
Kebencian dan kekerasan kembali muncul di tengah lingkungan pendidikan, ketika sebuah ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat (7/11) siang. Saat itu, para siswa sedang menjalankan ibadah Salat Jumat, yang kemudian dihancurkan oleh ledakan yang mengguncang sekolah tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Akibat dari kejadian ini, puluhan siswa mengalami luka-luka. Mayoritas korban mengalami luka bakar dan gangguan pendengaran. Mereka segera dilarikan ke sejumlah rumah sakit sekitar sekolah, seperti RS Islam Jakarta dan RS Yarsi. Kejadian ini menimbulkan rasa trauma dan kekhawatiran di kalangan masyarakat serta keluarga korban.
Sementara itu, terduga pelaku ditemukan di luar masjid sekolah, dengan kondisi luka. Ia membawa sebuah senjata mainan yang memiliki tulisan-tulisan yang berhubungan dengan paham Neo-Nazi, termasuk nama-nama pelaku teror. Hal ini memicu kecurigaan tentang motif dan latar belakang pelaku.
Berikut adalah fakta-fakta yang dikumpulkan:
Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta: 33 Masih Dirawat, 21 Sudah Dipulangkan
Polda Metro Jaya mengumumkan kondisi terkini korban ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading Jakarta Utara. Dari total 54 siswa yang dirawat, 21 telah dipulangkan dan 33 masih menjalani perawatan medis.
“Dari 54 siswa, 27 berada di RS Islam Jakarta dan 6 di RS Yarsi, dari 54 tinggal 33 orang, 21 sudah pulang dalam kondisi sudah baik,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto.

Dari korban yang masih dirawat, beberapa mengalami luka bakar dan gangguan pendengaran akibat ledakan yang terjadi di masjid sekolah; polisi berharap para siswa segera pulih dan bisa kembali ke aktivitas normal.
“Saat ini 33 orang masih dalam penangan medis,” imbuhnya.
7 Korban Ledakan SMAN 72 Dirawat di RS Yarsi: Luka Perut-Gangguan Pendengaran
Sebanyak tujuh korban ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta Utara kini dirawat di RS Yarsi, Cempaka Putih. Satu dari mereka mengalami luka berat di bagian perut dan menjalani operasi darurat, sementara enam lainnya dilaporkan mengalami gangguan pendengaran sebagai akibat trauma ledakan.
“Yang dalam perawatan observasi saat ini ada enam, satu di kamar operasi, sedang prosedur penanganan lukinya. Luka di area perut,” ujar Direktur Medis RS Yarsi, dr. Muhammadi.

Direktur Medik RS Yarsi menambahkan bahwa enam korban yang mengalami gangguan pendengaran saat ini masih dalam observasi intensif dan pihak rumah sakit telah menyiagakan tim trauma-center untuk memantau pemulihan mereka.
“Kita lihat sisanya itu luka kategori yellow zone, itu gangguan pendengaran ya, karena baru trauma ya,” kata dr. Muhammadi.
Pelaku Diduga Korban Bullying
Seorang siswa dari SMA Negeri 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara memberikan kesaksian terkait ledakan di sekolahnya pada Jumat siang (7/11). Ia menduga pelaku adalah siswa kelas 12 yang sebelumnya menjadi korban bullying dan kemudian melakukan aksi di masjid sekolah.

“Terus saya dapat info pelakunya terindikasi siswa, mungkin karena dia korban bully jadi mau balas dendam. Kelas 12,” kata Sena saat ditemui di lokasi, Jumat (7/11).
Kesaksian tersebut menambah dimensi motivasi terkait insiden, dengan dugaan bullying sebagai latar belakang pelaku. Polisi hingga kini masih mendalami bukti dan motif di balik ledakan yang menyebabkan puluhan siswa terluka di lokasi kejadian.
“Anaknya di Rumah Sakit Islam, dia (mau) bunuh diri,” tutur dia.
Pelaku Bawa Senjata Mainan
Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Lodewijk Freidrich Paulus memastikan bahwa benda menyerupai senjata api yang ditemukan dalam kejadian ledakan di SMA 72 Jakarta Utara bukanlah senjata sungguhan melainkan senjata mainan.

