
Kepulauan Riau Jadi Lokomotif Ekonomi Sumatera
Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menegaskan posisinya sebagai lokomotif ekonomi di wilayah Sumatera. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perekonomian Kepri mencatat kinerja yang sangat mengesankan pada Triwulan II 2025 dengan pertumbuhan sebesar 7,14% (yoy). Angka ini meningkat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 5,16% (yoy). Angka ini menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di Pulau Sumatera.
Optimisme tinggi ini disuarakan dalam gelaran Kepri Economic Forum (KEF) 2025 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepulauan Riau, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kepri di Batam, pada Selasa (4/11/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, menyampaikan bahwa fondasi makroekonomi Kepri saat ini sangat kuat. Pertumbuhan ekonomi didorong oleh beberapa faktor utama:
- Investasi (PMTB) dengan andil terbesar sebesar 3,57% (yoy).
- Net Ekspor yang menyumbang 2,74% (yoy).
- Dari sisi Lapangan Usaha, Industri Pengolahan mendominasi dengan kontribusi struktur mencapai 41,4% dari total Perekonomian Kepri.
- Kinerja sektor keuangan juga mengalami peningkatan, tercermin dari pertumbuhan kredit perbankan yang melonjak hingga 20,61% (yoy).
- Adopsi digitalisasi melalui QRIS melesat 181,93% dalam volume transaksi, didorong oleh peningkatan signifikan transaksi QRIS Cross-Border dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand.
"Ekonomi Biru" sebagai Kunci Pemerataan dan Pertumbuhan Inklusif
Meskipun capaian pertumbuhan tinggi membawa optimisme, BI dan Pemprov Kepri mengakui adanya tantangan besar: Disparitas Ekonomi. Kota Batam menyumbang hingga 66% terhadap PDRB provinsi, meninggalkan wilayah lain.
Menjawab tantangan ini, KEF 2025 mengusung tema strategis: “Unlocking Kepri’s Inclusive Growth Potential through the Blue Economy”.
“Di tengah segala catatan positif yang membawa optimisme tinggi terhadap perekonomian Kepri, kita masih menghadapi tantangan yang perlu menjadi perhatian,” ujar Rony Widijarto.
“Disparitas ekonomi antar kabupaten di Kepri masih terjadi, dengan Batam menjadi penopang utama, sementara wilayah lain perlu peningkatan pemerataan ekonomi dan kesejahteraan,” tambahnya.
Dengan 96% wilayahnya adalah laut, potensi Ekonomi Biru (maritim) dilihat sebagai angin segar untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih merata dan inklusif, terutama bagi masyarakat pesisir.
Pelaksana Harian (Plh.) Sekretaris Daerah Kepri, Adi Prihantara, menekankan pentingnya hilirisasi untuk menggerakkan industri pengolahan dari sektor kelautan.
“Tentu sumber daya laut yang harus kita gali, karena potensi maritim tidak hanya terbatas pada perikanan, namun juga dapat menggerakkan perniagaan, termasuk di antaranya industri perkapalan,” jelas Adi Prihantara.
Momentum untuk Membangun Ekonomi yang Lebih Baik
KEF 2025 menjadi momentum penguatan arah kebijakan Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), menunjukkan komitmen sinergi lintas instansi untuk menjadikan Ekonomi Biru sebagai sektor alternatif yang memperkuat sektor manufaktur yang sudah ada.