
PT Futura Energi Global Tbk (FUTR), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan, resmi mengumumkan komposisi baru dari jajaran direksi dan komisaris. Pengambilan keputusan ini dilakukan setelah perseroan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 11 November 2025.
Dalam RUPSLB tersebut, pemegang saham menyetujui pengangkatan Jenderal Polisi (Purn) Sutanto sebagai Komisaris Utama, menggantikan Khairiansyah Salman yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Utama dan Komisaris Independen. Selain itu, Harry Maryanto Supoyo juga ditetapkan sebagai Komisaris. Dari sisi direksi, Anggara Suryawan diangkat sebagai Direktur Utama atau Chief Executive Officer (CEO).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Anggara Suryawan, Direktur Utama FUTR, menjelaskan bahwa dengan komposisi baru ini, perusahaan memperkuat posisinya sebagai emiten energi yang memiliki kepemimpinan independen dan berorientasi global. Ia menilai kombinasi ini akan menjadi katalis dalam memasuki fase pertumbuhan baru dan mendukung transformasi energi hijau di Indonesia.
Menurut Anggara, fokus utama FUTR saat ini tetap berada pada proyek panas bumi (geothermal). Hal ini karena perusahaan telah memiliki aset di bidang tersebut, yang akan menjadi pondasi utama untuk pertumbuhan ke depan. Proses reaktivasi eksplorasi geothermal akan dimulai pada kuartal I-2026. Selain itu, manajemen FUTR juga akan meluncurkan proyek PLTS terapung (floating solar PV) di Bali pada kuartal II-2026.
“Fokus kami yang pertama adalah geothermal karena kami sudah memiliki aset di sana. Program pertama adalah reaktivasi eksplorasi geothermal yang akan dimulai di kuartal pertama,” ujar Anggara.
Untuk eksplorasi geothermal, FUTR akan menunjuk konsultan untuk melakukan studi dan menyusun program pengeboran. Tahap awal eksplorasi akan difokuskan pada pengembangan kapasitas 30 megawatt di wilayah Purwokerto, Jawa Tengah, dengan estimasi investasi sekitar US$ 120 juta. Proses pengeboran diharapkan dapat dimulai pada akhir tahun depan, setelah penyusunan studi kelayakan dan persiapan teknis selesai.
Selain geothermal, FUTR juga akan mengeksekusi proyek PLTS terapung di Danau Nusa Dua, Bali. Proyek ini merupakan pengembangan dari area showcase G20 yang sudah memiliki infrastruktur awal dan dukungan penuh dari pemerintah daerah. “PLTS itu relatif lebih cepat, hanya sekitar enam bulan dari persetujuan sampai operasional, karena sifatnya tinggal integrasi ke grid,” jelas Anggara.
Tidak hanya dua proyek utama tersebut, FUTR juga membidik peluang dekarbonisasi berbasis hutan di kawasan Indonesia Timur, khususnya di sekitar Sulawesi, dengan luas lahan mencapai 70.000 hektar. Area ini sedang dalam proses sertifikasi karbon internasional. Dengan proyek ini, FUTR menargetkan masuk ke bursa karbon pada 2027, sejalan dengan visi jangka panjang perusahaan menuju bisnis energi hijau dan rendah emisi.
“Sekarang sedang dalam tahap sertifikasi, bahkan sudah ada pihak luar negeri yang berminat membeli kredit karbonnya. Tapi kami ingin sebagian tetap dijual di dalam negeri karena banyak perusahaan lokal yang juga wajib membeli,” tambahnya.
Anggara menegaskan bahwa seluruh proyek tersebut masih dalam tahap pengembangan sehingga belum akan berkontribusi signifikan terhadap pendapatan tahun depan. Namun, manajemen optimistis potensi jangka panjangnya akan sangat menguntungkan karena berbasis energi terbarukan tanpa biaya bahan bakar.
“Ke depannya, ini akan menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan FUTR dan mendukung transisi energi nasional,” kata Anggara.
Selanjutnya, FUTR akan fokus pada penguatan portofolio dan penyiapan aset-aset berpendapatan alias revenue generating assets untuk menopang kinerja jangka menengah.