, angkanya turun menjadi 20%. Pendapatan bukan sekadar sumber daya, melainkan instrumen negosiasi yang memperkuat posisi perempuan dalam rumah tangga.

Perempuan Berpendidikan Menengah Lebih Rentan

Analisis tentang kekerasan ekonomi menemukan bahwa perempuan berpendidikan menengah justru lebih rentan mengalami kekerasan ekonomi dibanding perempuan berpendidikan rendah. Hal ini terkait erat dengan partisipasi kerja. Perempuan berpendidikan rendah cenderung bekerja karena kebutuhan, sedangkan perempuan berpendidikan menengah lebih sering tidak bekerja, sehingga daya tawarnya lebih lemah.

Menariknya, kondisi suami bekerja ataupun menganggur hampir tidak memengaruhi risiko kekerasan ekonomi. Faktor yang paling menentukan adalah apakah perempuan memiliki pendapatan sendiri atau tidak.

Pendidikan Tidak Cukup untuk Kemandirian Finansial

Indonesia telah mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan. Ini dibuktikan dengan makin banyak perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi. Namun pencapaian ini belum otomatis mengurangi kekerasan ekonomi. Pendidikan memang menurunkan risiko, tetapi efeknya baru tampak setelah memperhitungkan usia, lama menikah, dan kondisi ekonomi rumah tangga.

Pendidikan saja tidak cukup untuk mendorong kemandirian finansial perempuan. Perempuan didorong menempuh pendidikan, tetapi masih sering menghadapi hambatan ketika ingin mengubahnya menjadi kekuatan ekonomi. Padahal, justru kemandirian finansial itulah yang paling mampu melindungi mereka.

Patriarki yang Berkembang

Perempuan yang hidup di perkotaan, meski memiliki akses lebih besar terhadap nilai-nilai modern dan teknologi finansial, justru mengalami tingkat kekerasan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan perempuan di pedesaan. Ini menunjukkan, sekalipun perempuan berpeluang lebih besar untuk mandiri, mekanisme kontrol dalam rumah tangga bisa berubah bentuk untuk mempertahankan dominasi.

Fenomena ini sejalan dengan temuan global: pemberdayaan tanpa perubahan norma gender sering memunculkan resistensi.

Perlu Otonomi bagi Perempuan

Pemerintah mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Namun, upaya peningkatan partisipasi kerja ini akan sulit tercapai apabila perempuan masih menghadapi hambatan struktural, terutama norma rumah tangga dan keputusan keluarga.

Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa kebijakan dan kondisi pasar kerja di Indonesia masih bias gender. Akibatnya, perempuan cenderung bekerja di sektor berupah dan berproduktivitas rendah. Beban pengasuhan juga masih menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab domestik, memaksa banyak perempuan berhenti bekerja setelah menikah atau memiliki anak.

Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi kerja perempuan tidak cukup dengan pendidikan atau peluang kerja. Perempuan juga memerlukan otonomi dalam keputusan kerja serta dukungan struktural yang memungkinkan mereka berpartisipasi penuh dalam ekonomi.

Langkah-Langkah untuk Mengatasi Kekerasan Ekonomi

Mengatasi kekerasan ekonomi membutuhkan lebih dari sekadar hukum, melainkan juga perubahan norma, inovasi kebijakan, dan peningkatan akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi.

  • Pertama, penting untuk mengangkat kekerasan ekonomi sebagai isu publik. Meskipun telah masuk dalam survei nasional, topik ini masih jarang dibahas dalam perbicangan kebijakan.
  • Kedua, akses perempuan terhadap instrumen keuangan yang independen seperti rekening pribadi, layanan perbankan digital, dan micro finance yang aman perlu diperluas, karena masih banyak akses yang masih bergantung atas nama suami.
  • Ketiga, peluang kerja bagi perempuan menikah harus ditingkatkan melalui penyediaan layanan penitipan anak dan penerapan kebijakan anti-diskriminasi.
  • Keempat, isu kekerasan ekonomi perlu diintegrasikan dalam layanan kesehatan, konseling pranikah, serta program komunitas agar perempuan dapat mengenalinya sebagai bentuk kekerasan.
  • Terakhir, keterlibatan laki-laki dan anak laki-laki dalam percakapan mengenai kesetaraan, pengambilan keputusan bersama, dan relasi tanpa kekerasan menjadi kunci untuk mendorong perubahan yang lebih menyeluruh.

Pemberdayaan yang Nyata

Perempuan Indonesia kini lebih berpendidikan dan lebih mampu secara ekonomi dibanding generasi sebelumnya. Namun, pemberdayaan tidak akan bermakna bila diruntuhkan di dalam rumah. Kekerasan ekonomi mungkin tidak terlihat, tetapi dampaknya sangat nyata memengaruhi peluang hidup, kesehatan mental, dan masa depan perempuan. Mengatasinya bukan hanya upaya pelindungan, tetapi juga investasi penting bagi masa depan Indonesia.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan