
Sambal Bakar Indonesia Group (SBIG) secara resmi mengakuisisi brand Eat Sambel yang memiliki valuasi ratusan miliar rupiah. Pengumuman ini dilakukan dalam konferensi pers pada Jumat (12/12/2025) di gerai Sambal Bakar Indonesia Alam Sutera, yang turut dihadiri oleh jajaran direksi dan komisaris SBIG serta Founder Eat Sambel.
Langkah strategis ini menandai babak baru ekspansi besar SBIG dalam memperkuat portofolio bisnis di sektor fast moving consumer goods (FMCG)/consumer packaged goods (CPG) secara lebih agresif. Tujuannya adalah membangun ekosistem kuliner sambal yang lebih modern, terintegrasi, dan kompetitif hingga level global.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
CEO Sambal Bakar Indonesia Group Richard Theodore menyatakan bahwa akuisisi ini bukan sekadar strategi bisnis, tetapi bagian penting dari visi SBIG memperkuat ekosistem bisnis sambal di Indonesia dan membawanya ke level nasional bahkan global.
"SBIG memiliki misi membangun ekosistem kuliner sambal yang kuat dan terintegrasi. Eat Sambel sudah punya fondasi digital solid, basis pelanggan yang luas, dan positioning yang relevan di pasar sambal. Dengan menggabungkan kekuatan ini, kami ingin memperkuat rantai pasok, inovasi produk, hingga ekspansi ke seluruh Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers pada Jumat (12/12/2025).
Director of Corporate Communication & Relations SBIG Benjamin Master Adhisurya menjelaskan bahwa pasca mengakuisisi Eat Sambel, SBIG menargetkan sinergi pada tiga sektor utama. Pertama dari sisi produk dengan menggabungkan kekuatan inovasi resep dan varian rasa dari kedua brand sehingga akan memperkaya portofolio sambal siap saji di pasar nasional. Kedua dari sisi operasional akan ada integrasi gudang, distribusi, dan rantai pasok untuk meningkatkan efisiensi logistik secara signifikan. Ketiga dalam hal brand identity dengan menjaga Eat Sambel sebagai sub-brand di bawah SBIG, dengan karakter khasnya.
Menurut Benjamin, dengan menyatukan dua brand yang sama-sama kuat, SBIG kini berada pada posisi yang lebih strategis di industri sambal modern. Akuisisi ini memungkinkan SBIG memperkuat kehadiran rantai pasok, kualitas produk, dan perluasan pasar.
“Produk sambal adalah DNA kami. Dengan sinergi jaringan restoran dan FMCG, kami ingin sambal hadir sebagai pendamping utama makanan masyarakat Indonesia, baik di restoran maupun konsumsi rumahan,” jelasnya.
Director Of Marketing & Branding SBIG Renaldo Akhira Ruslan mengatakan bahwa untuk memperluas jaringan bisnisnya, SBIG tengah menyiapkan skema distribusi digital dan offline. Distribusi secara digital dilakukan dengan memperkuat kehadiran di TikTok Shop, Shopee, dan Tokopedia melalui kampanye kreator serta strategi konten tematik nasional. Adapun offline, langkah yang diambil adalah memperluas distribusi ke jaringan modern retail dan general trade.
Dengan akuisisi ini, SBIG menargetkan peningkatan kontribusi FMCG menjadi lebih dari 50% dari total revenue dalam jangka waktu 5 hingga 10 tahun ke depan, sekaligus memperkuat posisi sebagai brand kuliner nasional berbasis budaya rasa Indonesia.
“Kontribusi penjualan FMCG kami saat ini masih di bawah 10%. Dalam 1 hingga 2 tahun ke depan kami menargetkan pertumbuhan dua kali lipat dan secara jangka panjang, ditargetkan kontribusi FMCG bisa lebih dari 50% dari total revenue perusahaan,” ujarnya.
Iben Ma mengatakan aksi korporasi ini lebih dari sekedar akuisisi bisnis, SBIG membawa misi yang lebih besar yakni menjadikan sambal sebagai identitas kuliner nasional yang modern, berdaya saing, dan dicintai lintas generasi.
"Kami ingin membuktikan bahwa brand kuliner Indonesia bisa naik kelas, menjadi grup nasional yang kuat dan kompetitif secara global dan itu semua dimulai dari satu rasa yang sangat Indonesia yaitu sambal," imbuh pria yang juga influencer media sosial tersebut.
Eat Sambel sendiri dikenal sebagai salah satu pionir sambal online yang populer di kalangan pelanggan digital karena menghadirkan sambal autentik dengan sentuhan modern. Berangkat dari dapur rumahan, kini Eat Sambel telah menjual lebih dari 26 juta botol di seluruh Indonesia dan meraih berbagai penghargaan di marketplace.
“Bergabung dengan SBIG memberikan kami ruang yang jauh lebih besar untuk tumbuh, memperluas distribusi ke berbagai kanal, serta mengembangkan varian sambal Nusantara yang lebih inovatif. Ini momentum baru bagi Eat Sambel,” ujar Yansen Gunawan, Co-Founder Eat Sambel.
Sejak didirikan pada 2022, SBIG fokus mengelola jaringan restoran sambal bakar dengan menu khas Nusantara, yang kini telah memiliki lebih dari 30 gerai di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Bali, dan kota-kota lainnya. Dalam tiga tahun, pertumbuhan bisnis terbilang cukup agresif, mencapai lebih dari 2.000%. Selain itu, Sambal Bakar Indonesia juga telah melayani lebih dari 15 juta pelanggan dan menjual lebih dari 150 juta item dengan basis produk sambal dan menu khas Nusantara.