Kehidupan yang Diwujudkan dalam Lagu
Di usia senjanya, Grego Julius tak berhenti menulis nada. Baginya, musik bukan sekadar karya, melainkan doa yang hidup dalam irama. Melalui konser keempatnya bertajuk Grego Julius Orchestra, yang digelar di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada Sabtu (18/10/2025), ia menepati nadar atau janji lama kepada Tuhan, untuk mempersembahkan lagu-lagu syukur atas panjang usia dan kasih yang ia terima.
“Ceritanya saya menulis syair ini, permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kami bersyukur, bersukacita, bergembira, dan memuji nama Tuhan,” ujar Grego di sela konser yang digelar penuh nuansa rohani dan refleksi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Dalam konser tersebut, pemilik nama asli Edi Widianto atau yang kini dikenal Grego Julius ini membawakan 22 lagu ciptaannya sendiri. Lagu-lagu itu hadir dalam berbagai warna dari pop, klasik, jazz, hingga bossanova. Namun, semua berakar pada satu semangat, musik sebagai bentuk doa.
“Kebanyakan lagu yang saya tulis itu lagu rohani untuk di gereja, tapi ada juga lagu pop yang sifatnya pribadi. Semuanya karya saya sendiri,” terang Grego sebelum naik panggung.
Janji yang Ditepati di Usia 70 Tahun

Grego bercerita, perjalanan musikalnya bermula pada tahun 2002. Saat itu, ia mulai menulis lagu-lagu yang lahir dari permenungan dan pengalaman hidupnya sendiri. Setiap bait menjadi catatan batin, setiap nada adalah ungkapan syukur atas perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
Pada usia 70 tahun, Grego menepati sebuah janji lama yang pernah ia ucapkan sebuah janji yang ia sebut sebagai nadar. “Orang Jawa bilangnya nadar atau janji. Saya pernah berjanji, kalau diberi umur panjang sampai 70 tahun, saya akan mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara menulis lagu,” tuturnya lembut.
Dari janji yang sederhana namun penuh makna itu, lahirlah tiga volume karya terbaru volume 6, 7, dan 8 yang seluruhnya ia persembahkan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Doa dan ucapan terima kasih saya, semuanya saya tulis dalam lagu-lagu itu. Dan hari ini, saya konserkan sebagai bentuk syukur saya,” ujarnya.
Lahir pada 25 September 1954, Grego baru saja genap berusia 71 tahun. Di usia senja, ia membuktikan bahwa syukur dapat terus hidup dalam bentuk musik di setiap nada yang ia tulis, dan dalam setiap doa yang bisa dinyanyikan.
Lagu dari Luka dan Air Mata

Dari dua puluh dua lagu yang dibawakan, dua di antaranya punya kisah paling personal bagi Grego. Ia menjelaskan lagu yang pertama, lagu Aku Mohon Ampun. Lagu ini lahir dari masa yang berat dalam hidupnya, ketika Grego jatuh sakit selama tiga bulan tanpa sebab yang jelas. Ia mengaku sudah menempuh berbagai cara, berobat ke dokter, menjalani pengobatan tradisional, bahkan mendatangi dukun. Namun tak satu pun yang membawa kesembuhan.
“Saya bingung sakitnya apa. Tiga bulan tidak sembuh-sembuh. Saya berdoa juga tidak sembuh, ke dokter tidak sembuh, sampai ke dukun pun tidak sembuh,” kenangnya. Ketika rasa putus asa mulai datang, ia tersadar bahwa sakit yang dideritanya bukan semata fisik, melainkan depresi karena gangguan hormon. Dari kesadaran itu, ia belajar tentang makna pasrah dan penyesalan.
“Ternyata itu pelajaran dari Tuhan. Saya menulis lagu ‘Aku Mohon Ampun’ sebagai bentuk pertobatan dan permohonan ampun kepada-Nya,” ujarnya. Lagu itu menjadi penanda titik balik dalam perjalanan spiritual Grego sebuah karya yang selalu ia bawa ke mana pun ia konserkan, karena di sanalah tersimpan doa dan kesembuhan yang ia rasakan sendiri.
Lagu kedua lahir dari peristiwa yang tak kalah menggetarkan, saat anak bungsunya berpamitan menikah. “Saya punya lima anak, yang terakhir baru menikah. Saat sungkem, saya menulis lagu itu sambil menangis. Karena setelah itu, saya tinggal berdua saja dengan istri,” tutur pria kelahiran 25 September 1954.
Bagi Grego, kedua lagu tersebut bukan sekadar karya musik. Keduanya adalah cermin perjalanan hidup dari luka menuju doa, dari air mata menuju rasa syukur. Melalui nada dan lirik, ia menuturkan kisah tentang kehilangan, penyesalan, dan kasih Tuhan yang mengubah luka menjadi harmoni.
Musik yang Menyatukan Doa

Lebih dari sekadar ekspresi iman pribadi, Grego berharap lagu-lagunya bisa menjadi jembatan doa bagi siapa pun yang mendengarkan. “Saya ingin lagu-lagu ini bisa mengantarkan orang untuk berdoa. Kalau di dalam lirik saya menyebut Tuhan Yesus, bisa juga diganti menjadi Allah. Karena yang penting bukan sebutannya, tapi makna doanya,” paparnya.
Bagi Grego, musik adalah bahasa universal yang bisa menyatukan hati manusia, tanpa sekat keyakinan. Ia percaya, setiap nada bisa menjadi jalan untuk bersyukur dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Konser Doa dan Syukur kali ini menjadi konser keempat yang digelar bersama Grego Julius Orchestra. Persiapannya memakan waktu sekitar empat bulan, melibatkan banyak musisi lintas generasi. Rencananya, konser serupa akan kembali digelar tahun depan, mungkin di luar kota.
“Harapan saya, konser ini bisa menjadi sarana untuk mengajak orang berdoa melalui musik,” tutupnya dengan senyum tenang.