Fed Kesulitan Tentukan Arah Suku Bunga Akibat Shutdown Pemerintah AS

admin.aiotrade 21 Okt 2025 4 menit 17x dilihat
Fed Kesulitan Tentukan Arah Suku Bunga Akibat Shutdown Pemerintah AS


aiotrade.app
, JAKARTA - Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan menggelar rapat kebijakan pada pekan depan. Namun, situasi yang dihadapi saat ini cukup rumit karena adanya penutupan pemerintahan federal (government shutdown) yang menghambat publikasi data ekonomi penting. Hal ini membuat bank sentral kesulitan menilai arah inflasi dan pasar tenaga kerja.

Menurut laporan Reuters pada Selasa (21/10/2025), pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%–4,00% pada rapat kebijakan 28–29 Oktober mendatang.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Namun, David Seif, Kepala Ekonom Pasar Negara Maju Nomura, menilai bahwa para pembuat kebijakan kini dinilai “terbang tanpa radar”. Ia menyatakan bahwa pertanyaan besar saat ini adalah bagaimana kondisi pasar tenaga kerja, namun informasi tersebut belum bisa diperoleh sampai laporan terbaru dirilis.

Data ketenagakerjaan resmi belum dirilis sejak penutupan pemerintahan dimulai pada 1 Oktober 2025. Meski begitu, informasi terbatas yang tersedia menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja masih lemah. Laporan dari The Fed sendiri mengindikasikan potensi perlambatan belanja konsumen, sementara survei kepercayaan bisnis juga mencatat penurunan.

Meski demikian, beberapa pelaku usaha memperingatkan potensi kenaikan harga di tengah inflasi yang masih bertahan di atas target 2%. Dengan meningkatnya investasi bisnis dan rencana kebijakan pajak baru yang dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga tahun depan, proyeksi pertumbuhan ekonomi pun direvisi naik.

Ketua The Fed Jerome Powell dan sejumlah pejabat tinggi lainnya terus menyoroti pasar tenaga kerja, di mana pertumbuhan lapangan kerja anjlok menjadi rata-rata hanya 29.000 per bulan dalam periode Juni–Agustus, jauh di bawah level pra-pandemi.

Sementara itu, kekhawatiran baru muncul setelah dua bank besar melaporkan potensi kerugian kredit yang mengguncang pasar saham, ditambah memanasnya kembali tensi dagang AS–China yang berpotensi mengguncang stabilitas perdagangan global.

Departemen Tenaga Kerja AS dijadwalkan merilis data inflasi (CPI) September pada 24 Oktober setelah sebagian pegawai dipanggil kembali untuk memastikan data tersebut tersedia sebagai dasar penyesuaian tunjangan sosial.

Survei Reuters memperkirakan CPI naik 3,1% secara tahunan pada September, naik dari bulan sebelumnya, sehingga memperkuat alasan bagi sebagian pejabat The Fed untuk menahan laju pemangkasan suku bunga.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) — acuan utama inflasi The Fed — naik dari 2,3% pada April menjadi 2,7% pada Agustus. The Fed memperkirakan inflasi akan mencapai 3% di akhir 2025 sebelum menurun tahun berikutnya.

Namun, sejumlah pejabat memperingatkan risiko inflasi yang berlarut-larut jika masyarakat dan pelaku usaha mulai terbiasa dengan laju kenaikan harga di atas target.

Presiden The Fed Kansas City Jeffrey Schmid menilai suku bunga saat ini masih berada di “level yang tepat” untuk menekan inflasi. Namun, tingkat tekanan yang efektif masih menjadi bahan perdebatan — apalagi di tengah terbatasnya aliran data ekonomi akibat shutdown.

Perbedaan pandangan antarpejabat The Fed semakin mencolok — mulai dari Schmid yang hawkish terhadap inflasi, hingga Gubernur Stephen Miran yang menilai suku bunga terlalu tinggi dan inflasi akan segera menurun. Namun, seluruh pandangan itu bergantung pada ketersediaan data resmi pemerintah.

Meski The Fed masih dapat memantau kondisi ketenagakerjaan melalui data klaim pengangguran di tingkat negara bagian atau laporan swasta, alternatif untuk melacak inflasi jauh lebih terbatas. Data bulanan konsumsi, pengeluaran, serta laporan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartalan kemungkinan tidak akan tersedia jika shutdown berlanjut.

Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin mengatakan data alternatif seperti laporan transaksi kartu kredit memang berguna, tetapi tidak dapat menggantikan kelengkapan dan ketepatan data pemerintah.

“Sekitar 25% masyarakat berpendapatan rendah bahkan tidak memiliki kartu kredit. Jadi, datanya tidak mencerminkan kondisi ekonomi secara utuh,” ujarnya.

Laporan pemerintah, menurut Barkin, menyediakan detail penting bagi pembuat kebijakan untuk memahami akar masalah ekonomi. Misalnya, pertumbuhan lapangan kerja yang lambat bisa berarti ekonomi sedang melemah, atau justru karena kekurangan tenaga kerja akibat kebijakan imigrasi yang ketat — perbedaan yang hanya dapat diidentifikasi melalui data resmi Departemen Tenaga Kerja.

Gubernur The Fed Christopher Waller menilai situasi saat ini sangat rumit, dengan data swasta menunjukkan perekrutan tenaga kerja masih lemah, sementara pertumbuhan ekonomi berpotensi menguat.

Dia mendukung pemangkasan suku bunga secara hati-hati sebesar 25 basis poin bulan ini, sambil menekankan bahwa langkah selanjutnya bergantung pada arah inflasi dan data tenaga kerja.

Sementara itu, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari menilai para pengambil kebijakan masih bisa bertahan untuk saat ini di tengah shutdown pemerintah yang bekerpanjangan.

“Namun semakin lama shutdown ini berlangsung, semakin kecil keyakinan saya bahwa kami benar-benar memahami kondisi ekonomi dengan tepat," jelasnya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan