
Keseimbangan Lingkungan dalam Pembangunan Nasional
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Tubagus Ace Hasan Syadzily, menyoroti pentingnya keseimbangan lingkungan dalam berbagai program pembangunan nasional, khususnya di bidang ekonomi. Pernyataan ini disampaikan dalam refleksi dan rilis akhir tahun 2025 serta Outlook 2026, yang diungkapkan pada Selasa (16/12/2025).
Ace menjelaskan bahwa pembangunan nasional atau pengelolaan sumber kekayaan alam yang tidak memperhatikan prinsip keseimbangan lingkungan dapat berujung pada potensi krisis sosial dan ekonomi. Ia menegaskan bahwa ketika pengelolaan sumber daya alam mengabaikan prinsip keberlanjutan, risiko ekologis akan meningkat, dan pada akhirnya bisa menyebabkan krisis.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bencana banjir dan longsor di Sumatera menjadi contoh nyata bahwa pembangunan nasional harus lebih terintegrasi dengan agenda mitigasi risiko bencana dan keberlanjutan lingkungan. Perubahan iklim, kata Ace, menjadi tantangan multidimensional yang akan berdampak langsung pada geografi, ekonomi, sumber daya alam, dan keamanan nasional.
Tahun 2026, menurut Ace, tidak boleh hanya dipandang sebagai kelanjutan dari agenda pembangunan, tetapi juga sebagai fase konsolidasi nasional untuk memperkuat daya tahan bangsa menghadapi ketidakpastian.
Kondisi Ketahanan Nasional Indonesia
Lemhannas mencatat bahwa ketahanan Indonesia berada pada kategori cukup tangguh dengan skor 2,84 sepanjang tahun 2025. Data ini merupakan hasil dari Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasional (Labkurtannas). Skor tersebut berlaku pada sektor politik, ekonomi, serta sumber kekayaan alam.
Ace menyatakan bahwa selama tahun 2025, Indonesia berada pada posisi kondisi cukup tangguh dengan tren penguatan yang stabil. Namun, ada beberapa sektor yang perlu mendapat perhatian khusus. Salah satunya adalah gatra sosial budaya, karena masih rentan adanya disinformasi, polarisasi digital, serta penetrasi nilai-nilai eksternal yang berpotensi menggerus karakter kebangsaan.
Selain itu, sektor pertahanan dan keamanan juga harus mendapat perhatian yang seksama, terutama dalam peningkatan kemandirian industri pertahanan. Dalam refleksi strategis tahun 2025, Lemhannas menyimpulkan bahwa stabilitas nasional secara umum tetap terjaga dalam bingkai konsolidasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, untuk menghadapi 2026, Indonesia masih dihadapkan pada berbagai dinamika. Ace menyebutkan empat tantangan ketahanan nasional yang perlu dihadapi:
- Dampak rivalitas kekuatan besar global: Indonesia dituntut mampu mempertahankan posisi sebagai kekuatan penyeimbang atau balancing force, sekaligus menjadi kekuatan konstruktif atau constructive power dalam dinamika Indo-Pasifik, BRICS, ASEAN, dan G20.
-
Perebutan sumber daya alam kritis dunia, seperti nikel, bauksit, tembaga, dan logam tanah jarang, akan semakin intensif. Indonesia harus mampu memperkuat kebijakan hilirisasi, memperluas rantai pasok domestik, serta memastikan tata kelola yang transparan dan berkeadilan.
-
Ketahanan nasional dalam kondisi nasional: Isu ketahanan nasional yang meliputi penguatan industri pertahanan, ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan ideologi diproyeksikan sebagai fase penting untuk konsolidasi pencapaian program prioritas nasional yang akan menjadi pondasi utama keberhasilan Astacita.
-
Perubahan iklim: Tantangan multidimensional ini akan berdampak langsung pada geografi, ekonomi, sumber daya alam, dan keamanan nasional.
-
Ketika pengelolaan sumber kekayaan alam mengabaikan prinsip keseimbangan dan keberlanjutan, risiko ekologis akan meningkat dan pada akhirnya bermuara pada potensi terjadinya krisis sosial dan ekonomi.
-
Perkembangan teknologi informasi dan artificial intelligence: Teknologi ini akan semakin mempercepat kemajuan tatanan kehidupan dengan berbagai dampaknya.
- Oleh karena itu, Indonesia harus segera menguatkan ekosistem berbagai sektor yang berbasis digital, disertai SDM unggul yang berbasis science, technology, engineering, and mathematics (STEM).