Super Bank Indonesia Luncurkan Saham Perdana di BEI

PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/12). Ini menjadi emiten ke-27 yang melantai di bursa pada akhir tahun ini. Dalam debutnya, harga saham SUPA mengalami kenaikan signifikan sebesar 24,41% ke level Rp 790 atau melebihi batas harga tertinggi perdagangan harian atau auto rejection atas (ARA) pada pukul 09.00 WIB.
Volume saham yang diperdagangkan pagi ini tercatat sebanyak 1,97 juta dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,56 miliar. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1.048 kali. Sementara itu, kapitalisasi pasar Super Bank Indonesia mencapai Rp 26,78 triliun.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Supra Bank mencatatkan permintaan yang sangat tinggi selama gelaran penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO), dengan kelebihan permintaan hingga 318,69 kali. Selain itu, IPO SUPA juga mencatatkan rekor karena diburu lebih dari 1 juta order.
Harga pelaksanaan IPO ditetapkan sebesar Rp 635 per lembar saham, dengan jumlah saham baru yang dilepas sebanyak 4,40 miliar saham atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Perusahaan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 2,79 triliun dari gelaran IPO tersebut.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan menyatakan bahwa dukungan pemegang saham dan ekosistem digital yang kuat akan memperkuat posisi perusahaan dalam memperluas akses kredit, mempercepat inovasi produk, serta memberikan layanan finansial yang aman dan relevan bagi masyarakat Indonesia.
"Modal yang diperoleh dari IPO ini akan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang kami," ujar Tigor saat berada di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/12).
Berdasarkan prospektus perusahaan, sekitar 70% dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kerja untuk memperkuat penyaluran kredit kepada segmen underbanked baik ritel maupun UMKM, yang menjadi fokus utama pertumbuhan Superbank. Sementara itu, sekitar 30% akan dialokasikan untuk belanja modal, termasuk pengembangan produk pendanaan dan pembiayaan, sistem pembayaran digital, infrastruktur teknologi informasi, penguatan sistem operasional, serta investasi jangka panjang di AI, data analytics, dan cybersecurity.
Superbank berkomitmen untuk membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham usai IPO sepanjang perusahaan mencatatkan saldo laba positif. Porsi dividen yang direncanakan mencapai maksimal 85% dari laba bersih tahun berjalan. Namun, realisasi pembagian dividen akan mempertimbangkan sejumlah indikator fundamental dan strategi bisnis seperti kinerja keuangan bank, tingkat rasio KPMM, kesehatan bank, kondisi keuangan dan proyeksi pertumbuhan laba, kebutuhan permodalan untuk masa depan, rencana ekspansi, keberlanjutan usaha, kondisi pasar dan ekonomi, serta kepentingan pemegang saham serta kepatuhan terhadap regulasi.
Potensi Pertumbuhan Superbank di Pasar Digital
CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menilai potensi pertumbuhan Superbank masih sangat besar. Ia menilai ekosistem Grab yang memiliki hampir 50 juta pengguna, sementara jumlah nasabah Superbank saat ini hanya sekitar 5 juta. Penetrasi Superbank ke dalam ekosistem Grab masih sekitar 10%.
Menurut Bernadus, peluang tersebut akan semakin besar seiring dengan meningkatnya literasi digital dan literasi keuangan masyarakat Indonesia. Ia optimistis Superbank berpotensi menjadi bank digital terbesar di Indonesia dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Hal tersebut didukung oleh kepemilikan ekosistem Grab, yang dinilai sebagai salah satu ekosistem e-commerce terbesar di Indonesia.
Selain itu, Superbank juga memiliki dukungan dari ekosistem Emtek yang memiliki media seperti Vidio, SCMA, serta berbagai rumah sakit yang bisa dimanfaatkan ke depannya untuk penyaluran berbagai produk perbankan, mulai dari funding maupun kredit.
Strategi Digital-First dan Inovasi
Sejak awal transformasi menjadi bank digital, Superbank menempatkan strategi digital-first dengan memanfaatkan kekuatan ekosistem Grab dan OVO untuk menjangkau jutaan masyarakat Indonesia. Pendekatan ini dilakukan dengan menghadirkan layanan perbankan langsung di platform sehingga akses ke layanan keuangan menjadi lebih mudah dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Strategi ini dimulai pada 2024 ketika Superbank menjadi bank digital pertama di Indonesia. Pengguna dan mitra Grab dapat membuka rekening, menabung, serta menggunakan rekening sebagai metode pembayaran langsung di aplikasi Grab tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.
Inovasi berlanjut pada 2025 melalui peluncuran OVO Nabung by Superbank, produk tabungan berbasis ekosistem sehingga pengguna OVO dapat menabung secara instan dan aman langsung dari aplikasi OVO dengan bunga 5% per tahun, serta Kartu Untung, produk tabungan berbasis gamifikasi hasil kolaborasi dengan KakaoBank.
Implementasi strategi ekosistem dinilai efektif dalam membangun kredibilitas, mempercepat adopsi, dan menyederhanakan pengalaman perbankan pengguna. Sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, Superbank telah melayani lebih dari 5 juta nasabah. Tingkat engagement juga terus meningkat, tercermin dari rata-rata transaksi harian yang tumbuh lebih dari 40% pada kuartal ketiga 2025 dibandingkan periode sebelumnya.
Ke depannya, Superbank akan terus memperkuat sinergi dengan ekosistem digital Grab–OVO dan Emtek di Indonesia, serta didukung oleh pemegang saham strategis lainnya seperti Singtel, KakaoBank, dan GXS.