Festival Manggaia Fanga Tatanusi: Angkat Pangan Lokal sebagai Identitas Budaya Masyarakat Kian Darat

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Festival Manggaia Fanga Tatanusi: Angkat Pangan Lokal sebagai Identitas Budaya Masyarakat Kian Darat
Festival Manggaia Fanga Tatanusi: Angkat Pangan Lokal sebagai Identitas Budaya Masyarakat Kian Darat SBT

Festival Manggaia Fanga Tatanusi: Melestarikan Budaya Melalui Pangan Lokal

Di tengah perubahan yang terjadi di berbagai sektor kehidupan, masyarakat Negeri Kian Darat, Kecamatan Kian Darat, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti Festival Manggaia Fanga Tatanusi. Acara ini diselenggarakan oleh Pemuda dan Lapak Baca Kian pada Senin (20/10/2025), dengan tema utama “Peran Pangan Lokal dalam Kebudayaan”.

Festival ini bertujuan untuk memperingati Hari Kebudayaan Nasional Tahun 2025, sekaligus menjadi ajang untuk merawat budaya serta memperkenalkan kembali kekayaan pangan lokal yang semakin tergeser oleh makanan modern.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Agenda Utama Festival

Festival ini memiliki dua agenda utama yang dilaksanakan secara bersamaan. Pertama, Dialog Publik yang berlangsung di SDN 1 Kian Darat. Kedua, Demo Masak serta Pameran Kuliner Lokal yang digelar di Lapangan Sepak Bola Negeri Kian. Kedua acara ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk lebih memahami dan menghargai nilai-nilai pangan lokal yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Ketua Panitia, Zulfahmi Boufakar, menjelaskan bahwa festival ini merupakan langkah awal dalam upaya menghidupkan kembali semangat masyarakat untuk menjaga dan melestarikan kuliner serta pangan khas daerah. Ia berharap bahwa pelestarian budaya dan pangan lokal dapat tumbuh dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda di era modern ini.

Peran Penting dalam Pelestarian Budaya

Perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX, Santy Nurlette, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan festival ini. Menurutnya, kegiatan ini adalah langkah penting dalam memperkuat identitas budaya daerah. Ia menyebutkan bahwa banyak budaya yang ditampilkan dalam festival ini, dan ia berharap kegiatan seperti ini terus digelar demi merawat kearifan lokal masyarakat Kian Darat.

Ia juga menilai bahwa festival ini menjadi sarana edukasi penting bagi masyarakat dan generasi muda tentang nilai gizi pangan lokal. “Pangan lokal kita sangat beragam dan gizinya lebih baik dibandingkan pangan konvensional. Pelestarian ini penting agar generasi muda tahu dan bangga dengan kuliner daerahnya sendiri,” ujarnya.

Tanggapan dari Pihak Terkait

Senada dengan pernyataan Santy Nurlette, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga SBT, Afifudin Rumakway, menekankan pentingnya literasi budaya di tengah gempuran modernisasi. Ia menilai bahwa masyarakat dan generasi muda harus memperkuat literasi budaya agar bisa mengenal lebih dekat kearifan lokal.

“Harapannya literasi kebudayaan terus tumbuh untuk menjawab tantangan zaman,” katanya. Dengan adanya festival seperti ini, diharapkan masyarakat tidak hanya sekadar mengenal budaya, tetapi juga merasa bangga dan ingin melestarikannya.

Kesimpulan

Festival Manggaia Fanga Tatanusi bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi juga menjadi wadah penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat Negeri Kian Darat. Dengan menghadirkan berbagai aktivitas yang menarik dan edukatif, festival ini berhasil menciptakan kesadaran akan pentingnya pangan lokal dan kearifan budaya.

Melalui inisiatif seperti ini, diharapkan masyarakat dapat lebih sadar akan nilai-nilai tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, festival ini juga menjadi contoh nyata bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu berupa ritual atau upacara, tetapi juga bisa melalui hal-hal sederhana seperti makanan dan cara hidup sehari-hari.

Dengan demikian, festival ini tidak hanya menjadi momen yang menyenangkan, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan panjang dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya yang sudah ada sejak dulu.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan