
Jakarta — Kepala Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip, menilai bahwa strategi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini perlu berfokus pada penguatan sisi suplai. Menurutnya, capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal III 2025 sudah tergolong optimal, tetapi belum cukup untuk mendorong ekonomi naik ke tingkat yang lebih tinggi.
"Jika kita ingin bicara tentang bagaimana meningkatkan pertumbuhan, kata kuncinya adalah memperbaiki sisi suplai sektor-sektor tertentu," ujar Sunarsip dalam diskusi di Jakarta, Kamis (13/11/2025). Ia menjelaskan bahwa selama hambatan di sisi suplai seperti keterbatasan pembiayaan, kapasitas industri, dan rendahnya minat investasi belum diselesaikan, maka pertumbuhan konsumsi rumah tangga akan sulit menembus level 5 persen.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dalam beberapa kuartal terakhir terus melemah, dengan laju 4,89 persen (yoy) pada kuartal III 2025. Menurut Sunarsip, kondisi ini disebabkan oleh belum pulihnya industri pasca-pandemi COVID-19, terutama di Pulau Jawa yang menjadi wilayah pusat kegiatan ekonomi sekaligus penyumbang terbesar tenaga kerja nasional.
"Jika bottleneck di sisi suplai bisa diselesaikan, tanpa insentif fiskal pun pertumbuhan bisa menembus di atas 5 persen," tambah dia.
Dari sisi ekspor, pertumbuhan sebesar 9,91 persen (yoy) pada kuartal III 2025 memang menjadi salah satu penopang ekonomi. Namun, sebagian besar kinerja ekspor tersebut bersumber dari sektor hilirisasi yang padat modal dan berlokasi di luar pusat konsumsi utama. Akibatnya, efek berganda terhadap peningkatan daya beli masyarakat di wilayah padat penduduk masih terbatas.
Lebih lanjut, Sunarsip menilai bahwa perluasan hilirisasi ke sektor pertanian dan industri manufaktur di berbagai wilayah seperti Jawa, Sumatra, dan Kalimantan dapat menjadi momentum untuk memperkuat basis industri domestik sekaligus mendorong ekspor berkelanjutan.
"Jika industri yang belum pulih bisa kembali hidup, ekspor akan tumbuh lebih tinggi dan pasar domestik ikut menguat. Konsumsi rumah tangga pun otomatis terdorong," jelas dia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi 53,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), tumbuh 4,89 persen (yoy). Selain itu, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tercatat tumbuh 5,04 persen.
Dengan komposisi pertumbuhan tersebut, Sunarsip menilai bahwa pemerintah perlu menyeimbangkan strategi antara penguatan permintaan dan perbaikan sisi suplai agar perekonomian tidak hanya tumbuh stabil, tetapi juga berkelanjutan.
Strategi yang Perlu Diperhatikan
Berikut beberapa strategi yang dianjurkan oleh Sunarsip untuk memperkuat ekonomi Indonesia:
-
Perbaikan Sisi Suplai:
Meningkatkan kapasitas industri dan memastikan ketersediaan sumber daya finansial serta investasi yang cukup. Ini akan membantu meningkatkan produksi dan mengurangi hambatan dalam proses ekonomi. -
Pengembangan Wilayah:
Memperluas hilirisasi ke sektor pertanian dan industri manufaktur di berbagai daerah seperti Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Hal ini akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan memperkuat basis industri nasional. -
Penguatan Pasar Domestik:
Meningkatkan daya beli masyarakat melalui penguatan konsumsi rumah tangga dan pengembangan pasar yang lebih luas. Ini akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. -
Keseimbangan Antara Permintaan dan Penawaran:
Pemerintah perlu merancang kebijakan yang seimbang antara penguatan permintaan dan perbaikan sisi suplai. Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan berkelanjutan.
Tantangan yang Dihadapi
Beberapa tantangan utama yang masih menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia antara lain:
-
Keterbatasan Pembiayaan:
Banyak sektor industri mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendanaan yang cukup untuk pengembangan dan operasional. -
Kapasitas Industri yang Masih Terbatas:
Beberapa industri belum sepenuhnya pulih setelah masa pandemi, sehingga kapasitas produksi masih rendah. -
Minat Investasi yang Rendah:
Tingkat investasi yang kurang optimis menghambat pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor-sektor strategis.
Kesimpulan
Sunarsip menegaskan bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih baik, pemerintah perlu fokus pada penguatan sisi suplai. Dengan memperbaiki hambatan-hambatan tersebut, ekonomi Indonesia dapat berkembang lebih cepat dan berkelanjutan. Selain itu, pengembangan wilayah dan penguatan pasar domestik juga menjadi langkah penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih seimbang.