Gelagat Janggal Sebelum Pembunuhan
Sebelum terjadi pembunuhan terhadap istrinya, GDF (Gandi) tampak melakukan hal yang tidak biasa. Ia mengantar anaknya ke sekolah, sebuah tindakan yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya. Hal ini membuat warga sekitar merasa heran, karena biasanya pengantaran anak ke sekolah dilakukan oleh orang lain.
GDF memiliki tiga anak, dua di antaranya adalah anak tiri dari istri korban, BW. Anak pertama yang tiri sudah kuliah di Malang, sedangkan anak kedua bersekolah di salah satu SMK di Banyuwangi. Sementara itu, anak kandung GDF masih duduk di kelas 1 SMP.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pagi hari sebelum tragedi maut terjadi, GDF terlihat mengantar anak kandungnya ke sekolah. Hal ini membuat Deni Tri Rahayu, Ketua RT 04/01 Kelurahan Panderejo, merasa aneh. Menurut Deni, biasanya pengantaran anak ke sekolah dilakukan oleh orang lain, bukan oleh GDF sendiri.
"Biasanya yang antar jemput itu. Ini tadi kok diantarkan Pak Gandi sendiri," ujar Deni saat ditemui wartawan. Gelagat janggal ini sempat menjadi perbincangan warga setempat. Mereka heran karena biasanya GDF dan BW sudah keluar rumah sekitar pukul 07.00 WIB untuk bekerja.
GDF bekerja di salah satu lembaga pembiayaan plat merah, sementara BW bekerja sebagai karyawan bank swasta ternama di Banyuwangi. Namun, pagi itu mereka masih berada di rumah dan terjadi peristiwa tragis.
"Jam 07.00 itu kadang-kadang sudah enggak ada sepi sudah rumah. Mentok ya jam 07.00 lebih itu sudah tutupan rapat. Sudah paham sudah warga itu dia berangkat sudah," kata Deni. Ia juga tidak menyangka akan terjadi peristiwa tragis tersebut, karena selama ini rumah tangga mereka cukup harmonis.
Pembunuhan dengan Pisau Dapur
GDF menghabisi istrinya dengan menusukkan pisau dapur ke dada BW. Belum diketahui pasti alasan pria itu tega menghabisi istrinya. Melihat istrinya terkapar bersimbah darah, GDF yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai lembaga keuangan plat merah ini mengirim pesan WhatsApp ke seorang anggota polisi.
GDF mencari informasi nomor telepon polisi dari sebuah grup WhatsApp. Usai mendapat kontak polisi, ia mengirim pesan dan mengaku telah membunuh sang istri. "Tadi sekitar pukul 08.30 WIB, terduga pelaku ini mengirim pesan WhatsApp kepada salah satu personel Polresta Banyuwangi dari unit Laka. Isi pesannya adalah menyampaikan bahwa ia ingin menyerahkan diri karena telah melakukan pembunuhan terhadap istrinya," kata Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra.
Mendapat kabar itu, anggota Satlantas Polresta Banyuwangi meneruskan informasi ke Satreskrim. Aparat langsung datang ke lokasi tempat pembunuhan untuk mencari tahu kebenarannya. "Tim Resmob Polresta Banyuwangi bergerak menuju TKP dan menemukan terduga pelaku berada di teras rumah, dengan kondisi pintu terbuka," tutur Kapolresta.
Benar saja, saat itu polisi menemukan korban dalam keadaan terlentang di ruang makan. Dadanya bersimbah darah. Tersangka mengakui menusuk istrinya dengan pisau dapur. Tusukan bersarang tepat di bagian dada korban hingga ia tewas di lokasi. Mengetahui hal itu, tersangka langsung diamankan dan digelandang ke Mapolresta Banyuwangi.
Korban Pulang dari Bali

Sehari sebelum tragedi maut terjadi, BW ternyata baru pulang dari Bali. BW ke Bali bukan bersama keluarga, melainkan bersama rekan-rekan kantornya di bank swasta. Hal ini diketahui Deni saat melihat status di WhatsApp korban.
"Ngelencer ke Bali. Makanya ya kaget, benar-benar kaget kan gitu," katanya. Diakui Deni, selama ini karir BW di bank swasta itu cukup moncer. "Dulu itu kan termasuk pegawai yang lama ya. Yang pindah-pindah. Dulu di kasir terus dipindah di Moncar, di Jajag itu kayaknya jabatannya lumayan itu. Karena dia memang sudah sangat lama," ungkap Deni.
Kepada Deni, BW sempat bercerita akan pensiun sekira dua tahun lagi, dan dia berjanji akan aktif di lingkungan. "Kan sudah dia cerita, “Habis ini saya nonstop kegiatan, Bu, karena 2 tahun lagi pensiun itu.” Iya, malah saya, “Waduh, ini luar biasa ini ya.” “Alhamdulillah,” ungkap Deni.
Diakui Deni, selama ini di tengah kesibukannya BW masih menyempatkan aktif di lingkungan baik saat arisan PKK maupun pengajian. Hal ini berbeda dengan suaminya GDF yang tidak aktif di lingkungan. "Pokoknya kalau dia (BW) pulangnya pagi atau dia pas hari Sabtu atau Minggu pasti dia datang, pasti ikut. Ketika enggak ada kegiatan pasti ikut ya. Di pengajian itu juga datang, dia aktif pengajian malam Jumat," katanya.
BW juga dikenal supel dan ramah dengan tetangganya. Meski demikian BW tidak pernah bercerita apapun terkait kondisi rumah tangganya. "Privasi masing-masing orang. Tapi kalau anak mungkin, “Anak saya sekarang sekolah di sini, anak sekarang gimana?,” katanya. Karena itu, Deni mengaku sangat kaget saat mengetahui BW dan GDF cek-cok yang berujung pembunuhan.
Perasaan Tetangga
Hal ini juga diakui Rosi, tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan lokasi kejadian. Rumah Rosi dan korban terpisah gang kecil. Jika adu mulut terjadi dengan suara-suara yang keras, besar kemungkinan suaranya sampai hingga rumah tetangga. "Nggak pernah. Sampai pagi tadi pun nggak ada suara bertengkar. Tiba-tiba saja sudah ada polisi, sudah ramai. Saya baru tahu bahwa ada pembunuhan," kata Rosi.
Rosi mengaku mengenal akrab korban BW. Pada malam sebelum kejadian, ia sempat bertemu dalam sebuah kegiatan warga. Saat itu, tidak ada hal yang berbeda yang Rosi lihat dari BW. Semua terlihat normal seperti biasanya. "Kemarin waktu pengajian ketemu. Ketemu, ya, biasa saja, nggak ada cerita apa-apa. Orangnya sibuk juga, jadi jarang ngobrol panjang," ucapnya.
Rosi bercerita, pasangan suami-istri itu sudah lama tinggal di rumah tersebut. Rosi mengaku kaget dan sempat tak percaya apabila GDF membunuh BW. Sebab, mereka selama ini dikenal sebagai pasangan yang tak bermasalah. "Baik-baik saja, nggak pernah ada masalah atau keributan. Sosialisasinya juga bagus, mereka orangnya baik," tutur dia.
Penampilan Rumah Korban
Secara ekonomi, keluarga tersebut juga terbilang berkecukupan. Apalagi, keduanya juga bekerja. Pantauan wartawan, rumah suami istri yang berada di lingkungan padat penduduk itu masih terpasang garis polisi. Rumahnya berwarna dominan hijau dengan pagar tertutup agak tinggi. Di halaman rumah tepatnya di pinggir jalan, sebuah mobil citycar terparkir. Warga banyak berkumpul di lokasi untuk melihat proses olah tempat kejadian perkara.