GandengTangan: Batas Pembiayaan Rp5 Miliar Dorong Sektor Produktif

admin.aiotrade 21 Okt 2025 3 menit 12x dilihat
GandengTangan: Batas Pembiayaan Rp5 Miliar Dorong Sektor Produktif


aiotrade.CO.ID - JAKARTA
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan bahwa penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending dapat menyalurkan pembiayaan produktif dengan batas maksimum sebesar Rp 5 miliar. Sebelumnya, batas tersebut hanya sebesar Rp 2 miliar. Aturan ini diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 40 Tahun 2024 tentang Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau fintech P2P lending.

Fintech P2P lending GandengTangan menyambut baik peningkatan plafon tersebut. Chief Operating Officer GandengTangan, Darul Syahdanul, mengatakan bahwa peningkatan plafon hingga Rp 5 miliar sangat efektif dan bisa menjadi pengungkit bagi pelaku usaha kategori kecil dan menengah untuk naik kelas.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

"Jika penyalurannya dilakukan tepat sasaran, plafon itu sangat efektif sebagai pengungkit bagi pelaku usaha yang ingin naik kelas," ujarnya kepada aiotrade, Senin (20/10/2025).

Darul menjelaskan bahwa sejak awal 2025, GandengTangan sudah mencoba menyalurkan pembiayaan dengan memaksimalkan plafon sebesar Rp 5 miliar untuk beberapa borrower. Namun, ia tidak menyangkal adanya tantangan dalam meningkatkan pembiayaan ke sektor produktif. Menurutnya, tantangan terbesar adalah ketersediaan sumber dana.

"Platform kami hanya mampu menyediakan fasilitas pembiayaan sebanyak 75% dari total potensi pengajuan yang ada," ujarnya.

Untuk mengantisipasi tantangan ketersediaan sumber dana, Darul menjelaskan pihaknya berupaya memaksimalkan kerja sama dengan lembaga keuangan lain, seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR), bank umum, hingga multifinance.

Sejak berdiri sejak 2015 hingga saat ini, platform GandengTangan masih fokus pada pembiayaan produktif. Darul mengungkapkan bahwa hingga 17 Oktober 2025, total penyaluran platform GandengTangan sebesar Rp 305 miliar. Dia menerangkan keseluruhan penyaluran tersebut dalam bentuk pembiayaan produktif, yaitu disalurkan kepada pelaku usaha mikro dan kecil yang bergerak di sektor perdagangan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyaluran Pembiayaan Produktif

  • Ketersediaan Dana
    Salah satu tantangan utama dalam penyaluran pembiayaan produktif adalah ketersediaan dana. Platform fintech seperti GandengTangan hanya mampu memberikan fasilitas pembiayaan sebanyak 75% dari total potensi pengajuan yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa sumber dana tetap menjadi kendala utama.

  • Kerja Sama dengan Lembaga Keuangan
    Untuk mengatasi keterbatasan dana, GandengTangan melakukan kerja sama dengan berbagai lembaga keuangan seperti BPR, bank umum, dan multifinance. Kolaborasi ini membantu memperluas jangkauan pembiayaan yang dapat disalurkan kepada pelaku usaha.

  • Target Pasar yang Spesifik
    GandengTangan fokus pada pembiayaan produktif untuk pelaku usaha mikro dan kecil. Dengan demikian, penyaluran dana lebih tepat sasaran dan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi.

Strategi untuk Meningkatkan Efisiensi Penyaluran Dana

  • Peningkatan Kapasitas Finansial
    Dengan peningkatan plafon hingga Rp 5 miliar, fintech P2P lending memiliki kesempatan untuk menyalurkan dana yang lebih besar. Ini bisa menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas finansial perusahaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

  • Penguatan Kerja Sama dengan Pihak Lain
    Membangun kerja sama dengan lembaga keuangan lain akan membantu fintech P2P lending dalam memperluas jaringan dan memperkuat sumber dana. Kemitraan ini juga bisa meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap layanan fintech.

  • Peningkatan Kompetensi Manajemen Risiko
    Dengan peningkatan plafon, penting bagi fintech P2P lending untuk meningkatkan kompetensi manajemen risiko. Ini bertujuan untuk memastikan bahwa dana yang disalurkan benar-benar digunakan secara efektif dan tidak menimbulkan risiko yang tidak terkendali.

Tantangan dan Peluang di Sektor Pembiayaan Produktif

  • Tantangan dalam Pengelolaan Dana
    Meskipun plafon telah ditingkatkan, pengelolaan dana tetap menjadi tantangan. Fintech P2P lending perlu memastikan bahwa dana yang disalurkan tepat sasaran dan tidak terbuang sia-sia.

  • Peluang untuk Pertumbuhan Ekonomi
    Dengan peningkatan plafon, fintech P2P lending memiliki peluang besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pembiayaan produktif. Ini bisa menjadi solusi alternatif bagi pelaku usaha yang sulit mendapatkan modal dari bank.

  • Peran Regulasi dalam Pembangunan Ekonomi
    Regulasi dari OJK, seperti POJK Nomor 40 Tahun 2024, memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi. Dengan aturan yang jelas, fintech P2P lending dapat beroperasi secara lebih stabil dan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan