
aiotrade.CO.ID - JAKARTA
Di akhir tahun 2026, sejumlah perusahaan tercatat mengumumkan aksi korporasi dalam bentuk pembelian kembali saham atau buyback. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga saham dari perusahaan yang bersangkutan.
Beberapa emiten telah merencanakan aksi buyback dengan nominal yang berbeda-beda. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) misalnya, akan melakukan buyback dengan nilai maksimum Rp 250 miliar. Periode pelaksanaan buyback ini berlangsung mulai hari ini hingga 15 Maret 2026.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain itu, PT Gema Grahasarana Tbk (GEMA) juga merencanakan buyback saham dengan anggaran maksimal Rp 7 miliar. Periode penerapan buyback tersebut berlangsung dari 12 Desember 2025 hingga 12 Maret 2026. Jumlah saham yang dibeli oleh GEMA bergantung pada harga saham di bursa.
Sementara itu, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) telah memasuki periode buyback saham sejak 19 November 2025 hingga 19 Februari 2026. Namun, DEWA mengumumkan pemangkasan alokasi dana buyback dari sebelumnya Rp 1,7 triliun menjadi Rp 950 miliar.
PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) juga merencanakan buyback saham dengan anggaran sebesar Rp 140 miliar. Periode pelaksanaannya berlangsung dari 15 Desember 2025 hingga 6 Maret 2026.
Tidak hanya itu, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga merencanakan buyback saham dengan alokasi dana sebesar Rp 1,5 triliun. Proses buyback saham AMRT telah dimulai sejak 8 Desember 2025 dan akan berlanjut hingga 6 Maret 2026.
Menurut Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan, ada dua faktor utama yang melatarbelakangi aksi buyback saham oleh sejumlah emiten belakangan ini. Pertama, valuasi saham yang dinilai terlalu rendah oleh manajemen perusahaan. Kedua, ketersediaan kas internal yang cukup dari pihak emiten.
Ekky menyebut bahwa meskipun IHSG sudah beberapa kali mencetak level tinggi, masih ada saham-saham tertentu yang belum sepenuhnya mencerminkan fundamental dan prospek jangka menengah atau panjang perusahaan. Dalam situasi seperti ini, buyback menjadi instrumen strategis untuk memberikan sinyal kepercayaan manajemen terhadap nilai intrinsik perusahaan serta membantu menstabilkan pergerakan harga saham di pasar.
Selain itu, aksi buyback juga menjadi indikasi kondisi neraca perusahaan yang relatif sehat. Dengan ruang kas yang cukup, emiten dapat mengalokasikan dana ke aktivitas non-operasional tanpa mengganggu likuiditas utama perusahaan.
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyampaikan bahwa harga saham yang dibeli kembali oleh emiten memiliki peluang naik, terutama jika didukung oleh fundamental perusahaan yang kuat dan analisis teknikal yang menunjukkan sinyal positif. Dalam kondisi demikian, aksi buyback sering diikuti oleh pelaku pasar dan investor lain, sehingga memperkuat tren kenaikan harga saham.
Untuk tahun depan, Nico memperkirakan tren aksi buyback saham oleh emiten di bursa akan bergantung pada kondisi makroekonomi nasional. Jika pertumbuhan ekonomi nasional stabil atau bahkan terakselerasi, maka kebutuhan emiten untuk melakukan buyback diperkirakan akan lebih minim. Namun, potensi aksi buyback tetap bergantung pada kebijakan strategis masing-masing emiten.
Nico menyarankan investor yang ingin mengincar emiten yang sedang aktif buyback saham untuk selalu memperhatikan fundamental perusahaan dan potensi valuasi saham di masa depan. Investor perlu mengombinasikan analisis fundamental dan teknikal agar terhindar dari risiko membeli saham di harga yang sudah terlalu tinggi.
Ekky menyebut bahwa dari sekian emiten yang belakangan ini menggelar aksi buyback, KLBF, DEWA, dan AMRT dianggap relatif menarik untuk dicermati investor. Sebab, buyback pada emiten-emiten tersebut dilaksanakan di tengah fundamental yang masih stabil dan model bisnis yang cenderung defensif. Hal ini membuatnya lebih sesuai bagi investor dengan horizon jangka menengah hingga panjang.
Ekky menargetkan harga saham KLBF berpotensi mengarah ke kisaran Rp 1.500 per saham–Rp 1.600 per saham, kemudian saham AMRT bergerak ke area Rp 2.300 per saham–Rp 2.400 per saham, dan DEWA berpeluang menuju level Rp 800 per saham.