aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Kinerja perusahaan kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) menghadapi berbagai tantangan di akhir tahun 2025. Tantangan utama datang dari penurunan harga CPO global. Menurut data dari trading economics, harga CPO saat ini berada di level MYR 4.146 per ton. Harga ini turun sebesar 0,07% dalam sebulan dan terkoreksi sebesar 6,71% sejak awal tahun alias year to date (YTD).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Meskipun ada penurunan harga, beberapa perusahaan kelapa sawit tetap optimis bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan di tahun 2026. Salah satunya adalah PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), yang optimistis pendapatan tahun 2026 bisa tumbuh secara double digit. Deni Agustinus, Corporate Secretary SSMS, menyatakan bahwa proyeksi pendapatan tahun 2026 mereka optimistis menargetkan kenaikan sebesar 10%-20% dari target 2025.
Per 30 September 2025, SSMS membukukan laba bersih sebesar Rp 1 triliun, naik dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024 sebesar Rp 609,3 miliar. Laba bersih per saham pun senilai Rp 105,40 per lembar. Pendapatan yang dikantongi sebesar Rp 11,01 triliun per kuartal III 2025, naik dari Rp 7,38 triliun pada periode sama tahun lalu. Capaian ini sudah mencakup 113% dari target pendapatan SSMS sepanjang 2025.
Untuk tahun 2026, SSMS menetapkan proyeksi produksi TBS sebanyak 2.010.098 metrik ton. Ini tumbuh 29% dari proyeksi sepanjang tahun 2025 dan naik 19% dari target awal tahun ini. Untuk produksi CPO, perseroan menetapkan target produksi sebanyak 773.413 metrik ton di tahun depan. Ini tumbuh 44% dari forecast 2025, dan tumbuh 23% dari target awal 2025.
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) juga percaya diri bisa mencatatkan peningkatan pendapatan di tahun depan. Namun, SGRO belum menyampaikan target pertumbuhan pendapatan maupun produksi di tahun 2026. Dengan harga CPO yang diperkirakan akan tetap baik tahun 2025 dan produksi CPO dan TBS yang diperkirakan akan lebih baik dari tahun sebelumnya, diharapkan dapat membantu terhadap kinerja keuangan pada tahun 2025 ini.
Selain itu, ada emiten CPO yang menghadapi tantangan dari dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Yaitu, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT). Area yang terdampak bencana banjir tersebut sebanyak di bawah 2% dari total luas lahan perkebunan perseroan di Sumatra Utara. Kondisi area yang terdampak genangan air terus membaik dan tidak berdampak signifikan baik dari aspek finansial, fasilitas produksi dan kegiatan operasional perseroan.
Fajar Triadi, Corporate Secretary LSIP, menjelaskan bahwa LSIP terus memantau kondisi di lapangan guna mengantisipasi dan memastikan kesehatan, keselamatan, dan keamanan bagi para karyawan yang bekerja di lokasi. Sementara itu, ANJT punya kebun di Provinsi Sumatra Utara melalui entitas anak, PT Austindo Nusantara Jaya Agri (ANJA) dan PT Austindo Nusantara Jaya Agri Siais (ANJAS). Berdasarkan laporan, kegiatan di Kebun ANJA tetap berjalan normal dan tidak mengalami dampak banjir maupun tanah longsor, sehingga seluruh kegiatan operasional berlangsung seperti biasa.
Sementara itu, Kebun ANJAS mengalami gangguan operasional akibat curah hujan yang tinggi dan genangan air di beberapa bagian areal kebun, serta adanya sejumlah titik longsor pada jalan poros ANJAS-Padang Sidempuan yang menghambat proses logistik. Meskipun demikian, seluruh fasilitas, seperti perumahan karyawan, gudang, PKS, kantor kebun, dan klinik dalam kondisi aman. Seluruh karyawan serta staf berada dalam kondisi selamat dan sehat.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe melihat, meskipun harga CPO mengalami penurunan, tetapi emiten sawit masih bisa mencatatkan margin yang bagus selama harga masih di kisaran MYR 4.000 per ton. Bahkan jika ada koreksi sesaat ke MYR 3.800 per ton, mereka masih aman. Hal ini lantaran biaya produksi para emiten yang biasanya di bawah MYR 1.500 per ton.
