
Potensi Peningkatan Ekspor CPO ke Amerika Serikat
Ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia ke Amerika Serikat berpotensi meningkat dua kali lipat akibat program biodiesel di Negeri Paman Sam. Meskipun demikian, ekspor CPO Indonesia akan lebih mengarah pada kebutuhan industri pangan, bukan untuk sektor energi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Alvin Tai, analis komoditas lunak Bloomberg, menjelaskan bahwa CPO tidak memenuhi syarat pengurangan emisi karbon versi Amerika Serikat untuk menjadi bahan baku industri biodiesel. Akibatnya, pemerintah Amerika Serikat akan lebih memprioritaskan penggunaan minyak kedelai dalam industri biodiesel. Hal ini berdampak pada peningkatan permintaan CPO dari Indonesia karena pengalihan minyak kedelai tersebut.
"Industri biodiesel Amerika Serikat akan menyerap 1,6 juta ton minyak kedelai dari industri pangan dan pakan. Eksportir CPO dari Indonesia akan diuntungkan dari pengalihan minyak kedelai tersebut," ujar Alvin dalam Indonesia Palm Oil Conference 2025, Jumat (14/11).
Alvin menambahkan bahwa jika pemerintah Amerika Serikat mewajibkan seluruh bahan baku biodiesel berasal dari dalam negeri, maka kekurangan sebesar 1,6 juta ton dari industri pangan dan pakan akan terjadi. Namun, angka tersebut akan turun menjadi 1,33 juta ton jika keran impor kedelai dibuka oleh pemerintah Negeri Paman Sam.
Dampak Peraturan EUDR terhadap Ekspor CPO ke Eropa
Selain itu, peraturan European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang akan berlaku juga berpotensi membuat ekspor CPO ke Eropa anjlok hingga 20%. Hal ini akan memberikan tekanan tambahan bagi industri sawit Indonesia, khususnya dalam menjaga standar lingkungan dan keberlanjutan.
Namun, Alvin menilai volume ekspor Indonesia akan naik menjadi dua kali lipat jika dibandingkan realisasi pada 2024. Proyeksi ini didasarkan pada negosiasi perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat, yang bertujuan untuk meniadakan bea masuk beberapa komoditas, termasuk CPO.
Data Ekspor CPO ke Amerika Serikat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa volume ekspor CPO ke Amerika Serikat mencapai 1,6 juta ton pada tahun lalu, mengalami penurunan lebih dari 19% secara tahunan. Berdasarkan data BPS, ekspor ke Amerika Serikat berkontribusi sekitar 6% dari total ekspor sejak 2021 hingga tahun lalu.
Volume ekspor CPO nasional terbesar ke Amerika Serikat terjadi pada 2023 sejumlah 1,98 juta ton atau 6,93% dari total ekspor tahun tersebut. Nilai ekspor CPO tertinggi ke Amerika Serikat terjadi pada 2022 yang mencapai US$ 2,28 miliar, sedangkan nilai ekspor CPO tahun lalu senilai US$ 1,55 miliar.
Peluang Ekspor Minyak Goreng Bekas (UCO)
Selain CPO, Alvin menilai bahwa industri sawit Indonesia dapat memenuhi kebutuhan industri biodiesel Amerika Serikat dengan mengekspor minyak goreng bekas atau UCO. Sebab, Negeri Paman Sam menilai UCO memiliki tingkat pengurangan emisi karbon paling tinggi dibandingkan bahan baku biodiesel lainnya.
"Indonesia bisa mengisi kebutuhan ini karena Amerika Serikat telah memotong saluran impor UCO dari Cina," ujarnya.
Kesepakatan Tarif dan Perjanjian Dagang
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan tarif sebesar 19% bagi mayoritas produk lokal ke Amerika Serikat pada hasil negosiasi tarif resiprokal terakhir. Namun ada beberapa komoditas yang dikecualikan dari kebijakan tersebut, seperti minyak sawit mentah atau CPO, kakao, dan karet.
Airlangga menyampaikan kesepakatan pengecualian tarif untuk beberapa komoditas lokal ke Amerika Serikat tidak disertai perjanjian dagang. Sebab, hasil dari pengecualian tarif tersebut bergantung pada kesepakatan dunia usaha.
Untuk diketahui, pemerintah Indonesia menyepakati perjanjian dagang berupa peningkatan impor dari Amerika Serikat senilai US$ 22,7 miliar atau sekitar Rp 370 triliun. Kesepakatan tersebut dilakukan agar tarif produk lokal ke Negeri Paman Sam susut dari 32% menjadi 19%.
"Sudah ada kesepakatan terkait komoditas yang dikecualikan, tinggal ditulis detailnya saja. Kemungkinan besar tarif untuk komoditas yang dikecualikan 0%," kata Airlangga di Pabrik PT Lami Packaging Indonesia, Serang, Banten, Jumat (1/8).