
aiotrade, JAKARTA— Google sedang mengembangkan inovasi baru untuk mengatasi keterbatasan energi di pusat data kecerdasan buatan (AI) yang ada di Bumi. Menurut laporan terbaru, perusahaan tersebut berencana meluncurkan chip AI ke luar angkasa menggunakan satelit bertenaga surya dalam proyek bernama Project Suncatcher. Jika berhasil, proyek ini akan menciptakan pusat data berbasis luar angkasa yang memanfaatkan energi matahari secara terus-menerus di orbit.
Google berharap inisiatif ini menjadi solusi ramah lingkungan untuk memenuhi permintaan komputasi AI yang semakin tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan listrik di Bumi yang sering menimbulkan kekhawatiran terkait emisi karbon dan peningkatan konsumsi energi. Senior Director for Paradigms of Intelligence di Google, Travis Beals, menyatakan bahwa di masa depan, luar angkasa mungkin menjadi tempat terbaik untuk memperluas komputasi AI.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Selain itu, Google juga merilis makalah pra-cetak yang menjelaskan perkembangan awal dari proyek ini, meskipun masih belum melalui proses tinjauan sejawat. Dalam dokumen tersebut, Google menjelaskan rencana penggunaan Tensor Processing Unit (TPU) yang akan mengorbit Bumi melalui satelit dengan panel surya. Panel-panel ini diklaim mampu menghasilkan listrik hampir tanpa henti dan delapan kali lebih efisien dibandingkan panel surya di Bumi.
Namun, beberapa tantangan besar harus dihadapi. Salah satu di antaranya adalah memastikan komunikasi antar-satelit dapat berlangsung pada kecepatan tinggi. Google memperkirakan bahwa koneksi yang diperlukan harus mampu mentransfer data hingga puluhan terabit per detik. Untuk mencapai hal ini, konstelasi satelit harus terbang dalam jarak sangat rapat, hanya beberapa kilometer atau bahkan lebih dekat dibandingkan jarak satelit pada umumnya. Kondisi ini meningkatkan risiko tabrakan di orbit yang sudah penuh dengan sampah antariksa.
Selain itu, perangkat TPU perlu dirancang agar tahan terhadap paparan radiasi tinggi di luar angkasa. Google mengklaim telah melakukan uji coba Trillium TPU sehingga bisa bertahan terhadap dosis radiasi total setara dengan misi lima tahun tanpa kerusakan permanen.
Dari segi biaya, peluncuran chip ke orbit masih tergolong mahal. Namun, analisis internal Google memperkirakan bahwa pada pertengahan 2030-an, biaya pembangunan dan operasional pusat data di luar angkasa dapat menjadi hampir sebanding dengan biaya energi pusat data di Bumi jika dihitung per kilowatt per tahun.
Sebagai langkah awal, Google berencana bekerja sama dengan perusahaan penginderaan Bumi, Planet Labs, untuk meluncurkan dua satelit prototipe pada tahun 2027. Misi tersebut akan menjadi uji coba awal untuk menguji performa perangkat keras Google di orbit.