Gelapnya Pendidikan Garut: Korwil Diduga Bantu Modus CSR Palsu, Ratusan Juta Raib

admin.aiotrade 08 Nov 2025 4 menit 12x dilihat
Gelapnya Pendidikan Garut: Korwil Diduga Bantu Modus CSR Palsu, Ratusan Juta Raib
Gelapnya Pendidikan Garut: Korwil Diduga Bantu Modus CSR Palsu, Ratusan Juta Raib

Kepala Sekolah di Garut Terjebak Penipuan Berkedok Bantuan CSR

Sejumlah besar kepala sekolah di Kecamatan Pangatikan, Kabupaten Garut, mengalami duka dan kerugian setelah niat tulus mereka untuk memperbaiki fasilitas sekolah berujung pada kehilangan ratusan juta rupiah. Awalnya, para kepala sekolah berharap bisa mendapatkan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) untuk renovasi dan pembangunan sekolah. Namun, harapan itu berubah menjadi pengalaman pahit yang menyedihkan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Awal Mula Kasus

Kasus ini dimulai pada Desember 2024. Saat itu, Kepala Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Pangatikan, Entis Sutisna, S.Pd., M.Pd., memperkenalkan seorang pria berinisial AS kepada puluhan kepala sekolah dari jenjang PAUD hingga SD Negeri di Pangatikan. Pertemuan yang difasilitasi di Gedung PGRI Pangatikan menjadi awal dari petaka yang akan terjadi.

Di hadapan para kepala sekolah, AS meyakinkan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menyalurkan bantuan dana CSR besar untuk renovasi dan pembangunan fasilitas sekolah di wilayah tersebut. Dengan janji-janji manis, AS berhasil membangun kepercayaan para kepala sekolah.

Modus Penipuan yang Menyesatkan

Setelah perkenalan, AS mulai melancarkan modus penipuannya. Ia mulai meminta uang dengan berbagai dalih, seperti biaya pengurusan, notaris, bimbingan teknis (bimtek), dan jasa konsultan agar dana CSR segera cair. Bahkan, AS tega meminta uang dengan dalih yang lebih sensitif, yaitu untuk memuluskan proyek kepada pejabat tinggi di lingkungan Dinas Pendidikan Garut.

Permintaan uang ini sebagian besar dilakukan melalui sambungan telepon. An An Setianah, Kepala Sekolah SDN 2 Cihuni, yang juga menjadi salah satu korban dengan kerugian terbesar, menceritakan bagaimana kesulitan ekonomi yang dialaminya akibat uang hasil jerih payahnya raib ditipu AS.

Tangisan di Podcast dan Kerugian Ratusan Juta

Kisah pahit ini diungkapkan oleh An An Setianah dalam sebuah podcast media Garut 60 Detik. Dengan air mata yang mengalir, ia menceritakan kesedihan dan kekecewaannya. Ia mengenang bagaimana kesulitan uang yang dialami saat Lebaran akibat uang hasil jerih payahnya dan sang suami raib ditipu AS.

"Jumlahnya telah mencapai Rp185 juta," kata An An dengan nada getir, menunjukkan besarnya kerugian pribadi yang harus ia tanggung demi harapan palsu renovasi sekolah.

Pertanyaan untuk Pejabat Pendidikan

Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai peran Kepala Korwil Pangatikan, Entis Sutisna. Kekecewaan An An tidak hanya tertuju pada AS, tetapi juga pada Kepala Korwil yang telah membawa dan memperkenalkan AS kepada para kepala sekolah sebagai pihak yang kredibel mengurus CSR.

"Kenapa Kepala Korwil Pangatikan membawa AS ke Pangatikan dan memperkenalkannya ke 12 kepala sekolah, bahkan mengatakan AS akan mengurus bantuan CSR? Korwil juga memfasilitasi pertemuan beberapa kali di Gedung PGRI Pangatikan. Bahkan, pemberian uang pun dilakukan di dalam pertemuan di Gedung PGRI Pangatikan dan disaksikan oleh Kepala Korwil Pangatikan," tegas An An, menuntut pertanggungjawaban etika dan moral.

Sikap Dinas Pendidikan Kabupaten Garut: 'Masalah Pribadi'

Menanggapi peristiwa memalukan ini, Kepala Dinas Pendidikan Garut, Asep Wawan Budiman, memilih mengambil jarak. Saat dikonfirmasi, ia menegaskan bahwa kasus ini sepenuhnya merupakan urusan pribadi, bukan masalah kedinasan.

"Itu masalah pribadi. Kalau memang ada yang merasa dirugikan, laporkan saja ke pihak penegak hukum. Jangan sampai dibiarkan agar pelakunya jera," tegas Asep Wawan Budiman.

Kasus Jadi Sorotan Publik

Kasus dugaan penipuan berkedok bantuan CSR ini kini menjadi sorotan publik di Garut. Masyarakat mempertanyakan peran pengawasan dan tanggung jawab moral pejabat pendidikan yang mempertemukan pihak luar dengan para kepala sekolah tanpa mekanisme resmi.

Sejumlah pemerhati pendidikan menilai, kasus ini mencoreng dunia pendidikan karena menunjukkan lemahnya perlindungan terhadap tenaga pendidik di lapangan.

“Guru dan kepala sekolah semestinya fokus pada pendidikan, bukan menjadi korban janji palsu atas nama bantuan,” ujar seorang aktivis pendidikan Garut yang enggan disebutkan namanya.

Harapan Keadilan

An An Setianah bertekad untuk melaporkan AS ke pihak kepolisian, dengan dugaan penipuan program dana CSR. Ia berharap langkahnya bisa membuka mata banyak pihak agar tidak ada lagi kepala sekolah yang tertipu atas nama niat baik.

“Saya hanya ingin keadilan. Jangan sampai ada lagi yang bernasib seperti saya,” tutupnya dengan lirih.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan