
Rencana Pendidikan Indonesia yang Diumumkan oleh Presiden Prabowo
Presiden Prabowo mengungkapkan beberapa rencana penting terkait pendidikan di Indonesia dalam rangka meningkatkan investasi pada sumber daya manusia (SDM). Rencana tersebut mencakup berbagai inisiatif seperti penambahan dana beasiswa, pembagian buku, dan pengadaan studio khusus untuk pembelajaran. Pengumuman ini dilakukan saat Presiden membuka Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Senin, 20 Oktober 2025.
Menjaring Anak Berbakat dengan Kecerdasan Tinggi
Presiden Prabowo menyoroti permasalahan yang sering terjadi, yaitu adanya anak dengan kecerdasan tinggi yang terhalang oleh faktor ekonomi. Ia menyatakan bahwa pemerintah harus memastikan semua anak berkesempatan untuk berkembang, tidak hanya dari kalangan menengah ke atas.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kita harus menjaring mereka dan jangan anggap bahwa mereka itu anak-anak orang menengah ke atas, banyak anak orang bawah. Kita harus cari mereka,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya fokus pada investasi SDM sebagai bentuk dukungan terhadap masa depan bangsa.
Alokasi Dana untuk Program Beasiswa LPDP
Dalam kesempatan ini, Presiden Prabowo menyebutkan bahwa sebagian dari uang pengganti kerugian negara akibat korupsi senilai Rp13 triliun akan dialokasikan untuk program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
“LPDP akan saya tambahkan, uang-uang dari sisa efisiensi, uang-uang yang kita dapat dari koruptor itu sebagian besar kita investasi di LPDP,” katanya.
Menurutnya, dana ini bisa digunakan untuk mendukung masa depan bangsa, termasuk melalui program beasiswa yang lebih luas.
Pengadaan Interactive Flat Panel di Sekolah
Salah satu inisiatif yang dicanangkan adalah pengadaan Interactive Flat Panel (IFP) berukuran 75 inci di sekolah-sekolah dari jenjang SD hingga SMA. IFP ini dirancang untuk mendukung proses belajar mengajar secara digital.
“Kita tahun ini akan memberi satu interactive panel, interaktif digital, 75 inci, di tiap sekolah SD, SMP, SMA yang kita sudah adakan sekarang adalah kalau tidak salah sudah dibagi ke mendekati 50.000 sekolah,” jelas Prabowo.
Target tahun 2025 adalah pembagian 288 ribu IFP ke seluruh sekolah. Dengan adanya IFP, siswa di daerah terpencil dapat memiliki akses pendidikan yang lebih baik.
“Jadi, sekolah-sekolah terluar, terpencil yang tidak punya akses kepada guru-guru yang baik atau guru yang cakap di bidangnya, bisa dibantu dengan ini,” tambahnya.
Pembuatan Studio Pengajaran di Pusat dan Sekolah-sekolah
Selain IFP, Presiden Prabowo juga mengumumkan rencana pembuatan studio pengajaran di pusat dan sekolah-sekolah. Studio ini akan memungkinkan para guru mengajar secara langsung dan pelajaran bisa diterima di seluruh pelosok Indonesia.
“Sekarang, dari tempat studio terpusat bisa ngajar, bisa diterima 330 ribu sekolah dan yang sulit dapat internet, WiFi, ada teknologi sangat murah bisa kita pasang di tiap sekolah,” ujarnya.
Prabowo juga menargetkan peningkatan jumlah IFP menjadi 3 unit per sekolah setelah tahun ini hanya mampu menyediakan 1 unit.
“Berarti di tiap sekolah akan ada 4 ruangan yang punya layar ini. Mudah-mudahan tahun 2027 bisa nambah 2 layar lagi, jadi 6 kelas tiap sekolah bisa punya layar ini,” tambahnya.
Pembagian Buku untuk Anak Sekolah
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menceritakan pertemuan dengan siswa yang menulis dengan huruf sangat kecil agar menghemat kertas. Ia menyarankan agar buku-buku sekolah memiliki tulisan yang lebih besar.
“Saya kira perlu kembali ada pelajaran menulis. Menulis dengan baik, tapi tulisannya harus besar,” katanya.
Ia khawatir jika tulisan terlalu kecil, maka anak-anak akan terpaksa menggunakan kacamata.
“Menteri Keuangan kalau perlu kita bagi buku-buku sekolah yang tulisannya besar-besar, saya khawatir kalau nulisnya sangat kecil ujungnya pakai kacamata semua,” tandasnya.