
Perempuan Peneliti Indonesia Raih Penghargaan L’Oréal–UNESCO For Women in Science 2025
Empat perempuan peneliti dari berbagai institusi di Indonesia berhasil meraih penghargaan L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) 2025. Mereka masing-masing mendapatkan dukungan pendanaan riset senilai Rp 400 juta serta kesempatan untuk berjejaring dengan komunitas perempuan peneliti di dunia.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Berikut adalah empat perempuan peneliti yang terpilih:
-
Maria Apriliani Gani – Dosen dan peneliti di Sekolah Farmasi ITB. Ia mengembangkan model seluler untuk terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal. Pendekatan yang digunakannya memungkinkan skrining kandidat obat yang dapat sekaligus menstimulasi pembentukan tulang dan menekan pengeroposan tulang, tanpa menggunakan animal testing.
-
Lutviasari Nuraini – Dari Pusat Riset Metalurgi BRIN. Ia mengembangkan material implan mampu luruh berbasis paduan magnesium untuk regenerasi tulang. Dengan menambahkan unsur logam tanah jarang Neodymium (Nd), riset ini bertujuan meningkatkan kekuatan mekanik dan mengendalikan laju degradasi magnesium agar implan tetap stabil selama proses penyembuhan.
-
Anak Agung Dewi Megawati – Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa di Denpasar, Bali. Dia mengembangkan terapi berbasis mRNA antivirus spektrum luas untuk berbagai penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Penelitiannya ini dinilai menjadi terobosan besar dalam pengendalian penyakit infeksi tropis.
-
Helen Julian – Dosen di Program Studi Teknik Kimia dan Teknik Pangan, Fakultas Teknologi Industri, ITB. Helen ikut mengembangkan sistem terpadu Membrane Photobioreactor–Nanofiltration untuk mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) menjadi sumber daya bernilai tinggi. Melalui teknologi ini, mikroalga memanfaatkan senyawa dalam air limbah untuk tumbuh, menghasilkan biomassa yang dapat dikonversi menjadi produk bermanfaat seperti bioenergi dan bahan pangan, sekaligus meningkatkan kualitas air limbah.
Proses Seleksi yang Ketat
Keempat peneliti ini terpilih dari antara 150 pendaftar yang menyerahkan proposal penelitian asal berbagai universitas dan lembaga riset di seluruh Indonesia. Dan sebanyak 70 persen di antaranya datang dari perempuan peneliti di bawah usia 40 tahun. "Tahun ini istimewa karena jumlah pendaftar terbesar dalam lima tahun terakhir," kata Ketua Dewan Juri L’Oréal–UNESCO For Women in Science 2025, Herawati Sudoyo.
Disebutkannya, mayoritas proposal penelitian yang masuk berakar pada potensi lokal dan keanekaragaman hayati Indonesia. Mulai dari pengembangan tanaman asli menjadi bahan aktif bernilai tinggi, hingga inovasi pengelolaan limbah menjadi sumber daya berkelanjutan. "Selain kebermanfaatan bagi bangsa, perempuan peneliti yang terpilih menunjukkan track record dan potensi kolaborasi; karena tanpa kolaborasi, penelitian hampir mustahil untuk terealisasi,” ujar profesor di bidang biologi molekuler ini menambahkan.
Dukungan dari Pemerintah dan L’Oréal
Dalam keterangan tertulis yang sama, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menegaskan bahwa perempuan memiliki kemampuan tak kalah dari laki-laki dalam sains dan matematis. Sejalan dengan inisiatif L’Oréal, Stella mengungkap upayanya memperkuat narasi pentingnya peran perempuan dalam penelitian dan inovasi; salah satunya melalui program ‘Science untuk Wanita dan Wanita untuk Science’ dan program di bawah Direktorat Diseminasi Sains dan Teknologi.
"Meningkatkan jumlah partisipasi perempuan dalam bidang sains bukan hanya persoalan kesetaraan, tetapi juga persoalan ekonomi. Karena, negara akan merugi jika tidak memanfaatkan potensi individu terbaik di bidangnya," tuturnya.
Presiden Direktur L'Oreal Indonesia Benjamin Rachow mengaku kalau penelitian dan inovasi adalah hal yang sangat mendasar bagi L'Oreal. Melalui program For Women in Science, perusahaan mendukung para perempuan peneliti untuk menghadirkan sains yang berdampak, memberikan akses jaringan kolaborasi, dan juga memberikan ruang bagi mereka untuk bersinar.
"Karena dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan,” katanya sambil menambahkan, selama lebih dari 22 tahun hadir di Indonesia, 79 perempuan peneliti telah mendapatkan dukungan untuk berkontribusi di berbagai bidang keilmuan, "Sekaligus menciptakan multiplier effect yang menumbuhkan generasi baru ilmuwan perempuan di seluruh Indonesia."