
Upaya Perdamaian di Timur Tengah Menghadapi Ancaman Kembali
Upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah yang sempat menunjukkan tanda-tanda positif kini berada di ambang kehancuran. Hal ini terjadi setelah Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk ibu kota Beirut, hanya beberapa saat setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran diumumkan. Serangan intens yang masih berlangsung hingga Kamis (9/4) tersebut telah menewaskan lebih dari 300 orang dalam satu hari, menjadikannya salah satu hari paling mematikan sejak konflik melebar pada awal Maret.
Beirut Hancur, Warga Sipil Jadi Korban Utama
Kondisi di Beirut kini digambarkan seperti zona perang total. Tim penyelamat bekerja tanpa henti mencari korban di antara reruntuhan bangunan yang mengakibatkan banyak warga sipil menjadi korban. Seorang tenaga medis di Rumah Sakit American University Beirut menggambarkan situasi yang ia saksikan.
Asap, api, dan teriakan ada di mana-mana. Rasanya seperti film, tapi ini nyata, ujarnya mengutip laporan dari NBC News.
Rumah sakit dipenuhi oleh para korban, termasuk bayi yang datang tanpa orang tua dalam kondisi trauma. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan ratusan korban jiwa dan ratusan lainnya luka-luka, dengan angka yang diperkirakan terus meningkat.
Gencatan Senjata Terancam Runtuh
Serangan Israel langsung mengancam kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden AS, Donald Trump. Kesepakatan tersebut awalnya diharapkan menjadi pintu masuk menuju negosiasi damai antara Washington dan Teheran. Namun, perbedaan tafsir terkait cakupan gencatan senjata, terutama soal Lebanon, membuat implementasinya menjadi kacau.
Iran dan Pakistan menyebut Lebanon termasuk dalam kesepakatan, sementara Israel dan AS menegaskan sebaliknya. Gelombang kecaman internasional terhadap Israel juga terus meningkat. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menyebut eskalasi terbaru sangat merusak. Sementara Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan sulit membenarkan serangan tersebut sebagai tindakan membela diri.
Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, bahkan menyebut serangan itu tidak dapat diterima dan menegaskan bahwa Lebanon harus masuk dalam gencatan senjata. Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa serangan ke Lebanon akan membawa konsekuensi nyata dan respons kuat. Ia menegaskan tidak ada ruang untuk menyangkal bahwa Lebanon seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
AS Minta Israel Menahan Diri
Di tengah situasi ini, pemerintahan AS disebut telah meminta Israel untuk mengurangi intensitas serangan demi menjaga peluang negosiasi. Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tetap bersikukuh melanjutkan operasi militer, sembari membuka kemungkinan negosiasi langsung dengan Lebanon di masa depan.