Fahri Septian Soroti Ironi Proliga Putra yang Hanya Diikuti 4 Klub Tahun Depan

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 12x dilihat
Fahri Septian Soroti Ironi Proliga Putra yang Hanya Diikuti 4 Klub Tahun Depan


Pertandingan di sektor putra Proliga 2026 kini semakin mengkhawatirkan karena jumlah peserta yang terus berkurang. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap regenerasi tim nasional yang seharusnya bisa diperoleh dari kompetisi tersebut.

Banyak klub yang mundur dari Proliga membuat jumlah peserta di sektor putra semakin sedikit. Salah satu contohnya adalah Palembang Bank Sumsel Babel yang memutuskan untuk tidak berpartisipasi pada musim depan. Dari 8 peserta pada 2023, jumlahnya kini hanya setengahnya. Sebelumnya, beberapa klub seperti Jakarta BNI 46 dan Surabaya Samator juga mundur pada 2024, lalu disusul oleh Jakarta Pertamina Pertamax, Jakarta STIN BIN, dan Kudus Sukun Badak pada 2025. Meski Samator kembali pada 2025, PBVSI juga membentuk tim baru, yaitu Jakarta Garuda Jaya, sebagai wadah bagi pemain junior.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Namun, hal ini belum cukup untuk menjaga kualitas kompetisi. Banyak pemain top dari klub yang bubar pindah ke klub yang tetap bertahan, sehingga banyak pemain yang tergusur ke bangku cadangan. Ini menyebabkan waktu tanding mereka berkurang.

Fahri Septian Putratama, salah satu pemain luar negeri yang pernah bermain di LavAni, menyampaikan kekhawatirannya terhadap situasi saat ini. Ia merasa sangat disayangkan bahwa jumlah atlet di Proliga kini semakin sedikit, bahkan ada pemain yang tidak digunakan.

"Regenerasi timnas Indonesia makin berkurang karena talent scouting semakin sulit," ujarnya.

Menurut Fahri, keberadaan lebih banyak klub peserta di Proliga akan membantu proses regenerasi pemain. "Dari usia muda hingga senior, semua bisa berkembang. Seperti yang terjadi di Garuda Jaya, yang berhasil melahirkan pemain-pemain muda untuk timnas U-21."

Fahri juga menyebutkan bahwa level persaingan di Proliga justru menurun ketika para pemain asing mulai memiliki prestasi di luar negeri. Ia sendiri pernah bermain di Liga Voli Bulgaria dan menyaksikan bagaimana pemain luar negeri tertarik untuk bertanding di Proliga.

"Saya sering mendengar teman-teman di luar negeri bertanya, 'Di Indonesia gimana liganya? Saya dengar di sana bagus, gajinya tinggi, terus pelayanannya bagus.' Mereka menganggap Proliga sudah cukup baik," katanya.

Ironisnya, alasan utama penurunan partisipasi klub adalah beban finansial yang terlalu besar. Kualitas pemain asing di Proliga tidak bisa dipandang remeh. Banyak dari mereka berasal dari negara-negara dengan kompetisi elite seperti Italia atau Turki.

Keresahan ini juga pernah disampaikan oleh Presiden RI Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, yang mengasuh LavAni sejak 2022. Dalam kicauannya di X pada Desember 2024, ia menyebutkan bahwa biaya operasional yang tinggi dan gaji pemain asing menjadi salah satu faktor penyebabnya.

"Tidak semua klub memiliki kemampuan finansial yang sama. Klub yang didanai oleh BUMN pasti memiliki batas anggaran," tulis SBY.

Ia juga menyoroti bahwa gaji pemain asing meningkat secara signifikan, melebihi kemampuan klub-klub lokal. Untuk itu, ia menyarankan agar PBVSI mempertimbangkan adanya salary cap atau batas maksimal gaji bagi pemain asing.

PBVSI telah merespons masukan tersebut dengan menerapkan aturan pembatasan gaji untuk Proliga 2026. Namun, apakah langkah ini cukup untuk mengembalikan semangat kompetisi tetap tinggi tetap menjadi pertanyaan besar.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan