Kinerja Keuangan MBMA Masih Tertekan, Namun Prospek Jangka Panjang Tetap Terbuka

Kinerja keuangan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) masih menghadapi tekanan hingga kuartal III-2025. Meskipun demikian, prospek jangka panjang perusahaan tetap terbuka seiring percepatan ekspansi hilir, khususnya proyek High-Pressure Acid Leach (HPAL) dan Acid Iron Metal (AIM) yang terus menunjukkan progres signifikan.
Dari sisi keuangan, MBMA mencatatkan penurunan kinerja. Pendapatan belum diaudit tercatat sebesar US$ 935 juta selama sembilan bulan pertama tahun 2025, atau turun 32% secara tahunan (YoY) dibanding tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan kontribusi dari segmen NPI (Nickel Pig Iron) yang minus US$ 102,3 juta dan HGNM (High-Grade Nickel Matte) yang minus US$ 418,8 juta.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Namun, sebagian kemerosotan ini dikompensasi oleh peningkatan pendapatan dari limonit dan segmen lainnya yang naik US$ 76,3 juta. Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan bahwa kinerja MBMA memang cukup underwhelming baik dari sisi top line maupun bottom line. Sehingga, kinerja keuangan menjadi PR yang perlu dicermati ke depannya.
Meski begitu, ekspansi hilir MBMA terus melaju, dengan proyek HPAL dan AIM menunjukkan perkembangan pesat. Nafan menyatakan, ekspansi ini bisa menjadi katalis positif dalam jangka panjang. Proyek HPAL tujuannya untuk mewujudkan hilirisasi, apalagi proyek tahap satu akan dibidik mulai pertengahan tahun 2026. Ini diharap bisa menjadi katalis jangka panjang, karena fundamental masih underwhelming.
Proyek HPAL dan AIM Berjalan Lancar
MBMA terus memperkuat strategi pertumbuhan terintegrasi melalui pengembangan HPAL dan AIM, sehingga menempatkan MBMA sebagai pemain penting dalam rantai pasok global bahan baku baterai.
Proyek HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt (SLNC) diketahui telah mencapai 54% progres pembangunan pabrik dan 29% untuk fasilitas Feed Preparation Plant (FPP), dengan commissioning tahap pertama ditargetkan pertengahan 2026. Di fasilitas AIM yang dikelola PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), produksi asam sulfat perseroan stabil di level 251.715 ton.
Pabrik klorida dan katoda tembaga juga masuk tahap commissioning dengan produksi awal pelat tembaga katoda memenuhi standar London Metal Exchange (LME). MBMA juga meneken perjanjian penjualan nickel matte, yang mendasari kelanjutan produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) pada kuartal IV/2025.
Fase Pertumbuhan Krusial
Analis Ina Sekuritas Indonesia menyebut MBMA memasuki fase pertumbuhan krusial yang didorong oleh ekspansi hilir di segmen penambangan, pemurnian, dan pemrosesan nikel. Menurutnya, sepanjang tahun ini pemulihan operasional akan ditopang oleh peningkatan efisiensi, pengendalian biaya, serta peningkatan kapasitas fasilitas utama.
“Kinerja yang lebih kuat dari HGNM dan NPI, disertai ekspansi AIM dan HPAL, menjadi landasan utama untuk perbaikan profitabilitas,” ujar Tim Riset Ina Sekuritas Indonesia dalam risetnya.
Proyeksi Produksi dan Laba Bersih
Analis Ekuitas OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, menyampaikan bahwa MBMA masih punya prospek positif ke depan didukung beberapa katalis pendukung. Dia memproyeksikan produksi NPI mencapai sekitar 84.000 ton pada 2026, naik dari tahun 2025 di 74.800 ton. Kondisi ini didukung pengiriman saprolit yang lebih tinggi, memungkinkan perusahaan menjaga biaya kas NPI di bawah US$ 10.000 per ton.
Selain itu, kesepakatan offtake untuk HGNM memungkinkan perusahaan mendapatkan payability yang lebih baik. Kesepakatan offtake ini berlaku dari Oktober 2025 hingga Desember 2026. Diperkirakan pula produksi HGNM akan mencapai 35.000–40.000 ton pada tahun 2026 atau mencapai 75%–80% dari total kapasitas produksi.
Manajemen juga memperkirakan adanya tambahan arus pendapatan dari peningkatan output AIM, terutama dari pabrik klorida dan asam. Devi memperkirakan laba bersih MBMA pada tahun 2026 bisa mencapai US$ 101,9 juta atau meningkat 19,1% YoY dari proyeksi laba bersih sepanjang tahun 2025 yang dibidiknya sebesar US$ 21,1 juta.
Rekomendasi Investor
Devi memberikan rekomendasi kepada para investor untuk beli saham MBMA dengan target harga Rp 750 per saham. Tim Riset Ina Sekuritas pun memberikan rekomendasi beli MBMA dengan target harga Rp 760 per saham. Sedangkan Nafan memberi rekomendasi investor untuk accumulative buy saham MBMA dengan target harga Rp 760 per saham.