
Fakta Baru Terungkap dari Kasus Suami Bunuh Istri di Banyuwangi
Di Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi, sebuah kasus tragis terjadi ketika seorang suami tega membunuh istrinya. Korban bernama Bu Dian atau BW, yang diketahui merupakan pegawai bank swasta ternama dan akan pensiun dalam dua tahun ke depan.
Deni Tri Rahayu, Ketua RT 04/01 Kelurahan Panderejo, mengungkapkan bahwa Bu Dian adalah salah satu pegawai lama yang pernah bekerja sebagai kasir sebelum dipindahkan ke beberapa lokasi seperti Moncar dan Jajak. Jabatannya dianggap lumayan karena pengalamannya yang panjang.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Dulu itu kan termasuk pegawai yang lama, yang pindah-pindah dia sempat jadi kasir, terus dipindah di Moncar, di Jajak. Itu kayaknya jabatannya lumayan, karena dia memang pekerja yang sudah sangat lama. Dua tahun lagi pensiun, karena sudah umur 50,” kata Deni.
Bu Dian juga sempat bercerita tentang rencana setelah pensiun. Menurutnya, ia akan menjalani kegiatan yang tidak berhenti.
“Habis ini saya nonstop kegiatan, karena dua tahun lagi pensiun,” katanya menirukan ucapan korban.
Aktif dalam Kegiatan PKK dan Pengajian Malam Jumat
Meskipun sibuk bekerja, Bu Dian dikenal aktif dalam lingkungan sekitar. Ia sering terlibat dalam kegiatan PKK dan pengajian malam Jumat.
“Aktif ya, di PKK aktif. Kalau yang lakinya nggak aktif lah. Yang perempuan aktif,” ujarnya.
Menurut Deni, Bu Dian adalah warga asli Panderejo, sedangkan suaminya, Gandhi (GDF), merupakan pendatang dan pegawai lembaga keuangan plat merah. “Yang perempuan. Yang laki kan orang baru sih itu,” tambahnya.
Warga sekitar masih terkejut dengan peristiwa tragis tersebut. Selama ini, pasangan tersebut dikenal harmonis dan ramah. “Ya harmonis, baik-baik aja. Warga nggak pernah tau maksudnya kalau ibu nggak harmonis atau gimana. Pokoknya itu ya pasangan ideal lah, intinya baik-baik aja,” ucap Deni.
Tidak pernah ada kabar percekcokan dari rumah mereka. “Selentingan-selentingan cekcok atau apa itu juga nggak pernah ada ya selama ini ya? Gimana ya? Saya nggak pernah tau ya,” katanya.
Detik-Detik Saat Kabar Mengejutkan Datang
Deni masih mengingat detik-detik saat kabar mengejutkan itu sampai ke telinganya. “Saya kan di belakang ya? Di belakang tuh ada yang telepon, ‘Coba jenengan keluar, itu rame-rame keluar ke atas.’ Itu lho Mbak Dian itu lho, Mbak Dian kayaknya sudah nggak ada, bu. Coba jenengan keluar, akhirnya saya lihat, oh iya benar-benar rame itu. Sudah jam 9-an ya?” ucapnya.
Ia tak bisa mendekat ke rumah korban karena sudah dijaga polisi. “Sudah ada polisi-polisi, saya nggak bisa masuk juga,” ujarnya.
Deni baru mengetahui kebenaran kabar itu setelah bertemu lurah setempat. “Baru ketemu sama Pak Lurah ini tadi, akhirnya ya itu baru jelas. Saya nggak mau menggali pada tempat yang salah gitu,” katanya.
Pelaku Mengaku Melalui WhatsApp
Kasus suami bunuh istri di Jalan Serayu Nomor 54, Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi, Jawa Timur, mengejutkan warga pada Senin (20/10/2025). Pelaku berinisial GDF (41), pegawai lembaga keuangan plat merah (BUMN), diduga membunuh istrinya BW (52) yang bekerja di bank swasta ternama.
GDF masih perjaka, sedangkan BW seorang janda dengan dua anak. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki satu anak lagi. “Jadi anaknya semua tiga. Yang pertama kuliah di Malang, yang kedua sekolah SMK, dan ketiga masih SMP. Yang tinggal di rumah ini dua anaknya, karena yang satu di Malang,” jelas Rosi.
Secara ekonomi, keluarga itu terbilang mapan. Keduanya bekerja dan aktif bersosialisasi di lingkungan sekitar.
Usai membunuh sang istri, GDF sempat mencari nomor kontak polisi melalui grup WhatsApp. Ia lalu mengirim pesan kepada anggota kepolisian dan mengaku telah melakukan pembunuhan. “Sekitar pukul 08.30 WIB, terduga pelaku ini mengirim pesan WhatsApp kepada salah satu personel Polresta Banyuwangi dari unit Laka. Ia menyampaikan ingin menyerahkan diri karena telah melakukan pembunuhan terhadap istrinya,” kata Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra.