
aiotrade.CO.ID - JAKARTA.
PT Mitra Investindo Tbk (MITI) sedang mempersiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 25 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk ekspansi bisnis hilirisasi pasir silika. Perusahaan mengklaim bahwa rencana ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang dalam mengembangkan potensi sumber daya alam yang ada di Indonesia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Setelah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi, entitas anak PT Nusantara Bina Silika, yaitu PT Kendawangan Berkah Kersik, tengah menyelesaikan Tahap I eksplorasi dan bersiap memasuki proses perizinan Tahap II. Sementara itu, dua entitas anak lainnya, yakni PT Kendawangan Prima Silika dan PT Danau Buntar Kuarsa, sedang dalam proses pemenuhan izin Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) Tahap Eksplorasi.
Presiden Direktur Mitra Investindo, Andreas Tjahjadi, menjelaskan bahwa ketiga entitas tersebut akan mengikuti berbagai regulasi yang berlaku, termasuk rencana pemerintah terkait sentralisasi kewenangan perizinan pasir silika yang akan berlaku efektif pada tahun 2026. Hal ini menunjukkan komitmen perusahaan dalam menjalankan bisnis secara transparan dan sesuai aturan yang berlaku.
Sebagai bagian dari rencana hilirisasi silika, MITI telah bekerja sama dengan PT Sumber Sari Rejeki, entitas anak Interra Resources Limited Plc., untuk mendirikan perusahaan patungan bernama PT Ketapang Prima Resource pada awal Juli 2025. Perusahaan ini saat ini sedang melakukan akselerasi proses perizinan untuk pengembangan hilirisasi silika terpadu.
“Ketapang Prima Resources saat ini dalam proses akselerasi proses perizinan untuk pengembangan hilirisasi silika terpadu, melalui pemenuhan kelengkapan persyaratan, studi dan rencana pembangunan kawasan,” ujar Andreas dalam keterangan resmi, Rabu (10/12/2025).
Andreas berharap pembangunan kawasan tersebut dapat menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang terintegrasi dengan tiga konsesi tambang milik entitas anak PT Nusantara Bina Silika. Dengan adanya KEK ini, diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi dan daya saing dari produk hilirisasi pasir silika.
Selain itu, perusahaan juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2025, MITI telah mengeluarkan capex sebesar Rp 3,8 miliar dan merencanakan pengeluaran capex sebesar Rp 24 miliar pada tahun 2026. Anggaran tersebut akan digunakan untuk pengadaan tugboat dan LCT (Lighter Carrier Transport). Penambahan armada ini dimaksudkan untuk mendukung aktivitas transportasi dan logistik penambangan pasir silika di masa depan.
Dengan langkah-langkah ini, MITI menunjukkan komitmennya dalam memperkuat posisi perusahaan sebagai pelaku utama dalam industri hilirisasi pasir silika. Rencana pengembangan yang terstruktur dan berkelanjutan diharapkan dapat memberikan dampak positif baik bagi perusahaan maupun masyarakat sekitar.