Emiten BUMN Karya Siap Jadi Pemenang Proyek Baru IKN

admin.aiotrade 09 Des 2025 3 menit 16x dilihat
Emiten BUMN Karya Siap Jadi Pemenang Proyek Baru IKN

Proyek IKN Jadi Katalis Baru untuk Emiten BUMN Karya


Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) kini menjadi salah satu proyek besar yang memberikan dorongan positif bagi sejumlah emiten BUMN karya. Berbagai perusahaan konstruksi nasional, seperti PT PP Tbk (PTPP), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), telah mendapatkan kontrak baru di kawasan IKN. Proyek-proyek ini tidak hanya menambah backlog perusahaan tetapi juga meningkatkan visibilitas pendapatan di masa depan.

Kontrak Besar yang Diperoleh PTPP

PTPP, melalui konsorsium PP–ADHI–JAKON KSO, resmi memulai pembangunan fasilitas pendukung Otorita IKN. Proyek ini mencakup berbagai bangunan seperti gedung kantor pendukung OIKN, gedung Polresta IKN, bangunan utilitas, masjid kawasan, lapangan upacara, dan lapangan olahraga. Selain itu, PTPP juga terlibat dalam pembangunan gedung dan kawasan Sidang Paripurna senilai Rp 1,258 triliun serta proyek pembangunan gedung lembaga DPD RI senilai Rp 1,48 triliun.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Proyek Lain yang Dikerjakan WSKT dan WIKA

Selain PTPP, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) juga mendapat kontrak untuk membangun gedung dan kawasan lembaga DPR RI di IKN senilai Rp 1,84 triliun dengan target penyelesaian pada tahun 2027. Sementara itu, WIKA mendapat dua proyek baru, yaitu pembangunan bangunan gedung dan kawasan lembaga DPR II senilai Rp 1,96 triliun serta paket pembangunan gedung dan kawasan lembaga MPR serta bangunan pendukung senilai Rp 1,70 triliun.

Direktur Utama WIKA, Agung BW, menyebutkan bahwa perusahaan sedang mengerjakan beberapa proyek strategis lainnya di IKN, termasuk pembangunan Jalan Paket G di KIPP 1B–1C, Tol Sepinggan – Paket 1B, serta Tol IKN Segmen 3B-2 Kariangau–Tempadung. Selain itu, WIKA juga menangani pekerjaan Jalan Kawasan Hankam dan Lingkar Sepaku di KIPP serta pembangunan Jaringan IPAL 1 dan 3 KIPP IKN.

Anak Usaha WIKA Juga Terlibat

Anak usaha WIKA, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE), mendapatkan paket pekerjaan konstruksi terintegrasi rancang dan bangun (design and build) untuk pembangunan bangunan gedung dan kawasan lembaga DPR II. Proyek senilai Rp1,96 triliun ini dikerjakan melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) bersama WIKA.

Analisis dari Ahli Sekuritas

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengatakan bahwa kontrak baru IKN yang didapat oleh PTPP, WIKA, dan WSKT menjadi dorongan positif bagi sektor konstruksi. Namun, dampaknya berbeda-beda untuk tiap emiten. PTPP dinilai paling siap mengonversi proyek menjadi kinerja karena kondisi keuangan yang lebih stabil. Sementara WIKA dan WSKT masih menghadapi tantangan terkait arus kas dan beban utang.

Prospek dan Rekomendasi

Senior Investment Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan bahwa kinerja emiten BUMN karya masih lemah di tahun 2025. Namun, proyek IKN bisa menjadi langkah positif untuk raihan kontrak baru. Pergerakan saham PTPP dan ADHI saat ini tengah masuk fase bearish consolidation, sehingga Nafan merekomendasikan wait and see untuk kedua saham tersebut.

Sukarno melihat peluang pemulihan sektor konstruksi di tahun 2026 seiring ekspektasi penurunan suku bunga dan kelanjutan pembangunan IKN. PTPP dinilai berpotensi memimpin pemulihan karena backlog kuat dan leverage lebih terjaga. WIKA memiliki peluang ikut membaik, tetapi dengan risiko lebih tinggi terkait likuiditas. Sementara WSKT masih berada dalam zona pemulihan panjang.

Rekomendasi Investasi

Sukarno merekomendasikan hold/buy untuk PTPP dengan target harga 12 bulan di Rp 450 – Rp 500 per saham. Untuk ADHI, rekomendasi hold/speculative buy disematkan dengan target harga 12 bulan Rp 320 per saham, dengan potensi Rp 350 – Rp 360 per saham jika merger dan kontrak baru berjalan lancar.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan