Greenpeace International mengambil posisi tegas dalam menolak inisiatif yang dikenal sebagai "Belém 4x Pledge" atau komitmen untuk meningkatkan penggunaan biofuel hingga empat kali lipat dalam satu dekade mendatang. Inisiatif ini diusulkan oleh Brasil, India, Italia, dan Jepang dalam Konferensi Perubahan Iklim COP30. Tujuan utamanya adalah melipatgandakan penggunaan biofuel berkelanjutan hingga 2035.
Menurut Greenpeace, ekspansi penggunaan biofuel telah terbukti merugikan lingkungan dan masyarakat. Pengembangan biofuel dinilai sebagai solusi palsu yang tidak efektif dalam mengatasi krisis energi dan iklim. Selain itu, ekspansi ini juga berpotensi mengancam keberadaan hutan, ketersediaan pangan, serta hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kepala Kampanye Solusi untuk Hutan Global Greenpeace, Syahrul Fitra, menyatakan bahwa peningkatan produksi biofuel akan berdampak buruk terhadap wilayah masyarakat adat dan hutan alam. Ia juga memperingatkan bahwa hal ini bisa meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan gambut.
"Tanpa adanya Belém 4x Pledge pun, pemerintah Indonesia sudah memiliki rencana untuk mengorbankan hutan demi proyek-proyek energi seperti biodiesel dan bioetanol. Inisiatif ini hanya akan menjadi legitimasi bagi penghancuran hutan dan pencurian wilayah masyarakat adat atas nama energi hijau, padahal biofuel jelas-jelas bukan solusi yang tepat," ujar Fitra dalam pernyataan resmi.
Bioenergi dan Hak Masyarakat Adat
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Refki Saputra, menjelaskan bahwa Proyek Strategis Nasional (PSN) kebun tebu dan bioetanol di Merauke adalah contoh nyata bagaimana bioenergi dapat menghancurkan hutan dan merampas hak-hak masyarakat adat.
"Perhitungan kami menunjukkan bahwa pembukaan lahan seluas 560.000 hektare vegetasi alami dapat menghasilkan emisi setara dengan 221 juta ton CO₂ atau setara 48 juta emisi mobil dalam setahun," kata Refki. Hal ini membuat target iklim Indonesia yang disampaikan di COP30 Belém menjadi sulit dicapai.
Refki juga memberikan contoh area seluas 380.000 hektare di Kabupaten Merauke dan Boven Digoel yang baru saja ditetapkan pemerintah untuk memproduksi bahan bakar biodiesel B50. Jika dikonversi, lanskap tersebut akan melepaskan emisi setara 162 juta ton gas CO₂ ke atmosfer.
Selain Greenpeace, World Resources Institute (WRI) juga menyatakan kekhawatiran terhadap inisiatif ini. Menurut WRI, inisiatif tersebut berpotensi memperluas konversi lahan dan memicu deforestasi karena dunia membutuhkan lebih banyak lahan untuk kebutuhan pangan. Ini menunjukkan bahwa pengembangan biofuel tidak hanya tidak efektif, tetapi juga berisiko terhadap lingkungan dan masyarakat.