“Ada gambar itu tapi ternyata senjata mainan. Senjata mainan, bukan senjata beneran. Setelah kami cek itu senjata mainan,” ujar Lodewijk kepada wartawan di lokasi kejadian, Jumat (7/11).
Meski demikian, pemerintah dan aparat kepolisian menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan siapa yang membawa senjata mainan itu dan apa peran benda tersebut dalam rangkaian ledakan dan luka-luka yang terjadi.
“Itu kita belum tahu,” ujar dia menanggapi keberadaan pemilik senjata tersebut.
Polri Dalami Tulisan di Senjata Mainan milik Pelaku
Pihak kepolisian menemukan senjata mainan di lokasi ledakan di SMA 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dilengkapi tulisan-tulisan tertentu dan kini menjadi salah satu fokus pendalaman motif oleh polisi.
Di senjata mainan itu, terdapat sejumlah tulisan tertentu yang diduga berkaitan dengan terorisme dan paham neo-Nazi. Polisi saat ini tengah mendalami keterkaitan tulisan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan oleh terduga pelaku.

“Kita temukan jenis senjatanya senjata mainan, ada tulisan-tulisan tertentu, dan itu juga menjadi bagian yang kita dalami untuk mendalami motif bagaimana yang bersangkutan kemudian merakit dan kemudian melaksanakan aksinya,” kata Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Meski senjata yang ditemukan ternyata mainan, petugas tetap melakukan profiling terhadap terduga pelaku—termasuk identitas, lingkungan keluarga, hingga rumah tinggal—sementara proses investigasi sedang berlangsung.
“Sementara untuk terduga pelaku saat ini sudah kita dapatkan, anggota sedang melakukan pendalaman terkait dengan identitas pelaku, kemudian juga lingkungan pelaku, termasuk rumah dan hal-hal lain yang saat ini sedang kita dalami,” ujar Listyo.
Nama-nama di Senjata Mainan: Ada Unsur Neo Nazi, Brenton Tarrant, hingga Alexandre Bissonnette
Di senjata mainan yang ditemukan di lokasi ledakan SMA 72 tertulis sejumlah nama dan simbol yang terkait dengan gerakan ekstrem sayap kanan (neo-Nazi), seperti “14 Words” serta nama-nama pelaku teror internasional seperti Brenton Tarrant dan Alexandre Bissonnette.
Dari penelusuran aiotrade berikut ada sejumlah makna dibalik tulisan itu.
Berikut bunyi Slogan 14 Words: “Kita harus mengamankan keberadaan orang-orang kita dan masa depan untuk anak-anak kulit putih.”
Frasa ini diciptakan oleh David Lane – seorang teroris Amerika, rasis, dan anggota kelompok The Order yang terlibat dalam pembunuhan, perampokan, dan pengeboman selama tahun 1980-an. Lane menjalani hukuman seumur hidup dan meninggal di penjara.

Lalu ada pula yang dikenal sebagai penganut Neo Nazi. Dari mulai Brenton Tarrant, Alexander Bissonnette, hingga Luca Traini.
Nama pertama yakni Brenton Tarrant adalah pelaku penembakan Masjid Christchurch (Selandia Baru) tahun 2019.
Brenton menganut supremasi kulit putih, anti-imigran, dan teroris sayap kanan yang menyiarkan serangannya secara live-stream. Tarrant adalah ikon bagi gerakan neo-Nazi dan ekstremis sayap kanan global.

Tarrant ditangkap setelah kendaraannya ditabrak mobil polisi saat ia sedang berkendara menuju masjid ketiga di Ashburton. Bahkan Tarrant menyiarkan langsung penembakan pertama di Facebook, menandai serangan teror sayap kanan pertama yang berhasil disiarkan langsung.
Pada 26 Maret 2020, ia mengaku bersalah atas 51 pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan, dan terlibat dalam aksi teroris, Hingga akhirnya ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup, pertama diterapkan di Selandia Baru.

