Penjelasan Terkait Gambar Meteor yang Ternyata Hasil Kecerdasan Buatan
Pada tanggal 5 Oktober, warga Cirebon, Jawa Barat, mendengar suara ledakan dan melihat cahaya api saat sebuah meteor melewati langit. Namun, gambar yang beredar di media sosial menunjukkan objek berbentuk bola raksasa yang diklaim sebagai meteor jatuh ternyata merupakan hasil dari teknologi kecerdasan buatan (AI).
Berdasarkan keterangan dari peneliti astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), batu meteor sebenarnya jatuh ke laut, bukan ke daratan. Hal ini disampaikan melalui video TikTok yang diunggah pada tanggal 7 Oktober 2025. Dalam video tersebut, terlihat sejumlah orang mengerumuni sebuah bola besi raksasa di antara reruntuhan rumah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Deskripsi video menyebutkan: "Selamat datang batu meteor ke Indonesia." 
Gambar dengan klaim serupa juga beredar di TikTok dan Facebook setelah meteor terpantau melintas di atas langit Cirebon, Jawa Barat, pada 5 Oktober. Banyak warga mengaku melihat bola api melintas di angkasa sebelum akhirnya menghilang di kejauhan, diikuti dengan suara keras.
Beberapa komentar di media sosial menunjukkan bahwa pengguna percaya bahwa gambar tersebut menunjukkan meteor yang jatuh di Jawa Barat. Salah satu komentar menyebutkan: "Meteor di Cirebon," sementara yang lain berkomentar: "Oh, jadi meteor seperti ini bentuknya."
Namun, Thomas Djamaluddin, peneliti astronomi dari BRIN, mengonfirmasi kepada AFP bahwa batu meteor tersebut telah jatuh di laut, berdasarkan analisis dari keterangan saksi mata dan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Suara ledakan yang terdengar disebabkan oleh meteor memasuki atmosfer bumi.
"Tidak ada yang jatuh ke daratan," kata Thomas kepada AFP melalui pesan WhatsApp pada tanggal 21 Oktober 2025.
Pencarian gambar terbalik di Google menemukan bahwa gambar tersebut awalnya diunggah oleh sebuah akun Facebook pada 6 Oktober. Postingan itu telah dihapus, tetapi akun yang sama beberapa kali membagikan gambar hasil buatan AI. Pada bagian intro, akun tersebut mengidentifikasi diri sebagai "mba AI".
Pemilik akun tersebut juga menyertakan komentar yang mengklarifikasi bahwa postingan yang ia buat hanya untuk hiburan semata. Foto yang beredar tersebut juga memuat orang-orang dengan wajah atau tangan yang terdistorsi. Inkonsistensi visual seperti ini menjadi salah satu ciri konten buatan AI.
Thomas dari BRIN juga menyatakan bahwa jika batu meteor sebesar objek pada foto tersebut jatuh di daerah perumahan, maka akan ada lubang besar dan gempa hebat di area tersebut. "Gambar tersebut jelas hasil fabrikasi," tambahnya.

Google juga mengidentifikasi gambar yang beredar tersebut sebagai "buatan Google AI". 
Kemampuan Google dalam mendeteksi konten AI didukung oleh teknologi SynthID Detector. Google meluncurkan SynthID Detector pada Mei 2025 untuk mengidentifikasi konten hasil buatan AI. Teknologi ini mendeteksi tanda air digital yang mengindikasikan bahwa gambar itu dibuat dengan model generatif milik Google.
Sebelumnya, AFP telah memeriksa fakta sejumlah misinformasi yang melibatkan konten buatan AI.