Penurunan Ekspor Minyak Mentah Arab Saudi
Arab Saudi resmi melaporkan penurunan ekspor minyak mentah hingga 50 persen sepanjang Maret 2026. Hal ini terjadi setelah ketegangan di Timur Tengah memuncak, yang menyebabkan Iran menutup jalur pelayaran penting di Selat Hormuz. Sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, Arab Saudi terpaksa mengalihkan jalur pengiriman energinya ke pesisir barat. Langkah darurat ini diambil agar aktivitas ekspor yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut tidak berhenti total.
Data terbaru dari lembaga pelacak kapal tanker internasional menunjukkan bahwa rata-rata pengiriman minyak mentah Arab Saudi hanya mencapai 3,33 juta barel per hari selama Maret 2026. Angka ini turun drastis dibanding Februari 2026 yang mencapai 7,1 juta barel per hari.
Penutupan Selat Hormuz Memangkas Volume Ekspor Harian Minyak Arab Saudi

Anjloknya ekspor minyak Arab Saudi pada Maret 2026 merupakan dampak langsung dari blokade Selat Hormuz oleh Iran. Akibatnya, kapal-kapal tanker tidak bisa keluar dari Teluk Persia. Gangguan pasokan terbesar dalam sejarah modern ini dipicu oleh konflik antara AS-Israel dengan Iran.
Untuk menghindari kerusakan fasilitas dan menyesuaikan diri dengan rute yang terbatas, Saudi Aramco terpaksa menghentikan operasi di beberapa ladang minyak lepas pantai strategis, seperti Safaniya, Marjan, Zuluf, dan Abu Safa.
"Jumlah minyak yang tertahan di kapal tanker di kawasan Timur Tengah melonjak sangat tinggi, dari biasanya 10 juta barel menjadi lebih dari 50 juta barel minggu ini. Hal ini membuktikan adanya hambatan besar pada rute perjalanan kapal tanker," kata Johannes Raubal, analis dari Kpler.
Kondisi ini juga memicu kenaikan harga minyak mentah Brent hingga mendekati 120 dolar AS (Rp2,03 juta) per barel, meski kemudian sedikit turun setelah negara-negara IEA melepas cadangan darurat mereka. Karena risiko perang dan biaya asuransi yang sangat mahal, banyak pemilik kapal takut masuk ke wilayah Teluk. Akibatnya, tempat penyimpanan di dalam negeri penuh, dan para produsen di Timur Tengah terpaksa memangkas produksi hingga 10 juta barel per hari.
Arab Saudi Mengalihkan Arus Minyak Mentah Lewat Pipa East-West

Sebagai strategi menghadapi blokade, Arab Saudi memaksimalkan penggunaan pipa East-West (Petroline) sepanjang 750 mil. Pipa ini bisa mengalirkan 7 juta barel minyak per hari dari wilayah timur menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, yang kini menjadi jalur utama ekspor.
Namun, pelabuhan Yanbu kini mengalami kepadatan luar biasa. Lebih dari 30 kapal tanker besar harus antre di tengah laut dan menunggu hingga lima hari untuk memuat minyak karena fasilitas pelabuhan tidak didesain untuk menangani volume sebesar itu secara mendadak.
"Fasilitas di Yanbu sebenarnya tidak disiapkan untuk menjadi jalur ekspor utama Arab Saudi. Keterbatasan dermaga dan sarana pendukung lainnya akan terus membatasi jumlah minyak yang bisa dikirim ke pasar dunia selama krisis ini," kata Berd Langenbruner, analis dari Global Energy Monitor.
Risiko keamanan juga membayangi rute alternatif ini. Pada 20 Maret 2026, serangan drone dilaporkan terjadi di dekat kilang Yanbu, yang sempat menghentikan operasional terminal ekspor. Akibat kendala ini, Saudi Aramco kini memprioritaskan pengiriman minyak jenis Arab Light untuk pembeli di Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, dan India.
Gangguan Pasokan dari Timur Tengah Memicu Guncangan Hebat di Pasar Energi Internasional

Krisis minyak di Arab Saudi telah mengguncang pasar dunia, dengan harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS (Rp1,69 juta) per barel. IEA bahkan harus melepas 400 juta barel cadangan darurat untuk menahan inflasi. Selain minyak, pengiriman gas alam cair (LNG) dari Qatar dan pupuk juga terhenti, yang mulai mengancam ketahanan pangan dunia dan menaikkan biaya tiket pesawat.
"Hanya butuh rasa takut akan serangan untuk menutup jalur perdagangan penting. Saat ini, perusahaan kapal tidak mau mengambil risiko kehilangan aset mereka di zona konflik, meskipun Iran mungkin tidak menguasai seluruh perairan tersebut," kata Arlan Suderman, ekonom dari StoneX.
Pemerintah Arab Saudi memperingatkan bahwa harga minyak bisa menyentuh 180 dolar AS (Rp3,05 juta) per barel jika konflik berlanjut melewati bulan April. Skenario terburuknya, dunia bisa mengalami resesi ekonomi yang parah. Kondisi ini membuat banyak negara mulai berpikir untuk mempercepat peralihan ke energi terbarukan agar tidak lagi bergantung pada kawasan Timur Tengah yang tidak stabil.