Gempa Besar Mengguncang Jepang Utara

Gempa berkekuatan 7,5 skala Richter mengguncang wilayah Jepang Utara pada Senin (8/12) malam. Peristiwa ini menyebabkan 23 orang terluka dan memicu gelombang tsunami setinggi 70 sentimeter. Meskipun peringatan tsunami untuk wilayah pesisir Pasifik di Jepang Utara telah dicabut, masih ada potensi gempa susulan dan risiko gempa besar yang harus diperhatikan.
Gempa bumi terjadi sekitar pukul 23.15 di Samudra Pasifik, sekitar 80 kilometer (50 mil) di lepas pantai Aomori, prefektur paling utara di pulau utama Jepang, Honshu. Badan Meteorologi Jepang mencatat bahwa gelombang tsunami setinggi 70 sentimeter tercatat di pelabuhan Kuji di prefektur Iwate, yang berada di selatan Aomori. Selain itu, tingkat tsunami setinggi 50 sentimeter juga melanda beberapa komunitas pesisir di wilayah tersebut.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Nobuo Yamada, pemilik toko swalayan di kota Hachinohe, prefektur Aomori, mengatakan bahwa ia belum pernah mengalami guncangan sebesar ini. Pengalaman tersebut disampaikannya kepada lembaga penyiaran publik NHK.
Dampak Gempa dan Kerusakan
Badan Penanggulangan Bencana dan Kebakaran Jepang melaporkan bahwa 23 orang terluka dalam peristiwa ini. Satu orang mengalami luka serius, sementara sebagian besar korban tertimpa benda jatuh. Beberapa orang terluka di sebuah hotel di Hachinohe, dan seorang pria di Tohoku mengalami luka ringan ketika mobilnya jatuh ke dalam lubang.
Badan Meteorologi Jepang menurunkan catatan magnitudo gempa menjadi 7,5 dari sebelumnya 7,6. Sebelumnya, mereka juga mengeluarkan peringatan potensi tsunami hingga 3 meter di beberapa wilayah, tetapi kemudian menurunkan statusnya menjadi waspada.
Tindakan Darurat dan Persiapan
Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengimbau warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi atau mencari perlindungan hingga peringatan dicabut. Ia menjelaskan bahwa sekitar 800 rumah tanpa listrik, dan kereta peluru Shinkansen serta jalur lokal dihentikan sementara di beberapa wilayah.
Pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah tersebut sedang melakukan pemeriksaan keselamatan. Otoritas Regulasi Nuklir (NRA) melaporkan bahwa sekitar 450 liter air tumpah dari area pendingin bahan bakar bekas di pabrik pengolahan ulang bahan bakar Rokkasho di Aomori. Namun, ketinggian air tersebut masih dalam kisaran normal dan tidak ada masalah keselamatan.
Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi menjelaskan bahwa sekitar 480 warga berlindung di Pangkalan Udara Hachinohe, dan 18 helikopter pertahanan dikerahkan untuk menilai kerusakan. NHK melaporkan bahwa sekitar 200 penumpang terlantar semalaman di Bandara New Chitose di Hokkaido.
Ancaman Gempa Susulan dan Peringatan
Badan Meteorologi mengeluarkan peringatan tentang kemungkinan gempa susulan dalam beberapa hari mendatang. Mereka menyatakan adanya sedikit peningkatan risiko gempa berkekuatan 8 skala Richter dan kemungkinan tsunami yang terjadi di sepanjang pantai timur laut Jepang, mulai dari Chiba hingga Hokkaido.
Badan tersebut mengimbau warga di 182 kotamadya di wilayah tersebut untuk memantau kesiapsiagaan darurat dalam minggu mendatang.
Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan bahwa pemerintah Jepang telah membentuk satuan tugas darurat untuk menilai tingkat kerusakan. "Kami mengutamakan nyawa masyarakat dan melakukan segala yang bisa kami lakukan," ujarnya.
Ia juga mengimbau warga di wilayah tersebut untuk memperhatikan informasi terbaru dari pemerintah daerah setempat. "Harap bersiap agar Anda dapat segera mengungsi begitu merasakan getaran," ujarnya.
Latar Belakang Gempa
Gempa terjadi sekitar 80 kilometer (50 mil) timur laut Hachinohe, dan sekitar 50 kilometer (30 mil) di bawah permukaan laut. Pada 2011, gempa berkekuatan 9,0 skala Richter dan tsunami terjadi tepat di utara Pantai Jepang, menewaskan hampir 20.000 orang dan menghancurkan pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi.
"Anda perlu bersiap, dengan asumsi bencana seperti itu dapat terjadi lagi," kata pejabat divisi gempa bumi dan gunung berapi badan meteorologi, Satoshi Harada.