
aiotrade.CO.ID, JAKARTA -- Pakar sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Hefrizal Handra, menyoroti penyebab perlambatan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan ekonomi Sumbar yang sebelumnya stabil kini menunjukkan tren penurunan yang konsisten.
"Meskipun angka pertumbuhan ekonomi Sumbar masih positif, dalam perspektif historis menunjukkan perlambatan yang berkelanjutan selama lebih dari sepuluh tahun," ujar Hefrizal Handra di Kota Padang, Sumbar, Rabu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, pertumbuhan ekonomi di Ranah Minang pada 2025 mencapai 3,37 persen. Meski tumbuh, pertumbuhan ini tetap menunjukkan perlambatan dibandingkan periode sebelumnya.
"Pola perlambatan ini tidak terjadi secara mendadak, melainkan bertahap dan konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan tersebut bukan sekadar fluktuasi jangka pendek," tambah Hefrizal, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II Unand.
Menurutnya, jika perlambatan hanya disebabkan oleh siklus bisnis, maka pemulihan pascapandemi Covid-19 seharusnya mampu mengembalikan pertumbuhan ke tingkat 5–6 persen. Namun, pemulihan yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan kondisi ekonomi ke jalur sebelumnya.
"Pemulihan memang terjadi, tetapi tidak membawa kita kembali ke lintasan pertumbuhan sebelumnya. Artinya, masalah yang dihadapi lebih bersifat struktural," ujarnya.
Dari sisi pengeluaran, komposisi produk domestik regional bruto (PDRB) telah mengalami perubahan. Pangsa konsumsi rumah tangga menurun dalam satu dekade terakhir, sementara net ekspor meningkat, sedangkan investasi relatif stabil. Namun, perubahan ini belum sepenuhnya mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi.
"Masalahnya bukan pada besarnya satu komponen pengeluaran, melainkan pada kualitas struktur produksi yang mendasarinya," jelas dia.
Hefrizal juga menyampaikan bahwa struktur lapangan usaha di Sumbar relatif stagnan. Sektor primer seperti pertanian masih menjadi kontributor utama, namun proses hilirisasi berjalan lambat. Industri pengolahan tidak menunjukkan peningkatan peran dalam PDRB, bahkan cenderung menurun. Sementara itu, sektor jasa memang berkembang, tetapi sebagian besar bergantung pada konsumsi domestik tanpa adanya lonjakan nilai tambah yang signifikan.
Selain itu, sektor pariwisata dinilai belum memberikan kontribusi yang kuat. Data menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara cenderung stagnan dalam satu dekade terakhir.
"Pada 2016, jumlah kunjungan wisatawan sempat mencapai puncaknya, kemudian kembali ke kisaran 56 ribu kunjungan per tahun setelah pandemi," katanya.
Terakhir, pertumbuhan sebesar 3,37 persen bukanlah krisis, tetapi menjadi peringatan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sektor industri, hilirisasi pertanian yang serius, serta peningkatan produktivitas sektor jasa dan pariwisata.
Penyebab Perlambatan Ekonomi Sumbar
-
Struktur Produksi yang Tidak Seimbang
Pertumbuhan ekonomi Sumbar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga oleh struktur produksi yang belum optimal. Sektor primer masih dominan, sementara sektor industri dan jasa belum mampu memberikan kontribusi yang signifikan. -
Kurangnya Inovasi dan Hilirisasi
Proses hilirisasi di sektor pertanian masih lambat, sehingga potensi ekonomi yang ada belum dimanfaatkan secara maksimal. Perlu adanya inovasi dan pembangunan infrastruktur yang mendukung pengembangan sektor ini. -
Ketergantungan pada Konsumsi Domestik
Sektor jasa dan pariwisata masih bergantung pada konsumsi dalam negeri. Tanpa adanya peningkatan daya beli masyarakat atau pengembangan pasar baru, pertumbuhan ekonomi akan sulit meningkat. -
Perubahan Komposisi PDRB
Dalam beberapa tahun terakhir, komposisi PDRB mengalami perubahan. Meskipun net ekspor meningkat, hal ini belum cukup untuk mengimbangi penurunan konsumsi rumah tangga dan stabilitas investasi.
Solusi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi
-
Penguatan Sektor Industri
Pemerintah daerah perlu fokus pada pengembangan sektor industri yang lebih maju, termasuk dukungan terhadap UMKM dan perusahaan besar. -
Hilirisasi Pertanian yang Serius
Perlu adanya program hilirisasi yang terencana dan berkelanjutan untuk meningkatkan nilai tambah dari sektor pertanian. -
Peningkatan Produktivitas Sektor Jasa dan Pariwisata
Diperlukan strategi pemasaran yang lebih baik, serta pengembangan destinasi wisata yang unik dan berkelanjutan. -
Investasi dalam Infrastruktur dan Teknologi
Infrastruktur yang memadai dan penggunaan teknologi modern dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing ekonomi daerah.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar