Gencatan Senjata Hanya Tipuan: Israel Bombardir Lebanon, Iran Serang Negara Teluk

Gencatan Senjata Hanya Tipuan: Israel Bombardir Lebanon, Iran Serang Negara Teluk

Gencatan Senjata Tidak Efektif, Konflik Iran-Israel Berlanjut

Gencatan senjata yang dilaporkan telah diumumkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel serta Iran dalam perang antara kedua kubu tampaknya tidak berjalan sebagaimana harapan. Dalam waktu 48 jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata bersyarat pada 8 April 2026, konflik antara Iran dan Israel tetap berlangsung. Kedua pihak terlihat mengabaikan syarat-syarat utama dari gencatan senjata tersebut.

Kegagalan Gencatan Senjata

Gencatan senjata selama dua minggu dalam perang Iran-Israel-AS tampaknya berada di ambang kehancuran karena kedua pihak tidak mematuhi rencana 15 poin Washington atau 10 poin syarat yang diajukan Teheran. Gencatan senjata ini seharusnya menghentikan serangan langsung AS-Israel terhadap Iran sebagai imbalan atas pembukaan kembali Selat Hormuz dan dimulainya pembicaraan perdamaian. Namun, hingga saat ini, gencatan senjata tampaknya gagal karena kedua belah pihak masih melanggar syarat satu sama lainnya.

Perbedaan Syarat yang Diajukan AS dan Iran

Sementara syarat dari AS menuntut penghentian pengayaan uranium Iran, pembatasan program rudal Iran, dan penghentian dukungan Teheran terhadap kelompok proksi regional, Iran mengajukan syarat yang lebih luas. Tuntutan Iran mencakup pencabutan sanksi, mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, dan penerimaan pengayaan uraniumnya untuk program nuklir damai. Iran juga menuntut penghentian serangan terhadap sekutu mereka seperti Lebanon dan Yaman, serta penarikan pasukan AS dari kawasan tersebut.

Serangan Israel ke Lebanon dan Hizbullah

Setelah pengumuman gencatan senjata, Israel menyatakan bahwa gencatan senjata tersebut tidak mencakup Lebanon dan secara tidak langsung Hizbullah. Di sisi lain, Iran mengisyaratkan bahwa syarat gencatan senjata juga termasuk penghentian serangan terhadap Lebanon dan Hizbullah oleh Israel. Serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan puluhan orang, yang dianggap sebagai pelanggaran langsung terhadap gencatan senjata oleh Iran.

Iran Menyerang Negara-negara Teluk

Di sisi lain, Iran dilaporkan membalas tindakan Israel dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak yang menargetkan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Serangan ini mirip dengan fase awal konflik ketika serangan gabungan AS-Israel pada 28 Maret 2026 menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Beberapa fasilitas minyak Kuwait juga dilaporkan menjadi sasaran.

Pembukaan Selat Hormuz Ditangguhkan

Karena konflik belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, Iran dilaporkan menangguhkan operasi di Selat Hormuz. Hal ini melanggar syarat dari AS agar Iran membuka jalur internasional tanpa batasan. Iran awalnya tampak bersedia membuka jalur dengan sistem "terkontrol" yang dikoordinasikan oleh angkatan bersenjatanya. Namun, situasi kembali ke gangguan transit di Hormuz.

Faktor lain yang menjadi masalah adalah rencana Iran untuk mengenakan biaya lintas melalui Selat Hormuz guna mendanai rekonstruksi. Rencana ini kemungkinan besar tidak dapat diterima oleh negara-negara Teluk, yang bergantung pada jalur air tersebut dan mungkin memandang tindakan tersebut sebagai pemaksaan ekonomi.

Masalah Nuklir Iran Tetap Jadi Kendala

Salah satu poin penting yang masih menjadi kendala adalah program nuklir Iran. Iran bersikeras untuk mempertahankan program pengayaan uraniumnya, bersamaan dengan pencabutan penuh sanksi dan pelepasan aset yang dibekukan. Namun, posisi AS menolak kemungkinan Iran mengembangkan senjata nuklir dan berupaya untuk menetapkan batasan yang dapat diverifikasi pada program nuklir dan rudalnya. Hal ini tetap menjadi kebuntuan utama dalam setiap negosiasi.

Dukungan Iran Terhadap Kelompok Proksi

Iran terus mendukung kelompok-kelompok regional seperti Hizbullah, sesuatu yang ingin dihentikan oleh posisi AS. Operasi Israel yang berkelanjutan di Lebanon dan tidak adanya penarikan militer AS menunjukkan kalau kedua belah pihak tetap bersikeras pada pendirian mereka.