ESDM: Target Listrik Bersih 2025 Sulit Tercapai

admin.aiotrade 13 Nov 2025 3 menit 12x dilihat
ESDM: Target Listrik Bersih 2025 Sulit Tercapai

Tantangan Mencapai Target Bauran EBT di Indonesia

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa target bauran listrik dari energi baru terbarukan (EBT) sebesar 15,9 persen pada tahun 2025 akan sulit tercapai. Hingga Oktober 2025, kapasitas listrik berbasis energi bersih baru mencapai 14,4 persen dari total kapasitas nasional. Hal ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno usai rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis, 13 November 2025.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Tri, dari total kapasitas EBT tersebut, tenaga air menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi lebih dari 7 persen. Disusul biomassa sebesar 3 persen, panas bumi 2,6 persen, surya 1,3 persen, dan bayu 0,1 persen. Sementara itu, pembangkit EBT lainnya masih berkontribusi kecil.

Dua Faktor yang Mempengaruhi Capaian EBT

Capaian tersebut mencerminkan dua hal. Pertama, Indonesia memiliki sumber daya EBT besar, tetapi percepatan pengembangannya masih perlu ditingkatkan agar sejajar dengan negara maju dalam transisi energi. Kedua, sistem pembangkit nasional masih sangat bergantung pada energi fosil, terutama batu bara, yang hingga kini menjadi sumber utama pasokan listrik nasional.

“Kita belum bisa sepenuhnya meninggalkan PLTU karena perannya masih penting untuk menjaga keandalan sistem,” kata Tri. Ia menambahkan, meski kebijakan dekarbonisasi terus menguat di tingkat nasional maupun global, proses transisi energi tidak bisa berlangsung cepat. Pembangkit berbahan bakar gas juga masih memegang peranan penting karena sifatnya yang fleksibel.

“PLTG bisa menyesuaikan beban listrik dan berfungsi sebagai penyeimbang, terutama saat kebutuhan meningkat atau saat produksi listrik dari EBT, seperti surya dan bayu, menurun,” jelasnya.

Perjuangan Menuju Energi Bersih

Tri mengungkapkan, capaian EBT sebesar 14,4 persen saat ini merupakan hasil perjuangan panjang. Pembangunan PLTA di wilayah pedalaman menghadapi banyak tantangan, eksplorasi panas bumi berisiko tinggi karena sebagian besar berada di kawasan hutan, sementara PLTS memang cepat dibangun tetapi sangat bergantung pada kondisi cuaca.

“Perjuangan menuju energi bersih masih panjang. Diperlukan percepatan investasi, infrastruktur, dan dukungan teknologi agar target bauran energi bisa tercapai,” ujarnya.

Data Kapasitas Pembangkit Listrik Nasional

Hingga Oktober 2025, kapasitas pembangkit listrik nasional mencapai 107 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, listrik dari EBT baru mencapai 14,4 persen atau sekitar 15,47 GW. Adapun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan batubara masih mendominasi dengan porsi 55,1 persen atau sekitar 59,07 GW.

Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034

Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Dari jumlah itu, EBT mendominasi 42,6 GW atau 61 persen, diikuti sistem penyimpanan energi (energy storage) sebesar 10,3 GW (15 persen) dan energi fosil sebesar 16,6 GW (24 persen).

RUPTL 2025–2034 juga menetapkan bahwa porsi EBT dalam bauran listrik nasional akan meningkat secara bertahap. Pada 2025, EBT ditargetkan mencapai 15,9 persen, naik menjadi 21 persen pada 2030. Setelah itu, peningkatannya diproyeksikan lebih cepat, yakni 26,1 persen pada 2031, 29 persen pada 2032, 32,5 persen pada 2033, dan mencapai 34,3 persen pada 2034.

Proyeksi Tambahan Kapasitas Pembangkit

RUPTL tersebut juga menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt selama periode 2025–2034. Dari total itu, 42,6 GW atau 61 persen akan berasal dari pembangkit berbasis EBT. Sementara itu, 10,3 GW (15 persen) dialokasikan untuk sistem penyimpanan energi (storage), dan 16,6 GW (24 persen) sisanya berasal dari energi fosil, terdiri atas gas sebesar 10,3 GW dan batubara sebesar 6,3 GW.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan