
aiotrade, JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah memasukkan Rancangan Undang-undang tentang Penyederhanaan atau Redenominasi Rupiah ke dalam rencana strategis 2025-2024. Rencana ini segera mendapat perhatian luas dan sering menimbulkan perdebatan. Meskipun begitu, sejumlah ekonom sepakat bahwa redenominasi hanya bisa dilakukan ketika kondisi perekonomian stabil.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu mempertimbangkan fakta bahwa tidak semua negara berhasil menjalankan redenominasi dengan baik. Beberapa negara justru menghadapi masalah setelah melakukan penyederhanaan mata uang mereka. Berikut adalah beberapa contoh negara yang gagal menjalankan redenominasi:
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Negara-negara yang Gagal Melakukan Redenominasi
-
Afghanistan
Redenominasi Afghanistan gagal setelah diberlakukan selama dua bulan pada tahun 2002. Setelah penerapan redenominasi, nilai tukar rupiah Afghanistan justru melonjak tajam. Hal ini menunjukkan bahwa proses penyederhanaan mata uang tidak selalu berjalan mulus tanpa adanya stabilitas ekonomi yang cukup. -
Israel
Israel melakukan redenominasi dengan menghilangkan sembilan angka nol melalui empat kali operasi pada tahun 1980 dan 1985. Pada masa itu, Israel sedang mencoba menstabilkan diri dengan membuat mata uang baru yang dibagi menjadi 1000 shekel. Namun, inflasi Israel tetap tinggi hingga 386% pada Agustus 1985, menunjukkan bahwa redenominasi tidak selalu mampu mengatasi masalah ekonomi yang lebih dalam. -
Brasil
Brasil sering kali melakukan redenominasi, yaitu sebanyak enam kali. Tujuan dari redenominasi ini adalah untuk mengatasi masalah dalam akuntansi, pencatatan statistik, sistem pemrosesan data, dan sistem pembayaran. Tujuan kedua adalah untuk memulihkan kredibilitas mata uang mereka. Namun, upaya yang dilakukan selalu gagal, seperti pada mata uang baru Cruzado yang terdepresiasi tajam terhadap dolar hingga ribuan Cruzado. Saat itu, Brasil tengah dihantam badai inflasi hingga 500%. -
Zimbabwe
Zimbabwe pernah melakukan redenominasi hingga tiga kali dalam sejarahnya. Pada awalnya, redenominasi mata uang mereka dilakukan karena hiperinflasi yang mencapai 1.000% pada tahun 2007. Inflasi tersebut semakin meroket pada November 2008 hingga 79,6 miliar persen, sehingga pada 2009 melakukan redenominasi dengan memotong 12 nol pada uang mereka yang ditukar dengan 1 dollar Zimbabwe keempat. Sebelum redenominasi, diperlukan segepok uang hanya untuk membeli 3 butir telur, atau memakai uang kertas dengan nominal ZWN10.000.000.000. Pada 2019, pemerintah Zimbabwe mengandalkan beberapa mata uang asing karena devaluasi mata uang mereka yang sangat cepat. Mata uang asing yang digunakan di Zimbabwe antara lain dolar Amerika Serikat, Euro, Pula Botswana, Poundsterling Inggris, Renminbi Tiongkok, Rupee India, Rand Afrika Selatan, dan Yen Jepang.
Redenominasi merupakan langkah besar yang membutuhkan persiapan matang dan kondisi ekonomi yang stabil. Dari pengalaman negara-negara di atas, tampak jelas bahwa proses ini tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pemerintah perlu mempelajari pelajaran dari negara-negara yang pernah gagal agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.