Sementara itu nama berikutnya Alexandre Bissonnette adalah pemuda berusia 27 tahun yang membunuh enam orang dan melukai 19 lainnya di sebuah masjid di kota Quebec, Kanada, pada 2017 lalu.
Ia dikenal sebagai sosok yang mendukung kelompok ekstremis kanan dan nasionalistik. Terinspirasi oleh tokoh nasionalis Prancis, Marine Le Pen. Bissonnete juga dikenal mendukung gerakan supremasi kulit putih, "Génération Nationale," yang antara lain menolak "multikulturalisme."
Kisah sadis lain terkuak dari sosok Luca Traini. Ia menembaki warga kulit hitam yang berkumpul di pinggir jalan kota Macerata, Italia, pada 2018.
Lima pria dan seorang wanita terluka dan harus menjalani operasi di rumah sakit. Mereka adalah warga dari Nigeria, Ghana, Gambia, dan Mali.
Polisi menetapkan kasus ini sebagai "kebencian berdasarkan ras". Dalam penggeledahan di rumahnya pada Minggu (4/2), polisi menemukan banyak barang-barang berbau Nazi dan Hitler.

Polisi menyita buku manifesto Hitler 'Mein Kampf' selebaran kelompok neo-Nazi, dan bendera salib Celtic, simbol supremasi kulit putih. Traini juga diketahui pernah maju jadi kandidat anggota dewan dalam pemilu lokal untuk partai sayap kanan anti-imigran, Liga Utara, tahun lalu, tapi kalah.
Temuan ini menambah kompleksitas motif yang sedang diselidiki, menyusul indikasi bullying serta unsur radikalisasi dalam sosok pelaku, dan kini polisi bersama tim forensik terus mengkaji jejak-jejak tulisan tersebut dalam bukti.
Kapolri Soal Pelaku Korban Bullying: Kita Dalami
Kapolri Listyo Sigit Prabowo menanggapi dugaan bahwa pelaku ledakan di SMA 72 Jakarta Utara merupakan siswa yang menjadi korban bullying. Ia menyebut motif masih dalam pendalaman oleh penyidik.

“Untuk saat ini, salah satu dari yang sedang melaksanakan operasi adalah terduga pelaku. Untuk motif, saat ini memang sedang kita dalami berbagai macam informasi,” kata Sigit kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (7/11).
Sigit menambahkan bahwa identitas terduga pelaku berasal dari lingkungan sekolah tersebut.
Kapolri soal Ledakan SMAN 72: Terduga Pelaku Masih Dioperasi
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta Utara masih hidup dan sedang menjalani operasi. Motif aksi ini masih didalami oleh pihak kepolisian, dengan dugaan pelaku berasal dari internal sekolah.
"Untuk saat ini, salah satu dari yang sedang melaksanakan operasi adalah terduga pelaku," kata Listyo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (7/11).

Karena masih dalam operasi, polisi belum bisa mendapatkan gambaran terang dari motif terduga pelaku melancarkan aksinya.
"Untuk motif, saat ini memang sedang kita dalami berbagai macam informasi," kata dia.
"Tentunya akan kita kumpulkan supaya menjadi satu informasi yang bulat pada saat nanti diinformasikan," sambung Sigit.
Tak Ada Korban Meninggal
Sementara itu, Listyo juga menyebut sejauh ini tidak ada korban meninggal dunia. Untuk jumlah korban luka mencapai 60 orang.

"Yang jelas sampai saat ini korban meninggal dunia belum ada, namun ada dua yang dilaksanakan operasi dan sisanya dilaksanakan proses perawatan. Mudah-mudahan bisa berangsur-angsur kembali pulang," kata dia.
"Tentunya setiap tahapan dan perkembangan yang perlu kita informasikan nanti akan kita informasikan," tutupnya.