Di sisi lain, pertumbuhan produksi nasional juga diproyeksikan tidak sampai 2% pada tahun 2026. Ini karena mayoritas tanaman sawit secara nasional yang sudah tidak ada pada rentang usia produktif, yaitu di atas 15 tahun. Replanting juga masih akan berjalan lambat, khususnya pada perkebunan milik petani rakyat. Sebab, harga yang tinggi membuat para petani rakyat ogah melakukan replanting dan memilih menjual produksi di harga atas. Pada saat yang bersamaan, emiten besar seperti LSIP dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang aktif replanting, sehingga berpotensi memperlambat pertumbuhan produksi.
Di sisi lain, banjir bandang dan tanah longsor Sumatra dinilai Kiswoyo tak akan menjadi katalis negatif signifikan ke kinerja emiten CPO yang terdampak. Meskipun ada biaya yang keluar untuk perbaikan, tetapi kemungkinan tidak akan sampai mengganggu arus kas karena lahan yang terdampak hanya di bawah 2%.
Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, Banjir Sumatra bisa menaikan harga CPO, mengingat ada suplai yang terganggu. Namun, hal ini harus didorong dengan meningkatnya permintaan. Selain itu, momen Natal dan Tahun Baru bisa menjadi momen meningkatnya permintaan, sehingga bisa berpotensi menaikan harga CPO. Di sisi lain banjir juga bisa berdampak pada emiten CPO yang terdampak karena ada potensi penurunan volume.
Prospek dan Rekomendasi Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah menjelaskan, harga saham emiten CPO sudah naik banyak sepanjang tahun 2025. Tengok saja, harga saham PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang naik 94,77% YTD. Saham SSMS naik 23,46% YTD, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) naik 54,74% YTD, LSIP naik 18,97% YTD, ANJT melesat 144,76% YTD, dan AALI 18,55% YTD.
Mayoritas saham-saham CPO sudah mengalami kenaikan yang 30-40% YTD, bahkan lebih dari 100% sejak awal tahun sampai ke titik tertinggi. Sehingga, jika terjadi koreksi harga saham emiten CPO dalam beberapa waktu belakangan juga merupakan hal yang wajar. Misalnya, dalam sebulan terakhir, ANJT sudah turun 11,39%, AALI turun 4,55%, LSIP 16,25%, TAPG 13,37%, dan DSNG 9,82%. Sementara, efek Banjir Sumatra perlu dilihat dalam beberapa waktu ke depan, karena cuaca ekstrim masih berlangsung.
Alhasil, Fath masih merekomendasikan wait and see untuk emiten CPO. Azis bilang, koreksi saham emiten CPO juga merupakan hal wajar, mengingat harga yang sudah tinggi. Namun, hal ini bisa menjadi kesempatan bagi investor untuk masuk, karena valuasi akan terlihat murah dan memiliki potensi kenaikan. Tetapi kami lebih menyarankan untuk melihat momentum adanya pembalikan arah.
Di tahun 2026, prospek emiten CPO juga masih positif lantaran ada penerapan B50 yang berpotensi meningkatkan permintaan domestik. B50 juga bisa menambah permintaan dari domestik dan akan mengurangi ekspor, sehingga tetap menjaga harga CPO di atas MYR 4.000 per ton. Azis merekomendasikan beli untuk SSMS dengan target harga Rp 1.920 per saham. Sementara, Kiswoyo merekomendasikan beli untuk LSIP, AALI, dan ANJT dengan target harga jangka panjang masing-masing Rp 2.000 per saham, Rp 10.000 per saham, dan Rp 2.000 per saham.