
Festival Literasi Kabupaten Blora 2025: Menghidupkan Semangat Baca dari Akar Desa
Suasana penuh semangat menyelimuti halaman Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Blora, Selasa 11 Nopember 2025. Ratusan warga dari berbagai kecamatan, pelajar, pegiat budaya, hingga komunitas literasi tumplek blek meramaikan Festival Literasi Kabupaten Blora 2025, yang juga menjadi ajang Pengukuhan Bunda Literasi Kecamatan se-Kabupaten Blora.
Acara yang digelar hingga 15 November itu menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Blora ke-276, menghadirkan beragam kegiatan edukatif dan hiburan yang menggugah minat baca masyarakat. Dari bazar buku, drumband pelajar, tari tradisional, hingga talkshow literasi dengan tokoh inspiratif, semua dirancang untuk mendekatkan masyarakat pada dunia literasi dengan cara yang menyenangkan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bunda Literasi: Menggerakkan Gerakan Membaca dari Akar Desa
Dalam sambutannya, Bunda Literasi Kabupaten Blora, Hj. Ainia Shalichah Arief Rohman, menegaskan, pengukuhan Bunda Literasi di tingkat kecamatan bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan hingga pelosok desa.
“Gerakan literasi tidak boleh berhenti di kota. Ia harus tumbuh di setiap desa, di setiap rumah, dan di setiap hati masyarakat Blora,” katanya penuh semangat.
Bunda Ainia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas lokal dalam menciptakan budaya membaca yang hidup di tengah masyarakat.
“Bunda Literasi harus menjadi pelita yang menyalakan semangat belajar dan membaca di lingkungan masing-masing,” tambahnya.
Festival Literasi: Lebih dari Sekadar Pesta Buku
Kepala DPK Kabupaten Blora, Mohamad Toha Mustofa menjelaskan, Festival Literasi ini dirancang bukan hanya sebagai perayaan, melainkan sebagai gerakan sosial untuk menghidupkan kembali semangat belajar sepanjang hayat.
“Festival Literasi bukan ajang seremonial. Ini adalah ruang untuk membangun kesadaran bahwa literasi adalah pondasi kemajuan masyarakat,” tegasnya.
Selain pameran buku dan pertunjukan seni, festival juga menghadirkan berbagai lomba kreatif, diskusi publik, serta Grand Final Pemilihan Duta Literasi Kabupaten Blora Tahun 2025 yang menjadi momen paling ditunggu-tunggu.
Duta Literasi Blora 2025: Muda, Inspiratif, dan Penuh Gagasan
Setelah melalui proses penjurian ketat oleh empat dewan juri. Bunda Literasi Blora, Kepala DPK, Sekretaris DPK, dan Ketua Satupena Blora terpilihlah para pemenang Duta Literasi Kabupaten Blora 2025.
- Juara Umum: Agrinza Regina Nurfelis Nela (SMA NU 1 Kradenan)
- Juara Favorit: Mita Ayu Yolandani (SMAN 2 Blora)
- Juara Inteligensi: Ridho Afif Khoirudin (SMAN 1 Jepon)
- Juara Bakat Terbaik: Benedicta Najwa Lituhayu (SMPN 1 Blora)
- Juara Harapan I: Rizky Akbar Putra Basyari (SMAN 1 Blora)
- Juara Harapan II: Muhammad Nabil Abrar Hartanto
Para pemenang diharapkan menjadi duta perubahan, yang tidak hanya cakap membaca dan menulis, tapi juga mampu menginspirasi generasi muda Blora untuk terus berkarya di bidang literasi dan kebudayaan.
Literasi, Seni, dan Identitas Lokal
Festival Literasi Blora 2025 juga menjadi ruang ekspresi budaya lokal. Pertunjukan seni barongan, band pelajar, dan tari tradisional menambah semarak suasana, sekaligus menegaskan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi juga tentang memahami dan menghidupkan nilai-nilai budaya daerah.
Melalui kegiatan lintas usia dan komunitas, festival ini membangun kesadaran literasi yang berakar dari kebudayaan dan kearifan lokal.
Menumbuhkan Literasi dari Komunitas ke Komunitas
DPK Blora menegaskan, gerakan literasi yang kuat harus tumbuh dari bawah—dari komunitas, keluarga, hingga lembaga pendidikan. Melalui kolaborasi lintas sektor, Blora diharapkan menjadi contoh daerah yang mampu menjadikan literasi sebagai kekuatan sosial dan identitas daerah.
“Kami ingin gerakan literasi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Blora sehari-hari. Membaca bukan sekadar hobi, tapi budaya,” kata Toha Mustofa.